Trend Media Sosial dan Public Relations di 2017

Perhumas Coffee Morning, "Trend Media Sosial dan Public Relations di 2017"

Jumat, 16 Desember kemarin, aku menghadiri Perhumas Coffee Morning yang membahas Trend Media Sosial dan Public Relations tahun 2017 di Wisma Antara, Jakarta. Perhumas Coffee Morning ini terasa spesial karena juga merupakan bagian dari perayaan ulang tahun Perhumas yang ke-44! Selamat ulang tahun, Perhumas! 

Hadir dalam Perhumas Coffee Morning tersebut, 4 orang narasumber yang ketjeh badai dalam dunia kehumasan, yakni Marianne Admardatine (managing director Ogilvy PR), Deva Rachman (Head of Corporate Communications Group of Indosat Ooredoo), Harry Deje (Digital Technology Burson Marsteller) dan Meidyatama Suryodiningrat (Presiden Direktur Kantor Berita Antara).

Agung Laksamana, ketua BPP Perhumas dalam pembukaan mengatakan bahwa satu-satunya yang pasti di dunia ini adalah perubahan. Tantangan ke depan bagi dunia kehumasan akan semakin kompleks. Persaingan akan semakin ketat karena posisi Public Relations akan diperebutkan bukan hanya oleh praktisi kehumasan tetapi juga dari berbagai latar belakang profesi. 

"Dokter bisa jadi humas, tetapi humas belum tentu bisa jadi dokter" Kata Agung Laksamana.  

Narasumber pertama, Marianne Admardatine mengatakan bahwa dunia saat ini telah berubah, dan dunia Public Relations juga harus berubah. Praktisi Public Relations tidak bisa lagi bekerja sendiri, melainkan harus menerapkan strategi Public Relations 360'. 

Bila dulu Public Relations berdiri sendiri, terpisah dari Advertising, Branding, Social Media, Digital, Media buy, dan disiplin lainnya, maka di 2017, Public Relations harus bisa menggabungkan dan mengarahkan semua disiplin dan semua media untuk mendukung proses komunikasi dari organisasi ke publik.

Press Release yang selama ini merupakan senjata andalan dari Praktisi Public Relations sudah semakin tidak efektif lagi di 2017. Sebagai gantinya, Marianne menyarakan visual story telling, dan third party endorsement

Marriane dalam presentasinya mengutip data dari PR Newswire yang menyatakan bahwa more multimedia = more views. Story telling dengan foto, video dan media lain mendapatkan views 77% lebih banyak dibandingkan dengan tulisan saja. 

Senada dengan Marianne, Deva Rachman juga mengatakan bahwa digital communication akan semakin menguat. Di 2017, 70% penduduk Indonesia akan menggunakan smartphone, dan ini akan mengubah cara kita semua dalam berkomunikasi. 

Orang-orang tidak lagi menonton televisi, melainkan youtube, netflix, dan video on demand apps lainnya. Dalam mencari tahu sesuatu, orang-orang sudah terbiasa dengan googling via smartphone dan tabletnya. Untuk berkomunikasi, sekarang semua sudah menggunakan aplikasi messenger, seperti whats app, dan facebook messenger. Dalam hal berbelanja pun, sekarang lebih mudah dan murah dengan belanja online. 

Namun, menguatnya komunikasi berbasis digital juga mengakibatkan efek negatif yakni Digital Crisis. Hal ini diungkap oleh Harry Deje yang mengatakan bahwa tahun 2016, Burson Marsteller menangani sekitar 10-12 klien yang mengalami krisis komunikasi yang bersumber dari digital. 

Harry mengatakan bahwa saat ini penyebaran informasi melalui digital tidak dapat dihindari lagi, sehingga Praktisi Public Relations juga harus bertransformasi ke digital. Capacity building untuk Praktisi Public Relations menjadi sangat penting. Dari capacity building tersebut, Praktisi Public Relations dapat memaksimalkan peluang yang ada di dunia digital untuk mendukung kerja-kerjanya, dan bersiap bila krisis terjadi. 

Pemateri terakhir, Meidyatama melengkapi materi-materi sebelumnya dengan mengatakan bahwa di 2017, berita-berita hoax akan semakin banyak bermunculan, sehingga kita perlu owned channel yang kuat. 

Meidyatama mengatakan di kota Veles, Macedonia, ada lebih dari 140 website palsu yang memproduksi berita-berita bohong terkait pemilu di Amerika Serikat. Rata-rata pengelola website tersebut adalah anak-anak muda untuk tujuan profit. 

Meydiatama mengutip data dari Pew Research Center yang menunjukkan bahwa 62% pengguna internet dewasa di Amerika Serikat mendapatkan berita dari media sosial. Penelitian dari Reuters Institute for the Study of Journalism juga menunjukkan hal yang senada, yakni 51% mendapatkan berita dari media sosial.

Dalam presentasinya, Meydiatama mengatakan bahwa dalam 3 bulan terakhir menjelang pemilu Amerika Serikat, situs-situs berita palsu tentang pemilu mendapatkan engagement lebih tinggi daripada berita tradisional seperti New York Times, Washington Post, Huffington Post, NBC News, dll. Secara total, 20 berita palsu teratas dari website hoax mendapatkan 8,7 juta shares/reactions/comments di facebook, dibandingkan dengan 20 berita teratas dari 19 situs berita
‘resmi’ yang hanya mendapatkan 7.3 juta engagements di Facebook.

Di Indonesia, keadaannya tidak lebih baik. Sejak 2014, sejumlah situs media online dipalsukan nama domainnya, antara lain liputan6.com dipalsukan menjadi liputan6.com--news.com.

Sebagai penutup, Meydiatama mengatakan, "Think once before you act, twice before you speak, and three times before you post on facebook"

Nah, menurut kamu trend media sosial dan Public Relations di 2017 akan seperti apa? Share yuk di kolom komentar.

Komentar

  1. Ini yang harusnya diatasi oleh pemerintahan IT di indonesia, banyak kali penipuan sekarang dan semakin berkembang

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Apakah PR Harus Cakep?