Isu 'Kebangkitan PKI' yang Tak Pernah Usang

Salah satu poster massa pengepung LBH Jakarta. Sumber: CNN Indonesia


Tulisan di bawah ini merupakan potongan naskah dari makalah yang aku susun untuk Final Exam mata kuliah Crisis Communcation. Makalah lengkap berjudul Malam Mencekam di LBH Jakarta: Analisis Krisis Komunikasi LBH Jakarta. Potongan naskah ini berisi analisis tentang pengepungan kantor LBH Jakarta pada September 2017 yang tidak dapat dilepaskan dari isu kebangkitan PKI yang terus dihembuskan. 

Ada beberapa penyesuaian terhadap naskah asli, agar enak dibaca di blog. Oh ya, sebaiknya saat membaca tulisan ini, pastikan otak dan hati dalam keadaan terbuka. Jika dibutuhkan, siapkan pula segelas teh hangat dan camilan. Selamat membaca!

Pengepungan kantor LBH Jakarta pada 17-18 September 2017 tentu tidak dapat lepas dari isu kebangkitan PKI yang tak pernah usang. Isu kebangkitan PKI terus ‘digoreng’ terutama pada masa pemerintahan Joko Widodo. Dalam sebuah seminar tentang pengungkapan Tragedi 1965 (2013), penulis bertemu dengan Hilmar Farid yang kini menjabat sebagai Dirjen Kebudayaan. Menurut Hilmar Farid, isu PKI merupakan warisan dari rezim orde baru yang pada awalnya berupa fantasi yang sengaja dibuat untuk menciptakan musuh bersama. Celakanya, fantasi tersebut bertahan hingga kini, bahkan membelenggu pikiran generasi setelah Orde Baru. 

Senada dengan Hilmar Farid, Burhanudin Muhtadi, Direktur Indikator Politik Indonesia dalam wawancaranya dengan Metro Tv, mengatakan bahwa isu komunisme masih menjadi momok menakutkan bagi masyarakat Indonesia. Bagi Burhanudin, komunisme merupakan warisan dari propaganda rezim orde baru. Namun, anehnya kelompok yang tidak hidup di masa orde baru pun banyak yang percaya komunisme itu ada. Burhanudin mengibaratkan komunisme sebagai hantu yang diciptakan kemudian direproduksi terus menerus dalam dunia politik Indonesia.

Menarik untuk mencari tahu siapa dalang yang terus mempropagandakan isu komunisme. Pada akhir September 2017, Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) merilis hasil penelitiannya tentang persepsi masyarakat terhadap isu kebangkitan PKI. Hasilnya isu kebangkitan PKI hanya diyakini oleh sekitar 12,6% populasi Indonesia, sementara mayoritasnya sebanyak 86,8% menyatakan tidak setuju terhadap pernyataan kebangkitan PKI.

Peneliti SMRC, Sirajuddin Abbas dalam berita di BBC Indonesia, menyimpulkan bahwa opini kebangkitan PKI di masyarakat tidak terjadi secara alamiah, melainkan hasil mobilisasi opini kekuatan politik tertentu, terutama pendukung Prabowo, mesin politik PKS dan Gerindra. Hal ini didukung oleh temuannya bahwa kelompok masyarakat yang mempercayai terjadinya kebangkitan PKI beririsan dengan pendukung Prabowo dan dengan beberapa pendukung partai politik terutama PKS dan Gerindra. 

Hal yang senada juga diungkap oleh Rafif Pamenang Imawan, peneliti Populi Center dalam wawancaranya dengan CNN Indonesia, mengatakan bahwa latar belakang pemunculan hantu komunisme atau kebangkitan PKI tidak lepas dari keinginan oligarki lama atau golongan serta kelompok tertentu yang ingin kembali mencengkeram Indonesia setelah tersingkir akibat runtuhnya rezim Orde Baru. Menurutnya, Para penguasa lama tersebut dinilai 'menunggangi' isu kebangkitan komunisme untuk mencapai tujuannya.

Dalam amatan penulis, isu kebangkitan PKI mulai merebak pasca Joko Widodo dicalonkan sebagai presiden tahun 2014. Pada masa kampanye, Joko Widodo yang berpasangan dengan Jusuf Kalla diserang kampanye hitam melalui tabloid “Obor Rakyat” yang dibagi secara gratis di pondok pesantren di wilayah Jawa dan Madura. Joko Widodo dihantam tuduhan bahwa ibunya dulu adalah aktivis PKI. 

Pasca memenangi pilpres dan menjadi presiden, isu PKI tak juga padam, dan malah semakin bergerak liar. Pada 2016, Bambang Tri Mulyono menulis buku ‘Jokowi Undercover’ yang berisi keyakinannya bahwa Joko Widodo merupakan anak PKI tulen dengan menyebut bahwa ayah Jokowi, Widjiatno Noto Mihardjo adalah tokoh berpengaruh di PKI.

