Postingan

Menampilkan postingan dengan label tionghoa

Menyusur Pecinan Tangerang

Gambar
Senja di Cisadane, Kota Tangerang Hayo siapa di sini yang anak Tangerang? Dua minggu lalu, aku berkesempatan untuk jalan-jalan ke kota Tangerang. Banyak temen-temenku yang heran, wisata kok ke Tangerang? Emang ada wisata apaan di Tangerang? Tenang! Tenang! Mari aku ceritakan perjalananku di Tangerang yang luar biasa mencerahkan!  Pertama-tama, ada di sini yang tahu asal-usul kota Tangerang? Menurut artikel Sejarah Kota Tangerang dalam Live Tangerang Magazine , daerah Tangerang itu dulunya dikenal dengan sebutan Tanggeran, yang berasal dari bahasa Sunda, yaitu tengger dan perang. Kata 'tengger' memiliki arti 'tanda', yang merujuk pada tugu yang didirikan sebagai tanda batas wilayah kekuasaan Kesultanan Banten dan VOC sekitar pertengahan abad ke-17. Selain tugu, batas wilayah juga dipisahkan oleh Sungai Cisadane. Wilayah sisi barat merupakan kekuasaan kesultanan Banten. Sisi timur merupakan wilayah kekuasaan VOC. Baik Kesultanan Banten dan VOC, sama-sa...

Tjong Bersaudara dan Komunitas Tionghoa Medan

Gambar
Tjong A Fie Mansion, salah satu jejak peninggalan Tjong A Fie di Kota Medan "Medan sebagai pusat perkebunan di Sumatera Timur dijiwai oleh semangat kemajuan dan keberanian, serta semangat kerja keras. Di sini orang tak menyukai kelambanan!"  Kutipan di atas aku cuplik dari buku Komunitas Cina di Medan: Dalam Lintasan Tiga Kekuasaan 1930-1960 karya Nasrul Hamdani (2013). Kutipan yang sangat kuat dan tepat untuk menggambarkan seperti apa kota Medan hari ini, utamanya komunitas Tionghoa Medan, dan sejarah macam apa yang membuat Medan demikian.    Pengembangan kota Medan mulai berjalan sejak Jacobus Nienhuys bersama koleganya pindah ke kampung Medan dan mendirikan Deli Maatschappij , sebuah perusahaan budi daya tembakau setelah mendapat izin dari Sultan Deli pada tahun 1869. Sebelumnya, pada 1863, Elisa Netscher yang mewakili pemerintah Belanda menginjakkan kakinya di Sumatera Timur dan menyodorkan kontrak penyewaan tanah kepada Sultan Deli. Setelah mendapat ...

Menyusuri Jalan Pikiran Drs. Yap Tjwan Bing

Gambar
Jl Drs Yap Tjwan Bing di kota Solo Tahukah kamu bahwa di Indonesia ada seruas jalan yang dinamai dengan nama Tionghoa? Bila tidak, ayo ke Solo, Jawa Tengah. Di sana, ada seruas jalan yang bernama jalan Drs. Yap Tjwan Bing. Jalan ini diresmikan pada momentum perayaan Imlek tahun 2008 oleh Joko Widodo, Walikota Solo menggantikan jalan Jagalan.  "Dengan momentum perayaan Imlek 2559 ini, Pemkot Solo memberikan penghargaan setinggi-tingginya untuk tokoh nasional Yap Tjwan Bing sebagai nama salah satu jalan di Solo," kata Joko Widodo seperti yang dilansir dari liputan 6 .   Buat yang belum kenal siapa itu Yap Tjwan Bing, berikut ini aku ringkas profil, kiprah dan gagasan beliau tentang kebangsaan Indonesia. Sebagian besar ringkasan ini aku kutip dari buku otobiografinya yang berjudul Yap Tjwan Bing Meretas Jalan Kemerdekaan: Otobiografi Seorang Pejuang Kemerdekaan terbitan Gramedia tahun 1988.  Yap Tjwan Bing lahir di Slompretan, Solo pada tanggal 31 ...

