Bersatu di Bawah Panji-Panji Rendang

Proses memasak masakan Minang, dari gulai nangka hingga rendang di RM Uni Ajo, Jakarta

Mari tebak, apa yang bisa membuat Indonesia-Malaysia-Singapura-Brunei bersatu? Bila tebakan kamu adalah rendang, ya kamu benar! Sana ambil sepedanya! 

Penyebabnya apa lagi kalau bukan komentar dari John Torode, salah satu juri MasterChef Inggris yang mengkritik nasi lemak dan rendang ayam milik kontestan asal malaysia, Zaleha Kadir Olpin, dengan menyebutnya "tidak crispy". Zaleha pun terpaksa mengakhiri perjalanannya dalam kontes ini. 

Komentar dari John tersebut pun langsung menuai kecaman. Salah satunya dari politikus Malaysia, PM Najib Razak yang mencuit, "Mana ada orang makan rendang ayam 'crispy'? #MalaysianFood

Tak hanya publik Malaysia yang dibuat marah, tetapi juga publik Indonesia yang tersinggung dengan komentar rendang crispy. Walau pernah terlibat saling klaim rendang sebagai masakan nasional, Indonesia-Malaysia dalam kasus komentar rendang crispy, seolah melupakan sejenak perdebatan itu. Indonesia-Malaysia ditambah Singapura dan Brunei "kompak" membela rendang yang tidak crispy

United Nations of Rendang. Sumber: Instagram


Dari mana mulanya rendang? 

Dalam artikel Mengunyah Sejarah Randang di Majalah Historia, disebutkan bahwa nama sebenarnya adalah Randang. Orang Minang menyebutnya marandang, yaitu cara memasak dalam kurun waktu lama. Rendang juga bukan hanya berbahan daging tetapi bisa juga sayur-sayuran, kacang garing, bahkan kopi. Namun, kata rendang terlanjur melekat pada daging berkuah kering, yang berwarna coklat tua sampai hitam pekat. 

Gusti Asnan, sejarawan Universitas Andalas mengatakan pada Historia bahwa, pada tahun 1514, seorang Portugis bernama Rui de Brito, pemimpin Malaka menyinggung tentang rendang yang dibawa oleh para saudagar Minang yang berniaga di Malaka. Rui de Brito tidak menyebut secara spesifik rendang, tetapi 'daging yang dihanguskan'. 

Dalam buku Antropologi Kuliner Nusantara, Gusti Asnan juga menyebutkan bahwa 'daging yang dihanguskan' muncul pula dalam catatan Jenderal Hubert Joseph Jean Lambert de Stuers, panglima militer dan residen Padang pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Pada 1827, Stuers menggambarkan 'suatu teknik membuat masakan yang menggunakan susu kelapa yang dihanguskan'. Frasa tersebut tentunya mengacu pada rendang.

Walau demikian, Gusti Asnan menyakini bahwa rendang sebagai masakan Minang sudah ada jauh sebelum Hikayat Amir Hamzah pada zaman sebelum dan awal kebangkitan Islam pada 1511. 

Pendapat lain dikemukakan oleh Fadly Rahman dalam bukunya yang berjudul Jejak Rasa Nusantara. Fadly mengatakan bahwa kata rendang nyaris tidak disebut-sebut dalam berbagai literatur selama kurun abad ke-18. Fadly berargumen bahwa rendang terpengaruh dari kebudayaan Luso-Asia yang menancap di kawasan Malaka pada abad ke-16. Salah satu ciri karakter boga Luso-Asia adalah tingginya konsumsi daging. Karakter pemamah daging yang identik dengan bangsa Iberia (Spanyol-Portugis) ini mungkin dan tampaknya menularkan kebiasaan memakan daging berikut adopsi teknik mengolahnya di setiap kawasan Asia yang terkena pengaruh Luso-Asia.

Fadly menyebut bahwa pengaruh Luso-Asia luput dari pengamatan sejarawan Minang. Ia mencontohkan pendapat sejarawan Minang dalam artikel Jelajah Kuliner Nusantara edisi Rendang dan Martabat Minang yang diterbitkan Kompas pada 2013, antara lain, Muhammad Nur yang menduga bahwa makanan serupa rendang telah disebut-sebut dalam sejarah lisan sejak abad kuno (sekitar abad ke-4 dan 10 Masehi). Adapun catatan tertulis mengenai makanan olahan daging, baru muncul dalam laporan Ulama Islam Syekh Burhanuddin asal Ulakan (Pariaman) pada abad ke-17. Hal ini didukung oleh sejarawan lainnya, Nurmatias yang mengatakan bahwa seiring Islamisasi di Tanah Minang, Syekh Burhanuddin berperan menjadikan rendang sebagai syiar Islam di Padang. Menurutnya, sebelum Islam masuk, kemungkinan ada makanan serupa rendang yang dibuat dari daging yang tidak halal. 