Gerah dengan segala tuduhan PKI yang dikaitkan dengan dirinya, Joko Widodo akhirnya bersuara dengan mengatakan akan menggebuk PKI. Setidaknya ada tiga kali, Joko Widodo menegaskan niatnya untuk menggebuk PKI. Pertama, saat Joko Widodo bertemu dengan pemimpin redaksi media nasional di Istana Merdeka (17/05/2017). 

"Kalau PKI muncul, gebuk saja," kata Joko Widodo, seperti yang dikutip dari CNN Indonesia. 

Kali kedua, saat berkunjung ke Tanjung Datuk, Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau, (19/05/2017). 

"Ya, kita gebuk, kita tendang. Sudah jelas itu. Jangan ditanya-tanyakan lagi, payung hukumnya sudah jelas," kata Joko Widodo, seperti yang dikutip dari CNN Indonesia

Yang ketiga, saat berbicara di acara Kajian Ramadan 1438 Hijriah di Universitas Muhammadiyah Malang, Kota Malang (3/6/17). 

"Jadi, kalau ada tunjukkan pada kita, tunjukkan pada saya, saya akan gebuk detik itu juga," kata Joko Widodo, seperti yang dikutip dari CNN Indonesia.

Kata gebuk yang dilontarkan Joko Widodo lalu digunakan sebagai legitimasi bagi massa untuk melakukan pengepungan kantor LBH Jakarta. Menurut Isnur, Kepala Divisi Advokasi YLBHI, dalam wawancaranya dengan tirto, kata-kata 'Gebuk PKI' didengungkan selama aksi berlangsung. Massa mengklaim kalau mereka boleh menggebuk dengan mengacu kata-kata Jokowi. Hal itu diungkapkan terus-menerus saat aksi. Menurutnya, Joko Widodo harus memperbaiki kata-katanya segera agar tidak ada aksi persekusi kepada orang-orang yang dituduh berafiliasi dengan PKI.

Sebagaimana yang kita tahu bahwa, Gedung Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) digeruduk massa yang menamakan dirinya sebagai Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Anti-Komunis, pada hari minggu malam, (17/09/17) sampai senin dini hari, (18/0917). Wartawan kompas yang berada di tempat kejadian melaporkan bahwa pada awalnya, ada puluhan orang berdemonstrasi di depan Kantor YLBHI/LBH Jakarta (sekitar pukul 21.30). Dalam orasinya, mereka meminta pihak panitia menghentikan acara yang digelar di dalam gedung sejak sore. Mereka menuding acara tersebut terkait dengan kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Kompas juga melaporkan bahwa menjelang tengah malam, massa semakin bertambah banyak dan tidak terkendali. Massa yang masih mengepung gedung YLBHI/LBH Jakarta memaksa masuk ke dalam. Lewat tengah malam, massa aksi bertindak semakin beringas. Mereka melemparkan batu ke arah kantor YLBHI. Bentrokan antara aparat kepolisian dan massa aksi pun tak bisa dihindari.

Pasca pengepungan tersebut, LBH Jakarta terpaksa menutup kantornya selama kurang lebih seminggu karena ada banyak bagian dari gedung yang rusak. Muhammad Isnur, Ketua Bidang Advokasi YLBHI dalam konferensi pers di Komnas Perempuan, (18/09/2017) mengatakan kepada penulis bahwa gedung LBH Jakarta/YLBHI dihujani batu, sehingga banyak kaca dan lampu yang pecah. Selain itu, pagar gedung juga mengalami kerusakan. 

Selain itu, pasca pengepungan, orang-orang yang terjebak di dalam gedung mengalami trauma sehingga membutuhkan pemulihan psikologis. Hexa, relawan pendamping di YLBHI mengatakan kepada kompas bahwa pengepungan malam itu menyisakan trauma bagi sebagian peserta yang baru pertama kali mengalami peristiwa pengepungan. Setelah proses evakuasi, ada beberapa peserta yang tidak berani pulang karena khawatir akan adanya persekusi. Hal ini karena beredar kabar bahwa video dan foto para korban yang bertahan di gedung YLBHI diambil oleh orang tak dikenal saat proses evakuasi. 

Nah, sampai di sini saja yaa ulasanku. Kalau diterusin, nanti jadi makalah sepenuhnya, bukan tulisan blog. Share pendapat kamu tentang komunisme di kolom komentar yaa! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hikayat Souw Beng Kong, Kapiten Tionghoa Pertama dan Nasibnya Sekarang

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Begini Rasanya Bekerja di Komnas Perempuan