Enam Jam di Medan, Bisa ke Mana Saja?

Pagar depan Tjong A Fie Mansion

"Aku punya waktu enam jam kosong di Medan, enaknya ke mana ya?"

Sebagai orang yang lahir dan besar di Binjai, dan sering jalan-jalan ke Medan, aku sering mendapat pertanyaan seperti di atas dari kolega yang hendak jalan-jalan ke Medan, tapi tidak punya waktu banyak. Biasanya yang nanya seperti itu adalah kolega yang dapat tugas kantor ke Medan, sehingga perlu mengatur jadwalnya agar kerjaan lancar, plus bisa jalan-jalan.

Nah, di tulisan kali ini, aku akan share beberapa tempat menarik di Medan yang bisa kamu kunjungi dalam waktu enam jam saja!

- Tjong A Fie Mansion

Foto dulu di depan foto Tjong A Fie

Tjong A Fie Mansion adalah rumah besar milik Tjong A Fie yang dipersembahkan kepada istri tercintanya, Lim Koe Yap. Tjong A Fie Mansion terletak di jalan Jenderal A. Yani, kota Medan. Dari Stasiun Kota Medan, perjalanan ke Tjong A Fie Mansion hanya memerlukan waktu lima menit saja bila menggunakan becak motor, dengan tarif sepuluh hingga lima belas ribu rupiah. Harga Tiket berkunjung ke Tjong A Fie Mansion sebesar tiga puluh lima ribu rupiah. Harga ini sudah termasuk tour guide yang akan mengantarkan pengunjung ke setiap sudut ruangan. Di Tjong A Fie Mansion, pengunjung dapat selfie sesuka hati dengan latar rumah Tionghoa. 

Oh ya, buat yang belum tahu siapa Tjong A Fie, ini aku sarikan sedikit ya. Tjong A Fie merupakan saudagar kaya raya, sekaligus orang kepercayaan Sultan Deli, plus menjabat sebagai Kapiten Tionghoa yang diangkat oleh pemerintah kolonial Belanda. Dalam kehidupan sosial, Tjong A Fie dikenal sebagai sosok yang sangat demawan, rendah hati, tegas dan disiplin. Tjong A Fie tidak melihat asal-asul, bangsa, agama dan ras saat membantu orang lain. Saat mesjid kesultanan Deli dibangun, Tjong A Fie dan kakaknya, Tjong Yong Hian, menyumbang sepertiga dari total dana pembangunan mesjid yang kini menjadi Mesjid Raya Medan. 

Tjong A Fie lahir tahun 1860 di Songkou, Tiongkok Selatan. Pada usia 19 tahun, Tjong A Fie yang hanya berbekal baju di badan dan 10 perak uang Manchu menyusul kakaknya ke tanah Deli. Tjong A Fie memulai bisnisnya sebagai penjaga toko, penagih hutang sampai tenaga pembukuan di toko Tjong Sui Fo. Selama bekerja, Tjong A Fie muda berkembang menjadi sosok yang mandiri, pandai bergaul, berjiwa pemimpin dan sering diminta untuk menengahi keributan antara orang-orang Tionghoa, baik dengan sesama orang Tionghoa maupun dengan pemerintah Belanda. Berkat keberhasilannya mengatur para kuli, Tjong A Fie diangkat menjadi wijkmeester di Labuhan Deli dengan pangkat Letnan. Beberapa tahun kemudian, pangkatnya dinaikan menjadi Kapiten

- Restoran Tip Top

Restoran Tip Top, kota Medan

Dari Tjong A Fie Mansion, perjalanan kita lanjutkan dengan menyeberang jalan ke restoran Tip Top yang melegenda di Medan sejak 1934. Restoran ini masih mempertahankan bentuk bangunannya yang berasitektur Belanda. Sedikit cerita, restoran ini mulanya buka di jalan Pandu pada 1929 dan diberi nama restoran Jang Kie sesuai dengan nama pemiliknya. Pada 1934, Jang Kie memindahkan tokonya ke pusat kota. Lokasi ini berdekatan dengan kantor-kantor perkebunan Belanda. Nama Jang Kie pun diubah menjadi Tip Top agar terkesan elegan dan mewah. Tip Top sendiri berasal dari bahasa Inggris yang artinya sempurna (Referensi: majalah Historia edisi Kuliner Nusantara: Rasa dan Cerita)

Di restoran Tip Top, pengunjung dapat mencoba varian es krim olahan sendiri. Es krim di Tip Top diolah sendiri dengan menggunakan teknologi zaman dulu agar cita rasanya tidak berubah. Selain es krim, ada banyak varian menu yang bisa dipilih oleh pengunjung, mulai dari cita rasa Eropa, Tionghoa maupun Nusantara. Kesemuanya dijamin enak!

- Istana Maimun

Sore di Istana Maimun, kota Medan

Sehabis makan, kita lanjutkan perjalanan kita ke Istana Maimun yang terletak sekitar sepuluh menit, menggunakan becak motor, dengan harga sekitar lima belas ribu sampai dua puluh ribu rupiah. Di Istana Maimun, pengunjung dapat berfoto di singgasana sultan dengan menggunakan baju adat Melayu. Harga yang dipatok untuk berfoto dengan baju adat, relatif murah, yakni sebesar sepuluh ribu rupiah saja. Oh ya, pengunjung juga diwajibkan untuk membayar tiket masuk ke dalam istana sebesar lima ribu rupiah.

Sedikit tentang sejarah Istana Maimun yang aku kutip dari detik travel, Istana Maimun merupakan peninggalan Kerajaan Deli, yang didirikan oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang merupakan keturunan raja ke-9 Kesultanan Deli. Istana ini dibangun pada 26 Agustus 1888 dan baru diresmikan pada 18 Mei 1891.

Istana Maimun memiliki arsitektur yang unik dengan perpaduan beberapa unsur kebudayaan Melayu bergaya Islam (Timur Tengah), Spanyol, India dan Italia. Warna kuning yang mendominasi Istana Maimun melambangkan warna Melayu, sekaligus warna kebesaran Kerajaan Deli di Sumatera Utara. Sedangkan pengaruh Eropa terlihat dari ornamen lampu, kursi, meja, lemari, sampai pintu dorong. Satu lagi, bentuk pintu dan jendelanya lebar-lebar seperti mirip bangunan-bangunan di Eropa. Pengaruh Islam bisa dilihat dari bentuk lengkung (arcade) di bagian atap yang bentuknya menyerupai perahu terbalik (lengkung persia) yang biasanya dijumpai pada bangunan-bangunan di kawasan Timur Tenggah.

- Taman Bunga Tjong Yong Hian

Taman Bunga Tjong Yong Hian

Dari Istana Maimun, kita lanjutkan perjalanan ke Taman Bunga Tjong Yong Hian yang terletak di jalan kejaksaan. Butuh sekitar sepuluh sampai lima belas menit untuk sampai ke tempat ini, menggunakan becak motor, dengan harga sekitar dua puluh ribu rupiah. Taman Bunga Tjong Yong Hian sejatinya merupakan kuburan dari Tjong Yong Hian dan istrinya, yang disulap menjadi taman bunga yang sangat indah dan galeri sejarah kontribusi Tjong Yong Hian di kota Medan.

Walau tempat ini sejatinya adalah kuburan, tapi sama sekali tidak ada kesan angker. Taman bunga ditata begitu cantik. Kolam teratai menambah keasrian tempat ini. Waktu yang paling tepat untuk berkunjung ke sini adalah pada pagi atau sore hari, saat matahari belum begitu menyengat. 

Buat yang belum tahu siapa itu Tjong Yong Hian, ini aku ceritain sedikit yaa. Tjong Yong Hian lahir tahun 1850 di Songkou, Guangdong, Tiongkok Selatan. Ia mendarat di Batavia tahun 1867, dan kemudian mencari peruntungan di Medan tiga tahun kemudian. Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik (2003) menyebut bahwa Tjong Yong Hian memulai bisnis dengan membuka toko kelontong yang menyediakan kebutuhan perkebunan. Selain itu, Tjong Yong Hian juga menjadi agen perekrut kuli dari Tiongkok.

Sama seperti adiknya Tjong A Fie, Tjong Yong Hian juga sangat dermawan. Bahkan, pemerintah Belanda menetapkan Tjong Yong Hian sebagai nama jalan di tengah kota Medan. Namun, pada 1957, nama jalan Tjong Yong Hian diganti menjadi jalan Bogor. Pada tahun 2012, keluarga besar Tjong Yong Hian melobi dan mengusulkan kepada pemerintah kota Medan agar nama jalan Tjong Yong Hian dikembalikan. Akhirnya, pada Oktober 2013, Pemkot Medan menetapkan pergantian nama Jalan Bogor menjadi Jalan Tjong Yong Hian.  

- Ucok Durian

Jangan bilang pernah ke Medan, kalau belum mampir ke Ucok Durian

Terakhir nih, buat kalian para pecinta durian, jangan pernah melewatkan "Ucok Durian" bila sedang berkunjung ke Medan. Enggak perlu banyak kata-kata, pokoknya dijamin durian di Ucok Durian itu mantab kali bah! 

Kamu pernah ke Medan, dan tahu tempat lain yang wajib untuk dikunjungi? Share di kolom komentar yaa! 

Baca juga:

Sumber:
Buku Tionghoa dalam Pusaran Politik (2003)
Majalah Historia edisi Kuliner Nusantara: Rasa dan Cerita
Istana Maimun di Medan, Salah Satu yang Terindah di Indonesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hikayat Souw Beng Kong, Kapiten Tionghoa Pertama dan Nasibnya Sekarang

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Begini Rasanya Bekerja di Komnas Perempuan