Postingan

Menampilkan postingan dengan label 1998

Clara yang Tak Boleh Dilupakan

Gambar
Opera Clara, sumber: Kita Anak Negeri Namanya Clara, matanya sipit, sama seperti kebanyakan gadis-gadis Tionghoa lainnya. Sehari-hari, ia mengurusi bisnis Ayahnya. Ia menjalani hari-hari sebagaimana mestinya, sampai peristiwa itu terjadi. Ya, Tragedi Mei 1998 menyisakan luka besar menganga dalam dirinya. Ada ruang kosong dalam hatinya sejak kejadian itu. Mobilnya dicegat oleh sekelompok massa di jalan tol. Ia diperkosa beramai-ramai. Ia menjadi satu dari setidaknya 85 perempuan korban perkosaan massal yang terjadi dalam tragedi itu. Clara menyisakan pilu yang mendalam, menyayat-nyayat perih bagi siapa saja yang datang ke Taman Ismail Marzuki, 13-14 Desember lalu. Komnas Perempuan bersama Indonesia untuk Kemanusiaan dan sejumlah mitra lainnya menyelenggarakan pagelaran Opera yang berjudul Clara. Opera karya Ananda Sukarlan ini dipentaskan dengan begitu apik sore itu. Perpaduan vokal, musik, drama dan permainan lampu yang menawan sukses meninggalkan jejak mendalam di benak set...

Resensi Buku: Tragedi Mei 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan

Gambar
Tragedi Mei 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan! Membaca buku ini serasa berjalan di lorong-lorong penuh tanda tanya tentang apa yang terjadi di pertengahan bulan Mei di tahun 1998. Lembar demi lembar mengantarkan kita pelan-pelan menyibak segala misteri yang menyelimuti tragedi paling mencekam di akhir abad ke-20. Buku ini ditulis dengan sangat baik dan runut oleh seorang jurnalis, kontributor Tempo di Australia yang bertugas waktu itu. Seperti khasnya laporan jurnalistik, buku ini ditulis secara gamblang, apa adanya. Peristiwa kelam itu dituliskan dengan terang benderang berdasarkan pengamatan dan wawancara dari para pelaku sejarah. Tak seperti laporan pelanggaran HAM lainnya, buku ini ditulis dengan renyah. Kata-kata yang dipilih penulis lugas dan tegas tanpa kesan jelimet . Membaca kalimat demi kalimat ibarat sedang menonton sebuah pertunjukan opera musikal yang sangat dimudah untuk dicerna. Penonton dibawa ke dalam alur cerita menit per menit. Detail-detail kejadian y...

Aku Jatuh Cinta pada Komnas Perempuan dan Segala Perjuangannya

Gambar
Kantor Komnas Perempuan, diambil dari Tempo.co Tulisan ini aku persembahkan untuk Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau yang biasa kita kenal dengan Komnas Perempuan. Tulisan ini aku beri judul Aku Jatuh Cinta pada Komnas Perempuan dan Segala Perjuangannya. Tulisan ini aku tulis pula sebagai bagian dari merawat ingatan kolektif dan juga sebagai jawaban dari berbagai pihak yang senantiasa bertanya mengapa aku memilih Komnas Perempuan. Aku bagi tulisan ini ke dalam tiga bagian, awal jumpa, jatuh cinta, dan peneguhan cinta. Awal Jumpa. Mungkin ini yang dinamakan Takdir Ilahi. Aku pertama kali berkenalan dengan Komnas Perempuan itu jelang akhir tahun 2011. Waktu itu aku sedang ada di halte busway Bendungan Hilir, aku lupa hendak ke mana. Aku melihat ada sebuah spanduk besar dengan warna pink yang sangat menarik perhatian. Spanduk itu tergantung di halaman kampus Unika Atmajaya, menghadap ke jalan Sudirman. Di spanduk itu ditulis Kampanye 16 Hari untuk ...