Postingan

Menampilkan postingan dengan label dewan pers

Media Massa dan Korban Kekerasan Seksual

Gambar
Diskusi Peluncuran Analisa Media Komnas Perempuan di Dewan Pers Januari 2012, saat masih kuliah jurnalistik di Fikom Untar, aku pernah datang ke kantor Komnas Perempuan untuk diskusi tentang bagaimana media memberitakan kasus kekerasan seksual. Uni Lubis, yang kala itu menjabat anggota Dewan Pers mengatakan bahwa banyak jurnalis, sering kali mengesampingkan hak-hak privasi korban dengan berlindung di balik alasan the right of public to know dan freedom of press . Padahal menghormati privasi korban kekerasan seksual, adalah bagian dari privasi yang dijamin oleh konstitusi, dan harus dihormati oleh media. Hari ini, apakah media sudah lebih baik dalam memberitakan kasus kekerasan seksual? Ah, rasanya semakin buruk.   Awal bulan lalu, Komnas Perempuan baru saja meluncurkan kajian media untuk melihat sejauhmana media telah memiliki prespektif korban kekerasan seksual. Sembilan media sepanjang Juli-Desember 2015 dianalisa. Hasilnya, media masih belum memenuhi kaid...

Perspektif Pers, Editorial Harian Media Indonesia & Republika

Gambar
Perspektif dan pers merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Walau sama-sama berikrar janji untuk menyajikan berita yang berimbang dalam satu wadah bernama Kode Etik Jurnalistik (KEJ), tetap saja kita sulit menemukan keberimbangan mutlak dalam suatu pemberitaan. “Cover Both Side” yang selama ini didengung-dengungkan setiap insan pers sepertinya hanya ada di buku-buku pelajaran. Era kebebasan berpendapat seperti ini, sepertinya sudah melenceng jauh dari makna sesungguhnya, makna ketika pers itu masih terkukung dan terkubur dalam belenggu. Dewasa ini, pers cenderung aktif menjadi pemain, mungkin sudah bosan hanya menjadi pengamat. Pers bahkan sudah mampu mengarahkan dan membentuk opini pemirsanya lewat pemberitaan yang berulang-ulang dalam bingkai bernama agenda setting dan farming. Sebagai pilar keempat dalam era demokrasi seperti ini, pers jelas mempunyai potensi untuk membentuk karakter dari suatu objek dan mematrikannya di otak pemirsa. Hal inilah yang membuat banyak politis...

Diskusi "Kontoversi Wikileaks: Implikasinya terhadap Keterbukaan Informasi di Indonesia”

Gambar
Jumat, (17/12), Dewan pers mengadakan diskusi tentang kontroversi Wikileaks di gedung Dewan Pers lantai 7, Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Diskusi ini menghadirkan 3 narasumber, yakni Todung Mulya Lubis (Pakar Hukum), Uni Lubis (Anggota Dewan Pers dan Pemred ANTV), dan Agus Sudibyo (Anggota Dewan Pers). Acara yang dimulai pukul 10.00 ini dihadiri oleh berbagai pihak, salah satunya Fikom Untar. Fikom Untar sebagai institusi perguruan tinggi yang selalu mengikuti perkembangan dunia dalam konteks jurnalistik, periklanan dan public relations mengirimkan 2 orang mahasiswanya ke diskusi tersebut, yakni Elwi dan Nurul. Diskusi ini berjalan menarik, banyak pertanyaan kritis dari audiens yang ditanggapi dengan lugas oleh nara sumber. “Jurnalis harus menempuh cara-cara professional sebagai wujud pemenuhan Kode Etik Jurnalis” ujar Uni Lubis ketika menanggapi pertanyaan dari audiens. Diskusi ini berakhir sekitar pukul 11.45 (Elwi-FIkom Untar)