Memohon Rezeki di Klenteng Hok Lay Kiong

Gambar
Klenteng Hok Lay Kiong (dok pribadi) Saat ke Bekasi beberapa waktu lalu , aku menyempatkan diri bersembahyang di Klenteng Hok Lay Kiong, yang merupakan Klenteng tertua di Bekasi! Klenteng ini letaknya agak menyempil dari jalan besar di daerah pasar proyek, dekat Bekasi Junction. Letak persisnya ada di Jalan Kenari I, Bekasi Timur. Hok Lay Kiong secara harfiah dapat diartikan sebagai istana yang mendatangkan rezeki! Tidak ada yang tahu pasti kapan pertama kali Klenteng ini berdiri. Menurut Asin, kepala keamanan di klenteng Hok Lay Kiong, klenteng ini tidak diketahui siapa pendirinya, dan tidak ada data peninggalan dari pengurus terdahulu.  "Sayang, padahal sering banyak yang tanya kapan berdirinya, tapi pihak pusat sendiri tidak tahu, apalagi saya," ujar Asin seperti yang dikutip dari Republika Online . Dinas Pariwisata Pemprov Jawa Barat menyebutkan bahwa Klenteng ini dibangun pada abad ke-18 Masehi. Bangunan Klenteng Hok Lay Kiong m engalami beberapa kali...

Ho Wan Moy, Sang Srikandi Indonesia

Gambar
Ho Wan Moy dalam buku Tionghoa dalam Keindonesiaan Sore santai di minggu lalu, ceritanya aku meneruskan baca buku Tionghoa dalam Keindonesiaan yang enggak selesai-selesai dibaca. Di salah satu bab, aku menemukan sosok Ho Wan Moy. Duh Gusti, mau mbrebes mili .... Didi Kwartanada dalam buku Tionghoa dalam Keindonesiaan, mengutip Majalah Suara Baru edisi Maret-April 2008 yang mengemukakan sosok Ho Wan Moy, yang di kemudian hari berganti nama menjadi Tika Nurwati. Ho Wan Moy berasal dari Jawa Tengah. Sejak usia 13 tahun terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Sebelum memberanikan diri terjun ke kancah pertempuran, perempuan yang dipanggil "Amoy" oleh para tentara Republik ini harus mengalahkan trauma dan ketakutan saat seorang laki-laki mengancam membunuhnya karena ketionghoaannya.  Lisa Soeroso dalam blognya mengutip trauma Ho Wan Moy,   "Saya sedang jaga warung, masih sangat muda," kenangnya. Itulah pertama kali ia mera...

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Gambar
Nyonya Auw Tjoei Lan, sumber: majalah detik Sebentar lagi Hari Kartini, tapi aku tidak akan menulis tentang Kartini, melainkan aku akan menulis tentang Nyonya Auw Tjoei Lan, atau yang dikenal juga dengan Nyonya Lie Tjian Tjoen. Siapa dia? Menurut tulisannya Myra Sidharta yang berjudul Ny. Lie Tjian Tjoen, Perempuan yang Peduli dalam buku Tionghoa dalam Keindonesiaan , Nyonya Auw Tjoei Lan lahir di Majelengka pada 1889. Dia putri ketiga dari keluarga Auw Seng Hoe, seorang kapitan Cina di daerah itu. Kapitan Auw merupakan tuan tanah yang kaya raya. Di atas tanahnya, dia menanam tebu yang kemudian diolah sebagai gula di pabriknya sendiri. Kapitan Auw sangat peduli terhadap para gelandangan dan penyandang tuna netra di daerahnya. Dia menyediakan makanan dan mendirikan beberapa gubuk untuk mereka. Dia menugaskan semua putra-putrinya untuk membantu. Auw Tjoei Lan sendiri mendapatkan tugas memberikan makanan kepada tuna netra. Auw Tjoei Lan harus memeriksa makanan dan jika ada ika...