Entah sejarah mana yang mendekati kebenaran, satu hal yang pasti adalah rendang digemari karena sifat tahan lamanya, yang sesuai dengan budaya rantau orang Minang. Menurut Nur Indrawaty, guru besar ilmu gizi di Universitas Andalas dalam buku Antropologi Kuliner Nusantara, orang Minang harus membuat makanan yang tahan lama sebagai bekal merantau. Budaya merantau ini pula yang ikut mendiasporakan rendang ke Malaysia dan Singapura.

Sejalan dengan pendapat Nur Indrawaty, Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto atau yang biasa disapa Mak Katik, budayawan Minang dalam artikel Mengunyah Sejarah Randang di Majalah Historia, mengatakan bahwa orang-orang Minang yang berangkat haji pun menjadikan rendang sebagai bekal perjalanan, sampai-sampai ada anekdot di Minang, orang Minang menaruh rendang dari hari raya haji ke hari raya haji.  

Popularitas rendang makin tersoroh setelah resep-resepnya dimuat dalam surat kabar. Fadly dalam buku Jejak Rasa Nusantara, mengatakan bahwa salah satu surat kabar yang memuat resep rendang adalah Soenting Melajoe yang didirikan oleh Datoe Soetan Maharadja pada 1912 dan dibaca luas oleh para perantau Minang. Surat-surat pun berdatangan, tidak hanya dari orang Minang, tetapi juga orang Eropa yang mengirimkan uang tunai dan meminta dikirimkan rendang.

Tak sekadar makanan, menurut Mak katik, rendang bagi orang Minang adalah penghulu samba (masakan minang). Karena disimbolkan sebagai penghulu, maka rendang wajib hadir dalam acara adat dan keagamaan. Bahkan, di beberapa tempat, kelompok masyarakat yang tak kuat secara finansial menghadirkannya secara simbolik. Rendang dibuat dari kulit batang kayu yang disiram kuah rendang. 

Pau isi Rendang, foto tahun 2014

Kini rendang, terlepas dari segala asal-usulnya, telah menjadi masakan internasional. Tahun 2017, CNN kembali menobatkan rendang sebagai masakan terenak di dunia melalui pooling di media sosial facebook. Rendang pun kini sudah diolah sedemikian rupa. Pada tahun 2014, saat aku ke Padang, aku menemukan bakpao isi rendang yang dijual di toko oleh-oleh Christine Hakim. Rasanya sudah pasti, JUARA!

Kamu pernah masak rendang? Share pendapat kamu di kolom komentar yaaa!  

Sumber:
Artikel Mengunyah Sejarah Randang di Majalah Historia edisi 35 tahun 2017
Buku Tempo Antropologi Kuliner Nusantara: Ekonomi, Politik, dan Sejarah di Belakang Bumbu Makanan Nusantara
Buku Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia
Gara-Gara Rendang 'Crispy', Juri MasterChef Inggris Dikecam
Rendang dan Nasi Goreng Sabet Predikat Makanan Terenak di Dunia
Instagram
ewat 35.000 voting di media sosial Facebook.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Rendang dan Nasi Goreng Sabet Predikat Makanan Terenak di Dunia", https://travel.kompas.com/read/2017/07/14/103010427/rendang-dan-nasi-goreng-sabet-predikat-makanan-terenak-di-dunia.
Penulis : Sri Anindiati Nursastri

Komentar

  1. wow keren, gue bahkan baru tau sejarahnya bermula dari situ. sayang sekali seumur-umur gue kaga pernah makan rendang karena vegan heuheu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti kamu mesti coba rendang vegetarian. Aku pernah baca di mana gitu kalau di Bali ada rumah makan yang semua menunya vegan gitu.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hikayat Souw Beng Kong, Kapiten Tionghoa Pertama dan Nasibnya Sekarang

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Begini Rasanya Bekerja di Komnas Perempuan