Rekonstruksi prosesi menyanyikan Indonesia Raya di Kongres Pemuda II, 1928 Beberapa hari lagi, Bangsa Indonesia akan memperingati peristiwa Sumpah Pemuda, salah satu peristiwa paling bersejarah dalam pembentukan Bangsa Indonesia sebagai sebuah nation ! 89 tahun yang lalu, di tanggal 28 Oktober 1928, pemuda-pemuda dari berbagai suku bangsa di Nusantara berikrar satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa: Indonesia, tak terkecuali pemuda-pemuda Tionghoa di Nusantara. Walau demikian, banyak narasi tentang kiprah orang Tionghoa dalam peristiwa tersebut yang dihilangkan untuk menguatkan stigma bahwa orang Tionghoa apatis pada perjuangan rakyat, dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Berbekal berbagai literatur yang ada, aku mencoba menghimpun narasi Tionghoa dalam Sumpah Pemuda 1928 ke dalam tulisan berikut. Selamat membaca! Gedung Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat 106, Jakarta Pusat, dulunya adalah rumah kost, milik seorang Tionghoa, bernama Sie Kok Liong (beberapa sumber men...
Kejutan dari teman-teman sekantor Bila 1 April bagi kebanyakan orang dirayakan sebagai hari berbohong sedunia alias April Mop, bagiku tidak demikian. Aku memaknai 1 April sebagai hari yang istimewa, karena tepat di hari itu, aku mengambil sebuah keputusan penting yang membuat hidupku tidak lagi sama. 1 April 2013, aku mengawali pertualanganku di Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau yang lebih familiar disebut Komnas Perempuan sebagai anak magang. Setelahnya, secara berturut-turut, aku menjadi relawan, staf dan sekarang menjadi Asisten Kampanye Divisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan. 3 tahun sudah sejak hari itu dan rasanya masih istimewa. Ibarat minum bir, ini gelas ketiga, belum mabuk, masih waras dan masih haus akan gelas-gelas berikutnya. Sebagai hadiah istimewa di hari jadian ketiga ini, aku mau menulis tentang kehidupan di Komnas Perempuan, biar pada enggak penasaran gimana sih rasanya kerja di lembaga ini. Aku sering ditanya orang,...
Globalisasi, Kawan atau Lawan ?? Globalisasi tak terpungkiri telah terjadi di zaman ini. Globalisasi tak pelak menyebabkan persaingan manusia sebangsa atau antar bangsa. Globalisasi menyebabkan sekat-sekat atau batas-batas Negara menjadi kabur. Seseorang dapat dengan mudah mencari pekerjaan di Negara lain. Kita ambil saja contoh kecil di negeri kita tercinta ini. Pemain basket Philipina begitu laris manis di kompetisi basket nasional. Hal ini tentunya membawa dampak yang cukup besar. Pemain asing diharapkan dapat mentransfer ilmunya kepada pemain kita. Di sisi lain, pemain tersebut juga membuat jumlah pengangguran semakin bertambah. Apabila satu klub basket memiliki satu pemain asing, maka apabila ada dua belas klub maka ada dua belas orang yang akan menganggur. Hal ini juga terjadi pada olahraga lain semisal Voli. Pemain China laris bagaikan kacang goreng. Hal yang paling mencolok mungkin terjadi pada sepak bola. Sepak bola sebagai cabang olahraga paling populer di negeri ini tentunya...
kritik : nama emailnya ditaro dibawah slogannya aja po, biar lebih rapi :p
BalasHapusatau gak nama emailnya dikurangin opacity-in :p
kalo soal konsep, udah bagus kok :D