Nasib Jurnalis Perempuan di Indonesia

Diskusi Posisi Perempuan dalam Industri Media

21 April 2015, bertepatan dengan Hari Kartini, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengadakan sebuah diskusi dengan tema, Posisi Pekerja Perempuan di Industri Media. Ada 5 perempuan yang didaulat sebagai pembicara, yaitu Enny Nuraheni (mantan kepala Editor Foto Reuters Indonesia), Lasti Kurnia (fotografer Kompas), Luviana (AJI Jakarta, Jurnalis KBR 68H, mantan Jurnalis Metro Tv, yang dipecat karena ingin mendirikan serikat pekerja), Masruchah (Komisioner Komnas Perempuan) dan Listyowati (Cedaw Working Group Indonesia). Diskusi diadakan di gedung baru Institut Francais Indonesia (IFI) di Jalan M.H. Thamrin no 20, sebelahan sama kedutaan besar Prancis untuk Indonesia.
 
Aku mendapat kesempatan untuk bisa hadir di diskusi yang luar biasa ini. Di dalam diskusi ini, aku juga bertemu beberapa kawan yang menaruh perhatian di isu perempuan dan media massa. Diskusi dimulai pukul 4 sore, dengan pembukaan dari Ketua AJI Jakarta yang baru, Ahmad Nurhasim. Dalam pembukaannya, Hasim menyebutkan bahwa tidak ada data yang pasti tentang berapa jumlah jurnalis di Indonesia. Namun, diperkirakan ada sekitar 14.000 jurnalis di Indonesia. Dari jumlah itu, hanya 10 persen yang perempuan. Untuk posisi strategis, seperti redaktur, perempuan hanya mengisi 6 persen saja. 
  
Suzanne Franks dalam bukunya Women and Journalism, menuliskan bahwa jumlah representasi dan posisi jurnalis perempuan di media tidak pernah berubah dari tahun 1901 sampai tahun 2013. Jumlah jurnalis perempuan sangat sedikit dibanding laki-laki. Jumlah jurnalis perempuan yang menempati posisi strategis lebih sedikit lagi. Sedikitnya jumlah jurnalis perempuan yang mampu mengambil kebijakan di ruang redaksi menyebabkan banyak pemberitaan yang penuh stereotype, bias gender dan cenderung mereviktimisasi perempuan korban kekerasan.

Ada cerita menarik dari seorang jurnalis perempuan yang hadir dalam diskusi itu. Ia termasuk dalam jajaran redaksi pengambil keputusan di ruang redaksinya Tempo. Ia mengatakan bahwa, selama ia menjadi redaktur, ia tidak mengizinkan pemberian atribusi "cantik" pada perempuan sebagai objek pemberitaan. Seperti yang sering kita baca di media, banyak sekali perempuan korban dilabeli kata "cantik" yang sebenarnya tidak perlu sama sekali! Misalnya: Janda Cantik itu Ditemukan Tewas, dan lain-lain. 

Luviana, mantan jurnalis di Metro Tv yang dipecat karena ingin membentuk serikat pekerja menambahkan bahwa sangat penting kehadiran jurnalis perempuan di media.
"Jurnalis perempuan di media membuka ruang baru bagi perempuan, karena jurnalis perempuan akan banyak menulis untuk perempuan" ujar Luviana saat menyampaikan presentasinya.

Tidak hanya soal representasi yang masih sedikit, jurnalis perempuan juga banyak mengalami kendala dalam menjalankan tugasnya, mulai dari masalah klasik, seperti sulitnya mengatur pembagian kerja di domestik dan publik di tengah jam kerja jurnalis yang tidak menentu, sampai minimnya ruang menyusui yang disediakan oleh perusahaan.

Hambatannya tidak sampai di situ saja, lebih lanjut, Masruchah (Komisioner Komnas Perempuan) mengatakan di banyak daerah di Indonesia memiliki kebijakan diskriminatif yang mendiskriminasi perempuan, misalnya peraturan jam malam bagi perempuan, seperti di Gorontalo. Tentunya peraturan jam malam ini menyulitkan jurnalis perempuan untuk melaksanakan tugasnya. 

Di tengah protret buram pekerja perempuan di industri media, sebenarnya ada peluang yang cukup besar bagi perempuan dalam mengisi pemberitaan, yakni melalui media alternatif seperti blog. Blog dapat menjadi ruang yang bisa diintervensi suara tutur perempuan yang tidak dituturkan oleh media mainstream walaupun masih sedikit juga perempuan yang punya akses terhadap teknologi. 

Helene Cixous, filsuf feminis asal Prancis mengatakan bahwa perempuan harus menulis tentang pengalaman ketubuhannya karena hanya ia yang mempunyai pengalaman itu. Dengan adanya media sosial, perempuan bisa menuturkan pengalaman ketubuhannya yang selama ini hanya dijadikan objek seksual di media mainstream.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial