Mengenal Vihara Lupan yang Terlupakan

Pintu Depan Vihara Lupan, Pinangsia, Jakarta Barat
Dari Vihara Bahtera Bhakti atau Klenteng Nyai Ronggeng di Ancol, perjalanan menyusuri jejak-jejak sejarah Tionghoa, kulanjutkan sampai ke Vihara Lupan. Vihara Lupan atau sering juga dieja Lu Ban terletak di jalan Pinangsia 1, tak jauh dari LTC Glodok. Tepat di samping vihara ini terdapat sekolah Suci Hati. Vihara Lupan boleh jadi tak seterkenal Klenteng Jin De Yuan di Petak Sembilan, tapi vihara ini juga menyimpan banyak cerita sejarah yang menarik. 

Menurut Handinoto dalam buku Tionghoa dalam Keindonesiaan: Peran dan Kontribusi Bagi Pembangunan Bangsa, Klenteng Lu Pan dibangun oleh serikat tukang kayu dari Guang Dong, pada abad ke-19. Klenteng ini dibangun dan dipersembahkan secara khusus kepada Lu Ban Gong yang mereka anggap sebagai dewa pelindung para tukang kayu. Selain di sini, ada dua lagi klenteng yang dibangun oleh tukang kayu, satu di Selatan kali Angke dan satu lagi di Surabaya.

Orang Tionghoa dari suku Konghu, telah turun temurun menetap di Jawa. Mereka berprofesi sebagai tukang yang ahli dalam pengerjaan kayu dan batu. Kedatangan tukang kayu dari Tiongkok ke Jawa diduga melalui dua tahap. Pertama, tukang kayu dari Kanton yang datang ke Jawa sebelum abad ke-17. Tukang kayu inilah yang menularkan keahlian kepada tukang setempat. Kedua, mereka yang datang setelah abad ke-18. Keterlibatan para ahli pertukangan kayu dari Tiongkok di Nusantara terus berlanjut sampai abad 19 dan 20. Mereka dikenal piawai mengolah dan membuat perabotan serta konstruksi kayu.

Dalam buku Arus Cina-Islam-Jawa, Sumanto Al Qurtuby menyebutkan bahwa sejarah tutur di masyarakat Jepara mengaitkan seni ukir yang berkembang di Jepara dengan tokoh Cie Wie Gwan, seorang Tionghoa Muslim yang ahli dalam seni ukir. Karena keahliannya, Cie Wie Gwan  dijuluki Sungging Badar Duwung yang kurang lebih berarti seseorang yang ahli memahat batu secara halus. Makam tokoh ini berada di antara makam Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat di Mantingan. Makam Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat juga penuh degan hiasan ukir yang bernilai tinggi.

Tokoh lainnya adalah Sun Ging An yang kemudian menjadi nama daerah Sunggingan di Kudus. Sunggingan sendiri secara bahasa berarti tempat nyungging atau mengukir, yang berasal dari aktivitas mengukir yang dilakukan oleh Sun Ging An. Gaya Sunggingan berkembang pesat dan menjadi salah satu unsur pokok bagi perkembangan arsitektur rumah trandisional Kudus. 

Kembali ke Klenteng Lupan. Dari klenteng ini, dapat diketahui bahwa para tukang kayu di masa itu telah hidup terorganisir. Mereka tinggal bersama dan pindah dari satu proyek ke proyek lainnya. Kalau sekarang, mungkin mirip dengan serikat buruh atau ikatan profesi yang mengorganisir dirinya. 

Klenteng ini juga mematahkan anggapan bahwa para orang Tiongkok yang datang ke Nusantara tidak memiliki keahlian apa-apa. Sebaliknya, orang-orang Tiongkok khususnya yang datang dari daerah Guang Dong, memiliki keahlian di bidang ukir dan pahat, yang selanjutnya mewarnai seni ukir dan pahat di Indonesia. 

Setelah membaca tulisan ini, share pendapat kamu di kolom komentar yaa! 

Sumber:
Tionghoa dalam Keindonesiaan: Peran dan Kontribusi Bagi Pembangunan Bangsa
Arus Cina-Islam-Jawa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Apakah PR Harus Cakep?