Tjong Bersaudara dan Komunitas Tionghoa Medan

Tjong A Fie Mansion, salah satu jejak peninggalan Tjong A Fie di Kota Medan

"Medan sebagai pusat perkebunan di Sumatera Timur dijiwai oleh semangat kemajuan dan keberanian, serta semangat kerja keras. Di sini orang tak menyukai kelambanan!" 

Kutipan di atas aku cuplik dari buku Komunitas Cina di Medan: Dalam Lintasan Tiga Kekuasaan 1930-1960 karya Nasrul Hamdani (2013). Kutipan yang sangat kuat dan tepat untuk menggambarkan seperti apa kota Medan hari ini, utamanya komunitas Tionghoa Medan, dan sejarah macam apa yang membuat Medan demikian. 
 
Pengembangan kota Medan mulai berjalan sejak Jacobus Nienhuys bersama koleganya pindah ke kampung Medan dan mendirikan Deli Maatschappij, sebuah perusahaan budi daya tembakau setelah mendapat izin dari Sultan Deli pada tahun 1869. Sebelumnya, pada 1863, Elisa Netscher yang mewakili pemerintah Belanda menginjakkan kakinya di Sumatera Timur dan menyodorkan kontrak penyewaan tanah kepada Sultan Deli. Setelah mendapat izin dari Sultan, berbondong-bondong pemilik modal mendirikan perusahaan perkebunan di tanah Deli. Salah satu yang paling besar adalah Deli Maatschappij yang mengelola lahan seluas 120.000 hektar!

Pertumbuhan ekonomi yang seolah berlomba-lomba ini membutuhkan sebuah kota administrasi yang modern, cantik dan bercorak Eropa. Kampung Medan yang dulunya berupa hutan dan rawa-rawa perlahan-lahan diperluas dan dibangun untuk menunjang aktivitas ekonomi. Kantor-kantor berarsitektur Eropa dibangun, sehingga tak heran kota baru ini pernah mendapat julukan "Parijs van Sumatera".

Para pemilik modal lalu merekrut orang-orang Tionghoa dari Tiongkok, Jawa, Penang, dan daerah lainnya sebagai kuli perkebunan. Hal ini setidaknya dipengaruhi oleh dua faktor. Faktor pertama karena jumlah penduduk yang masih sedikit dan masyarakat setempat yang tak berminat untuk bekerja di perkebunan. Faktor kedua adalah etos dan semangat kerja orang Tionghoa yang terlihat seperti "tak kenal lelah".

Perekrutan orang Tionghoa mendorong gelombang migrasi besar-besaran orang Tionghoa ke tanah Deli. Orang-orang Tionghoa ini pada akhirnya turut pula mewarnai perkembangan kota Medan sebagai kota internasional yang multikultural.

Di antara gelombang migran Tionghoa dari Tiongkok, terdapat seorang yang bernama Tjong Yong Hian yang lahir tahun 1850 di Songkou, Guangdong, Tiongkok Selatan. Ia mendarat di Batavia tahun 1867, dan kemudian mencari peruntungan di Medan tiga tahun kemudian. Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik (2003) menyebut bahwa Tjong Yong Hian memulai bisnis dengan membuka toko kelontong yang menyediakan kebutuhan perkebunan. Selain itu, Tjong Yong Hian juga menjadi agen perekrut kuli dari Tiongkok. 

Selama hampir sepuluh tahun setelah kedatangannya ke tanah Deli, bisnisnya terus berkembang dan menjadi salah satu yang terbesar pada masa itu. Sumber kekayaan terbesar Tjong Yong Hian berasal dari bisnis candu dan rumah judi. Para pemilik perkebunan sengaja menyediakan candu dan rumah judi bagi para buruh agar penghasilan mereka habis sehingga ketika kontrak mereka selesai, mereka tidak dapat kembali ke negara asal. Dengan demikian, para pemilik perkebunan tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mendatangkan kuli baru. Dengan kemampuan bisnis dan kecakapannya mengelola tata ruang, Tjong Yong Hian menjelma menjadi salah satu aktor pembangunan kota Medan. 

Foto Tjong A Fie di Tjong A Fie Mansion

Pada tahun 1879, Tjong A Fie, adiknya Tjong Yong Hian datang ke Tanah Deli menyusul kakaknya, dan semakin memperkuat imperium bisnis Tjong Yong Hian. Tjong A Fie lahir tahun 1860 di Songkou, Tiongkok Selatan. Pada usia 19 tahun, Tjong A Fie yang hanya berbekal baju di badan dan 10 perak uang Manchu menyusul kakaknya ke tanah Deli. Tjong A Fie memulai bisnisnya sebagai penjaga toko, penagih hutang sampai tenaga pembukuan di toko Tjong Sui Fo. Selama bekerja, Tjong A Fie muda berkembang menjadi sosok yang mandiri, pandai bergaul, berjiwa pemimpin dan sering diminta untuk menengahi keributan antara orang-orang Tionghoa, baik dengan sesama orang Tionghoa maupun dengan pemerintah Belanda. Berkat keberhasilannya mengatur para kuli, Tjong A Fie diangkat menjadi wijkmeester di Labuhan Deli dengan pangkat Letnan. Beberapa tahun kemudian, pangkatnya dinaikan menjadi Kapiten.

Berkat kerja kerasnya pula, Tjong A Fie mendapat kepercayaan dari Sultan Makmoen Al Rasjid untuk menyediakan atap daun nipah guna pembangunan gudang tembakau. Dari proyek pertama ini, secara perlahan, Tjong A Fie mendapat kesempatan baik untuk mengembangkan bisnis lainnya. Tjong A Fie lalu membeli sebidang tanah untuk ditanami karet. Kelak, pundi-pundi kekayaan Tjong A Fie berasal dari bisnis karet seiring berkembangnya industri otomotif dunia yang membutuhkan karet. 

Pada 1907, Tjong A Fie berkongsi dengan Tio Tiaw Siat dari Penang untuk mendirikan bank Deli. Tahun 1916, Tjong A Fie bersama Mayor Khow Kim An mendirikan Batavia Bank. Dari 600 lembar saham, Tjong A Fie memiliki sepertiganya. 

Tjong bersaudara bersama pemerintah Belanda dan para pemilik modal ikut meletakkan fondasi pembangunan kota Medan. Sultan Deli membutuhkan Tjong bersaudara sebagai sumber pendapatan ekonomi melalui hasil konsesi tanah. Pemerintah Belanda memerlukan Tjong bersaudara sebagai perantara dengan para kuli, dan Tjong bersaudara membutuhkan jaminan keamanan dari pemerintah Belanda dan Sultan. 

Dalam kehidupan sosial, Tjong bersaudara dikenal sebagai sosok yang sangat demawan, rendah hati, tegas dan disiplin. Tjong A Fie tidak melihat asal-asul, bangsa, agama dan ras saat membantu orang lain. Saat mesjid kesultanan Deli dibangun, Tjong bersaudara menyumbang sepertiga dari total dana pembangunan mesjid yang kini menjadi Mesjid Raya Medan. Selain itu, Tjong bersaudara juga membiayai seluruh biaya pembangunan Mesjid Gang Bengkok yang terletak di dekat rumahnya. Untuk masyarakat Tionghoa, Tjong bersaudara membangun Klenteng, rumah persemayaman dan menyediakan tanah pekuburan. Tjong bersaudara juga membangun rumah sakit lepra di Sinacang, dan membantu pembangunan jembatan, sejumlah gereja dan kuil Hindu. 

Jalan Tjong Yong Hian di kota Medan

Atas semua sumbangsih Tjong bersaudara, pemerintah Belanda menetapkan Tjong Yong Hian sebagai nama jalan di tengah kota Medan. Namun, pada 1957, nama jalan Tjong Yong Hian diganti menjadi jalan Bogor. Pada tahun 2012, keluarga besar Tjong Yong Hian melobi dan mengusulkan kepada pemerintah kota Medan agar nama jalan Tjong Yong Hian dikembalikan. Akhirnya, pada Oktober 2013, Pemkot Medan menetapkan pergantian nama Jalan Bogor menjadi Jalan Tjong Yong Hian. 

Tjong A Fie meninggal pada 8 Februari 1921, menyusul Tjong Yong Hian yang meninggal pada 1911. Sampai saat ini, Tjong bersaudara diceritakan sebagai legenda. Warga Medan menghormati mereka sebagai dermawan yang inklusif. Tjong bersaudara adalah representasi sukses orang-orang Tionghoa yang bersemangat dan bekerja keras. Berbekal 10 perak uang Manchu, mereka berhasil menjadi jutawan yang dermawan! 

Sebagai penutup, buat kamu semua yang ingin menelurusi jejak Tjong bersaudara di Medan, aku sarankan untuk mampir ke Tjong A Fie Mansion dan taman kebun bunga Tjong Yong Hian. Tjong A Fie Mansion adalah sebuah istana yang dibangun oleh Tjong A Fie untuk istrinya yang ketiga, Lim Koe Yap. Sedangkan taman kebun bunga Tjong Yong Hian adalah kuburan Tjong Yong Hian dan istrinya yang dibangun menyerupai taman yang sangat indah. 

Demikian sekilas tentang Tjong bersaudara dan komunitas Tionghoa Medan. Kalau ada yang terlewat, tolong tambahin di kolom komentar yaa! 

Sumber: 
Buku Kisah Hidup Queeny Chang (2016)
Buku Komunitas Cina di Medan (2013)
Buku Tionghoa dalam Keindonesiaan (2016)
Buku Tionghoa dalam Pusaran Politik (2003)
Artikel internet Elisa Netscher
Artikel internet Jacobus Nienhuys
Artikel internet Deli Maatschappij

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hikayat Souw Beng Kong, Kapiten Tionghoa Pertama dan Nasibnya Sekarang

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Begini Rasanya Bekerja di Komnas Perempuan