Mengenal Vihara Lupan yang Terlupakan

Gambar
Pintu Depan Vihara Lupan, Pinangsia, Jakarta Barat Dari Vihara Bahtera Bhakti atau Klenteng Nyai Ronggeng di Ancol , perjalanan menyusuri jejak-jejak sejarah Tionghoa, kulanjutkan sampai ke Vihara Lupan. Vihara Lupan atau sering juga dieja Lu Ban terletak di jalan Pinangsia 1, tak jauh dari LTC Glodok. Tepat di samping vihara ini terdapat sekolah Suci Hati. Vihara Lupan boleh jadi tak seterkenal Klenteng Jin De Yuan di Petak Sembilan, tapi vihara ini juga menyimpan banyak cerita sejarah yang menarik.  Menurut Handinoto dalam buku Tionghoa dalam Keindonesiaan: Peran dan Kontribusi Bagi Pembangunan Bangsa, Klenteng Lu Pan dibangun oleh serikat tukang kayu dari Guang Dong, pada abad ke-19. Klenteng ini dibangun dan dipersembahkan secara khusus kepada Lu Ban Gong yang mereka anggap sebagai dewa pelindung para tukang kayu. Selain di sini, ada dua lagi klenteng yang dibangun oleh tukang kayu, satu di Selatan kali Angke dan satu lagi di Surabaya. Orang Tionghoa dari suku...

Mengenal Klenteng Nyai Ronggeng di Ancol

Gambar
Pintu Depan Vihara Bahtera Bhakti atau Klenteng Nyai Ronggeng Minggu lalu, aku pergi ke Vihara Bahtera Bhakti di Ancol. Vihara ini dikenal juga dengan sebutan Klenteng Nyai Ronggeng. Aku ke klenteng ini karena penasaran dengan sejarahnya setelah membaca buku Tionghoa dalam Keindonesiaan: Peran dan Kontribusi Bagi Pembangunan Indonesia yang baru saja diluncurkan. Dalam buku itu, Sumanto Al Qurtuby menyebutkan bahwa  klenteng ini dihubung-hubungkan dengan Sampo Soei Soe, seorang Tionghoa Muslim yang menjadi juru masak Cheng Ho. Kisahnya pada waktu Cheng Ho ekspedisi ke Sunda Kelapa, sang juru masak jatuh cinta dengan penari ronggeng setempat yang bernama Siti Wati. Karena saling jatuh cinta, keduanya akhirnya menikah. Ketika mereka meninggal, mereka dikuburkan di kompleks klenteng ini bersama mertuanya yang bernama Said Areli. Sumanto mendasarkan pendapatnya tersebut pada cerita lisan yang dirilis ulang oleh Lee Khoon Choy dalam Indonesia Between Myth and Reality. ...

Liburan Seru Imlekan di Lasem

Gambar
Salah satu tembok di kawasan pecinan Lasem Halooo semua! Mohon maaf nih, lama enggak nulis, maklum baru pulang liburan Imlek dari Lasem, Jawa Tengah. Nah, di postingan kali ini, aku akan menceritakan pengalamanku, liburan seru ke Lasem "Tiongkok Kecil".  Pertama-tama, kita kenalan dulu sama Lasem. Lasem secara administrasi merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pusat kota Lasem ada di sepanjang jalan pantura yang menghubungkan sekitar dua puluh desa. Jumlah penduduk di Lasem, kurang lebih empat puluh lima ribu orang (Sensus 2012).   Untuk ke Lasem dari Jakarta, ada banyak pilihan moda transportasi, bisa naik bis langsung ke Lasem, atau naik kereta api/pesawat ke Semarang, lalu nyambung bis ke Lasem. Kalau aku sih lebih baik naik bis, biar enggak repot ganti kendaraan. Selain itu, juga agar bisa menikmati romantisme jalan raya pantura, yang dulunya bernama jalan raya pos. Perjalanan dengan bis dari Jakarta ke Lasem sekitar 12-14 j...