Ini Loh Alasannya Mengapa Sabtu Malam Disebut Malam Minggu


Menikmati malam turun

Hai semua! Pertama-tama, aku mau mengucapkan selamat Hari Raya Idulfitri buat teman-teman semua yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin yaa! 

Nah, di tulisanku kali ini, aku akan membahas tentang malam minggu. Pasti semuanya sudah tahu dong apa itu malam minggu? Namun, rasa-rasanya tidak banyak yang tahu kenapa ia disebut malam minggu padahal itu sebenarnya adalah sabtu malam? 

Begini ceritanya, semua bermula pada saat pemerintahan kolonial Belanda memperkenalkan sistem waktu yang membagi waktu ke dalam 24 jam, seperti yang kita gunakan sehari-hari saat ini. Perhitungan dimulainya 'hari' adalah jam 00.01, atau lewat tengah malam. 

Nah, sebelum sistem ini diperkenalkan, masyarakat nusantara, khususnya yang di pulau Jawa menandai dimulainya 'hari' saat malam turun, dengan bunyi pukulan bedug di Masjid, yang sekaligus juga menandai kelima waktu salat. 

Kita ambil contoh ya biar lebih mudah memahami perhitungan hari. Contohnya besok hari Sabtu, tanggal 16 Juni 2018, pukul 20.00. Kira-kira ini disebut Sabtu malam atau malam Minggu? 

Bila mengacu pada perhitungan Belanda, tanggal 16 Juni 2018, pukul 20.00 itu disebut Sabtu malam. Ini karena Hari Minggu belum dimulai. Hari Minggu baru akan dimulai ketika lewat dari pukul 00.00. 

Namun, bila mengacu pada perhitungan masyarakat nusantara sebelum zaman Belanda, tanggal 16 Juni 2018, pukul 20.00 itu disebut malam minggu. Ini karena hari Minggu sudah dimulai sejak malam turun, yang ditandai dengan suara bedug magrib di Masjid. 

Walau pemerintah kolonial Belanda mengatur semua tata kelola pemerintahan menurut sistem waktu mereka, setiap kelompok masyarakat diperbolehkan menggunakan sistem waktu masing-masing. Inilah (agaknya) yang membuat istilah 'malam Minggu' terus digunakan sampai saat ini. 

Terlepas dari perdebatan antara Sabtu malam dan malam Minggu, hal yang paling penting adalah kamu nongkrong sama siapa di malam minggu esok? :P


Sumber: Buku Nusa Jawa Silang Budaya Jilid I

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hikayat Souw Beng Kong, Kapiten Tionghoa Pertama dan Nasibnya Sekarang

Begini Rasanya Bekerja di Komnas Perempuan

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa