Prasmanan dari Prancis ke Belanda lalu ke Indonesia

Prasmanan! Ayo makan! doc: pribadi

Jelang akhir tahun seperti sekarang ini, biasanya kita akan banyak mendapat kiriman undangan resepsi pernikahan, ya kan? Biasanya pula, resepsi pernikahan (di Jakarta) menggunakan tata cara prasmanan. Nah, di artikel ini, aku akan membahas tentang prasmanan, sejak kapan sih orang Indonesia makan dengan cara prasmanan?

Dalam artikelnya yang berjudul Dari Tangan Hingga Prasmanan (edisi 35 tahun 2017), majalah Historia menuliskan bahwa cara makan ala prasmanan itu berasal dari Prancis! Di Hindia Belanda, tahun 1896 ada seorang penulis resep makanan bernama Nyonja Johanna yang menulis buku Boekoe Masakan Baroe, yang memuat resep pembuatan kue dengan "tjara Blanda, Tjina, Djawa dan Prasman".
 
Fadly Rahman dalam bukunya yang berjudul Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia masa kolonial 1870-1942 (2016) mengutip  pendapat Suryatini N. Ganie, yang mengatakan bahwa istilah prasmanan kemungkinan berasal dari kata "Fransman" (orang-orang Prancis) yang sering menyajikan makanan dengan cara ditaruh di atas meja. Orang-Orang Prancis menyebut istilah ini dengan nama buffet

Ada dua cara pengaturan pada prasmanan, yaitu: (1) Penataan tradisional, yaitu menata makanan sesuai dengan urutan atau kerangka menu, dimulai dari makanan pembuka dan diakhiri dengan makanan penutup. Makanan diatur dalam meja panjang menurut komposisi menu (appetizer - soup - main course - dessert) dan para tamu harus mengambilnya sendiri (self service). (2) Penataan makanan yang dibagi-bagi ke beberapa meja yang dipasang di sekitar ruangan. 

Cara makan ala fransman ini kemudian diikuti oleh orang-orang Belanda. Eropa pada akhir abad ke-18 didominasi oleh kebudayaan Prancis, termasuk makanan, cara makan, pakaian dan lain-lain. Sejak tahun 1750 hingga saat ini, kuliner Prancis menjadi semacam mode. Hal ini dilandasi oleh pengaruh prestise yang besar dari kehidupan istana Louis XIV yang menujukkan kemakmuran dan gaya hidup kelas sosial yang tinggi. Selain tentu saja, penjajahan yang dilakukan oleh Prancis ke seluruh benua Eropa.

Cara ini juga diadopsi oleh orang-orang Jawa (Fadly Rahman menggunakan terma bumiputra pada bukunya) dan cukup diminati hingga kini. Menurutnya, orang-orang Jawa sulit melafalkan fransman, cara ini pun disebut "makan prasman" yang kemudian menjadi "makan prasmanan".

Pengadopsian cara makan ala prasmanan oleh orang Jawa, terutama kaum ningratnya, "menghancurkan" secara perlahan tradisi makan cara tradisional. Pada umumnya, orang Jawa duduk santai di lantai ketika makan dan mengalasi makanan mereka dengan selembar daun pisang atau piring kayu. Sebelum makan, tangan kanan dicuci dengan air supaya nasi yang dikepal tak lengket di tangan sehingga mudah disuapkan ke mulut.

Cara makan dengan hanya menggunakan jari ini cukup berasalan karena makanan Jawa (termasuk Sunda) pada dasarnya lebih disiapkan untuk dimakan sesuap-sesuap serta tidak diperlukan pisau untuk memotong makanan layaknya hidangan Eropa.   

Penggunaan mangkok untuk sup atau sumpit untuk mie baru dikenal setelah masuknya pengaruh Tionghoa ke Nusantara. Aji "Chen" Bromokusumo dalam bukunya Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara (2013) menyebutkan bahwa makanan asli di Pulau Jawa dan sebagian wilayah Indonesia adalah tidak berkuah. Dalam budaya makan di Tiongkok, sudah dikenal makanan berkuah karena pengaruh empat musim, sehingga di waktu musim dingin, diperlukan makanan untuk menghangatkan tubuh, yaitu makanan berkuah dan panas. Begitu pun dengan mie dan segala variannya, yang berasal dari imigran Tiongkok.  

Kembali ke soal resepsi pernikahan. Gustaaf Kusno dalam kolomnya di kompasiana menyebutkan bahwa di Palembang, sebagaian orang Palembang menyebut prasmanan sebagai "makan Prancis". Bahkan, di undangan pernikahan masih sering ditulis "Resepsi ala Prancis". Hal ini untuk membedakannya dengan cara makan "Ciak Tok" (makan meja), yang merupakan ciri khas budaya Tionghoa, di mana tamu undangan dipersilahkan duduk melingkari meja bundar, dan hidangan akan dihantarkan secara berurutan. Sementara itu di Binjai, biasanya makan prasmanan ini lazim disebut sebagai makan jalan.

Kira-kira begitu informasi tentang prasmanan yang berhasil aku kumpulkan. Kamu punya informasi lain tentang prasmanan? Share di kolom komentar yaa!

Sumber: 
Buku Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia masa kolonial 1870-1942
Buku Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara
Majalah Historia edisi 35 tahun 2017, Dari Tangan Hingga Prasmanan
Inilah Asal-Usul Istilah "Prasmanan"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hikayat Souw Beng Kong, Kapiten Tionghoa Pertama dan Nasibnya Sekarang

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Begini Rasanya Bekerja di Komnas Perempuan