Postingan

Menampilkan postingan dengan label jurnalis

Korban Kekerasan Seksual, Dilecehkan Pelaku dan Media

Gambar
Suasana Diskusi di Komnas Perempuan Ibarat kata pepatah, “ sudah jatuh tertimpa tangga pula”, begitulah nasib korban kekerasan seksual. Sudah menjadi korban oleh pelaku, menjadi korban lagi dari pemberitaan media yang mengstigmatisasi korban. Pemberitaan media yang secara gamblang menyebut identitas korban semakin membuat korban kejahatan seksual merasa tak berharga, lemah, terbuang, murung, mengucilkan diri, dan tak berdaya. Padahal sudah jelas, tertuang dalam Kode Etik Jurnalistik, pasal 5 yang berbunyi “Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.” Namun, masih banyak media yang memilih untuk mempublikasikan korban kejahatan seksual. Alih-alih membantu, pengungkapan identitas ini malah membuat korban kejahatan seksual mengalamai trauma karena masyarakat semakin mengetahui permasalahan yang dihadapi. Rabu, 11 Januari 2012 kemarin, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) m...

Diskusi "Kontoversi Wikileaks: Implikasinya terhadap Keterbukaan Informasi di Indonesia”

Gambar
Jumat, (17/12), Dewan pers mengadakan diskusi tentang kontroversi Wikileaks di gedung Dewan Pers lantai 7, Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Diskusi ini menghadirkan 3 narasumber, yakni Todung Mulya Lubis (Pakar Hukum), Uni Lubis (Anggota Dewan Pers dan Pemred ANTV), dan Agus Sudibyo (Anggota Dewan Pers). Acara yang dimulai pukul 10.00 ini dihadiri oleh berbagai pihak, salah satunya Fikom Untar. Fikom Untar sebagai institusi perguruan tinggi yang selalu mengikuti perkembangan dunia dalam konteks jurnalistik, periklanan dan public relations mengirimkan 2 orang mahasiswanya ke diskusi tersebut, yakni Elwi dan Nurul. Diskusi ini berjalan menarik, banyak pertanyaan kritis dari audiens yang ditanggapi dengan lugas oleh nara sumber. “Jurnalis harus menempuh cara-cara professional sebagai wujud pemenuhan Kode Etik Jurnalis” ujar Uni Lubis ketika menanggapi pertanyaan dari audiens. Diskusi ini berakhir sekitar pukul 11.45 (Elwi-FIkom Untar)

Jurnalis Damai dan Multikulturalisme

Gambar
Tidak adanya budaya baca menjadikan televisi sebagai media paling digemari saat ini. Mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa sampai orang tua, semuanya menonton televisi. Tak dapat dipungkiri, televisi memegang peranan penting dalam pembentukan karakter dan opini publik. Oleh karena itu, tayangan-tayangan televisi harus benar-benar diawasi. Jangan sampai televisi dijadikan alat pemecah bangsa, justru sebaliknya, televisi harus menjadi media yang mampu menjaga perdamaian dan kemajemukan. Atas dasar itulah, Yayasan SET berkerja sama dengan USAID, SERASI dan IJTI menyelenggarakan penganugerahan perhargaan jurnalisme televisi untuk perdamaian dan multikulturalisme pada 30 September 2010 di Hotel Arya Duta. Acara ini bertujuan untuk mengkampanyekan pentingnya peran televisi dalam menjaga perdamaian dan multikulturalisme di masyarakat Indonesia yang majemuk. Perlombaan yang diikuti berbagai stasiun televisi ini akhirnya dimenangi oleh Jembatan Air Mata dari Redaksi Kontroversi Trans 7, da...