Resensi Buku Viral: Gebrakan Kekinian Public Relations di Era Digital


Viral: Gebrakan Kekinian Public Relations di Era Digital karya Nita Kartikasari

Judul: Viral: Gebrakan Kekinian Public Relations di Era Digital
Penulis: Nita Kartikasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2017
Bahasa: Indonesia
Tebal: 192 halaman

Membaca buku Viral: Gebrakan Kekinian Public Relations di Era Digital karya Nita Kartikasari ibarat orang yang tengah tidur siang, seketika bangun karena disiram dengan air es seember. Nita Kartikasari seolah membangunkan semua praktisi Public Relations (PR) dari tidurnya selama ini. Melalui buku ini, Nita menyadarkan para pembacanya bahwa dunia sudah berubah, dan kerja-kerja PR pun harus berubah mengikuti zaman!

Aku jadi teringat dengan teori seleksi alamnya Charles Darwin. Adalah niscaya bahwa segala sesuatu yang tak dapat beradaptasi dengan lingkungan baru, pasti binasa! Begitu pun dengan dunia kehumasan, bila tak mampu menjawab tantangan zaman, niscaya akan digilas zaman! 

"PR yang enggak berubah, pasti mati!" tegas Nita Kartikasari dalam peluncuran bukunya di Plaza Senayan, 13 Oktober 2017.  

Secara garis besar, buku setebal 192 halaman ini terbagi ke dalam tiga bagian yang terdiri dari 14 bab. Bagian pertama mengulas tentang paradigma baru di dunia PR. Bagian kedua membahas tentang PR baru di dunia digital, dan bagian ketiga tentang strategi PR yang mesti berubah.

Nita Kartikasari menulis buku ini dengan tujuan utama mengenalkan paradigma dan cara-cara PR yang baru. Nita Kartiksari memulai bukunya dengan menunjukkan kekagetannya saat kembali ke Indonesia. Ia melihat masih banyak praktisi PR di Indonesia dan beberapa negara ASEAN yang membatasi fungsi-fungsi PR hanya sebatas pada aktivitas membuat press conference. Ia khawatir bila PR masih menggunakan paradigma lama, PR tidak bisa bersaing dengan bidang-bidang lainnya yang sudah bergerak maju. Jika PR masih menggunakan cara-cara lama, profesi ini akan semakin ditinggalkan, bahkan bisa punah karena kehilangan fungsinya dalam organisasi. (Pendahuluan)

PR bisa saja punah mengikuti dinosaurus yang tak mampu beradaptasi dengan alam. Bayang-bayang kepunahan itu nyata di depan mata. 

Kuncinya ada pada inovasi! Nita Kartikasari menegaskan bahwa fondasi bagi eksistensi PR adalah inovasi. Ia mencontohkan saat Ia menyiapkan aktivitas PR berupa press conference untuk sampo Head & Shoulders. Ia tidak ingin membuat press conference dengan jurnalis hanya melihat seorang praktisi PR bicara di depan mereka. Ia ingin melakukan hal yang berbeda. Lalu, Ia membuat konsep press conference dengan mempersilahkan awak media untuk mencuci rambutnya terlebih dahulu dengan sampo Head & Shoulders. Dengan aktivitas keramas ini, para awak media akan mempunyai pengalaman langsung dengan produk tersebut sehingga dapat membedakan produk Head & Shoulders dengan produk lainnya. Setelah para awak media rileks, wawancara dengan brand ambassador bisa dimulai. (Hal 39-42)

Baginya, membuat press release atau press conference saat ini bukan strategi yang memadai untuk pekerjaan PR. Press conference hanya salah satu eksekusi strategi komunikasi, bukan satu-satunya cara berkomunikasi. Press conference bukannya tidak penting, tapi kalaupun itu menjadi pilihan, lakukanlah dengan cara yang berbeda. (Hal 40)

Selain itu, Nita juga menceritakan pengalamannya mengadakan acara nonton bareng El Clasico di Senayan. Tak kurang 20.000 pendukung Barcelona dan Real madrid hadir dan merasakan sensasi menonton di stadion, meski melalui layar lebar. Kegiatan nonton bareng ini selain mendongkrak awareness atas merek, juga meningkatkan sales. 20.000 botol sampo terjual dalam kegiatan tersebut. Para penonton diminta untuk membeli sampo Head & Shoulders di gerai minimarket sebagai syarat untuk bergabung di acara nonton bareng. Bayangkan butuh berapa banyak SPG untuk bisa menjual 20.000 botol sampo dalam waktu singkat? (Hal 81-83).

Selain dua contoh kasus di atas, Nita juga membagi kiat-kiat praktis tentang cara memilih influencers yang tepat dan menetapkan key performance indicator (KPI) yang pas bagi praktisi PR di era digital. Nita juga menceritakan pengalamannya saat retargeting market produk SK-II, dan pengalamannya mengkomunikasikan Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Badan PTSP) DKI Jakarta. Semuanya ditulis tuntas dengan bahasa yang sederhana, sehingga memudahkan pembaca untuk mengerti maksud penulis. 

Yeay dapat tanda tangan!

Bagiku, buku Viral ini menawarkan sesuatu yang tidak ditawarkan oleh buku-buku PR lainnya, yaitu pengalaman langsung dan personal dari penulis sebagai praktisi PR selama lebih dari 10 tahun. Kebanyakan buku PR yang ada, berisi konsep-konsep teoritis yang sering kali sudah tidak pas lagi dengan konteks zaman yang ada. Bila ada buku PR yang menulis tentang kasus-kasus PR, biasanya penulis bukan orang yang langsung terlibat dalam kasus tersebut sehingga terasa ada jarak. Kesederhaan dalam menulis, dan kekayaan dalam pengalaman menjadikan buku ini wajib dibaca utamanya oleh para praktisi PR yang tidak ingin punah. Aku sangat merekomendasikan buku ini buat kamu semua, baik yang baru mau bergelut, maupun yang sudah hilang motivasi di dunia PR! Terakhir, mari membaca, dan let's make it viral! 

Kalau kamu punya pengalaman aktivitas PR yang kreatif, share di kolom komentar yaa!  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hikayat Souw Beng Kong, Kapiten Tionghoa Pertama dan Nasibnya Sekarang

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Begini Rasanya Bekerja di Komnas Perempuan