Memecah Kebungkaman Korban Kekerasan Dalam Pacaran

Suasana diskusi. Sumber: Help Nona

8 Desember lalu, aku diminta oleh seorang teman, Nike Nadia untuk menjadi fasilitator diskusi kelompok kecil tentang kekerasan dalam pacaran. Diskusi ini merupakan rangkaian dari kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang diselenggarakan oleh Help Nona. Tema spesifik diskusinya adalah "bagaimana perempuan dan laki-laki dapat saling bersinergi untuk menghapus budaya kebungkaman?"

Buat kamu semua yang ketinggalan keseruan diskusi kemarin, aku akan cerita melalui tulisan ini yaa!

Aku mulai diskusi kemarin dengan data kasus kekerasan terhadap perempuan yang bersumber dari Catatan Tahunan (Catahu) Komnas Perempuan. Catahu Komnas Perempuan merupakan kompilasi kasus kekerasan terhadap perempuan yang riil terjadi di Indonesia. Catahu Komnas Perempuan mencatat sepanjang tahun 2015, ada 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani. Data kasus tersebut mengalami kenaikan dari tahun 2014, di mana terjadi 293.220 kasus kekerasan terhadap perempuan. 

Komnas Perempuan percaya bahwa data kasus kekerasan terhadap perempuan yang ada merupakan fenomena gunung es. Data tersebut hanya menampilkan kasus yang ada di permukaan saja. Komnas Perempuan percaya bahwa ada lebih banyak perempuan korban yang tidak melaporkan kasusnya, karena berbagai faktor, antara lain takut, malu dan tidak tahu harus melapor ke mana. 

Budaya bungkam tidak muncul dengan sendirinya. Kita semua sebagai bagian dari anggota masyarakat ikut berkontribusi dalam menciptakan budaya yang membungkam perempuan korban kekerasan. Elizabeth Noelle Newmann pada 1970 mengajukan sebuah tesis tentang opini publik yang dikenal dengan Teori Spiral Keheningan. 

Ada beberapa asumsi dasar dari teori ini. Yang pertama, teori ini mengasumsikan bahwa masyarakat memiliki kekuatan untuk mengacam individu-individu yang berbeda pendapat dengan mayoritas masyarakat tersebut. Ancamanya adalah dengan mengisolasi individu-individu yang berbeda pendapat. Noelle Newmann percaya bahwa ketika individu tidak bersepakat dengan opini mayoritas masyarakat, maka ia tidak akan berani menyampaikan pendapatnya karena takut akan diisolasi.  

Dalam konteks korban kekerasan utamanya kekerasan seksual, korban akan cenderung untuk tidak melaporkan kasus yang dialaminya karena pendapat mayoritas masyarakat berbeda dengan pendapat mereka. Dalam persepsi umum masyarakat kita, perempuan korban sering kali dituding menjadi faktor utama terjadinya kekerasan seksual. Mereka kerap dipersalahkan. Mereka dicap "perempuan penggoda" dan oleh karenanya layak untuk mendapat tindak kekerasan seperti yang dialaminya.

Rasa takut akan diisolasi dari masyarakat membuat perempuan korban kekerasan menutup rapat kekerasan yang ia alami.

Lalu gimana caranya mengubah budaya bungkam ini?

Mengacu ke Teori Spiral Keheningan tersebut, ada yang disebut dengan hard core. Hard core ini mewakili kelompok minoritas yang tetap menyuarakan pendapatnya tanpa takut akan diisolasi dari masyarakat. Mereka tahu bahwa ada harga yang harus dibayar dari ketegasan sikap mereka. Para hard core ini memiliki peran penting untuk membalik opini publik.

Kita semua harus menjadi hard core, dengan cara mendukung korban untuk menceritakan kasusnya, dan tidak menyalahkan korban atas kekerasan yang dialaminya. Kita harus peka terhadap lingkungan sekitar, kita harus jeli untuk melihat tanda-tanda kekerasan yang dialami oleh teman-teman terdekat kita. Dengarkan ceritanya, nyatakan kekhawatiran kita, dan tawarkan bantuan yang bisa kita berikan. 

Tidak ada cara lain, selain memulai dari diri sendiri menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi korban kekerasan untuk menceritakan kasusnya. 

Salah satu peserta diskusi menceritakan pengalamannya bahwa ia pernah mempunyai teman yang mengalami kekerasan dalam pacaran. Sebagai teman, ia mencoba untuk menasehati agar temannya tersebut berani mengambil sikap tegas terhadap kelakuan pacarnya. Akan tetapi, justru ia malah dituduh ingin merusak hubungan antara teman dan pacarnya tersebut. 

Ya memang sangat dimungkinkan akan ada drama seperti itu bila kita menyatakan kekhawatiran kita kepada teman kita yang sedang mengalami kekerasan dalam pacaran, sementara dia sendiri merasa baik-baik saja. Namun, itu bukan berarti lalu kita mengambil sikap masa bodo. Kita tetap harus memberikan informasi yang utuh tentang apa yang ia alami. Cari bantuan profesional bila dibutuhkan. Percayalah, bahwa itikad baik tidak akan pernah sia-sia.

Salah satu peserta diskusi bertanya, "Kenapa laki-laki melakukan kekerasan terhadap perempuan?" Aku lantas menjawab dengan mengutip pendapat dari Michael Kauffman, yang mengatakan bahwa setidaknya ada 7P faktor yang menyebabkan laki-laki melakukan kekerasan terhadap perempuan, antara lain budaya patriarkhi yang meletakan laki-laki lebih superior dibanding perempuan, sikap masyarakat yang permisif terhadap pelaku kekerasan, dan pengalaman masa lalu dari laki-laki tersebut. 7P tersebut secara lebih detail pernah aku tulis di sini. 

Satu-satunya peserta laki-laki dalam diskusi ini, bertanya "Gimana sih kita sebagai laki-laki ikut berperan dalam menghapus kekerasan dalam pacaran?"

Hal pertama yang bisa dilakukan adalah dengan tidak menjadi pelaku, baik pelaku aktif maupun pasif. Berikutnya karena kita laki-laki, yang diuntungkan oleh sistem patriakhi, kita bisa masuk ke ruang-ruang diskusi yang tidak bisa dimasuki oleh perempuan. 

Contohnya, karena kita laki-laki, tentu akan lebih mudah bagi kita untuk menegur atau memberi tahu kepada sesama teman kita yang laki-laki untuk tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan. Hal ini sangat bisa dan sangat mungkin untuk kita lakukan.

Diskusi seru ini pada akhirnya harus berakhir juga karena keterbatasan waktu. Sungguh satu kesempatan yang luar biasa buat aku, bisa berbagi tentang isu ini kepada para peserta yang hadir. Bila kamu ingin diskusi juga tentang pelibatan laki-laki dalam penghapusan kekerasan terhadap perempuan, boleh loh tinggalin komentar di kolom di bawah ini! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial