Ulang tahun ke-18, Komnas Perempuan Temu Muka dengan Blogger



Foto-foto dulu bareng blogger ketjeh


Sabtu siang (15/10), Kantor Komnas Perempuan tampak ramai. Tenda putih terpasang di halaman kantor Lembaga Nasional Hak Asasi Manusia ini. Di dalamnya, ada sekitar 30 orang tengah menikmati santap siang. Ceritanya, Komnas Perempuan sedang merayakan ulang tahunnya ke -18, dengan mengundang teman-teman blogger untuk temu muka.

Temu muka dengan blogger ini merupakan temu muka perdana yang diadakan oleh Komnas Perempuan. Kenapa blogger?  Karena Komnas Perempuan percaya bahwa blogger memiliki peran penting dalam penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Yuniyanti Chuzaifah, wakil ketua Komnas Perempuan mengatakan bahwa blogger penting untuk menyuarakan yang tak bersuara  (voice the voiceless)

“Blogger dapat mengisi peran memberi ruang bagi perempuan korban untuk bersuara dan membawa suara itu ke masyarakat” ujar Yuniyanti.

Selain itu, melalui temu muka ini, Komnas Perempuan ingin menjangkau publik muda yang lebih luas, secara anak-anak muda hari ini mencari informasi tidak melalui media massa lagi, tetapi melalui cerita-cerita dari blog. Ke depannya, tidak hanya blogger, Komnas Perempuan juga berencana temu muka dengan teman-teman Youtuber, Selebtwit, Selebgram untuk kolaborasi bersama. 

Selesai santap siang, Komnas Perempuan mengajak teman-teman blogger untuk berdialog. Dialog dipandu oleh Ajeng Kamaratih, mahasiswa kajian gender UI, yang sedang magang di Komnas Perempuan. Ada beberapa topik yang didialogkan. Pelanggaran HAM masa lalu, utamanya Tragedi Mei 1998 menjadi topik utama.

Ajeng memulai dialog dengan bertanya pada teman-teman blogger, apa yang ada di benak mereka tentang Tragedi Mei 1998. Ternyata banyak juga yang menjadi saksi langsung tragedi tersebut. Bahkan, ada juga yang saudaranya menjadi korban tragedi. 

Topik lain yang didialogkan adalah tentang sejarah lahirnya Komnas Perempuan yang unik. Komnas Perempuan lahir atas desakan masyarakat sipil yang marah atas maraknya kekerasan seksual  di Tragedi Mei 1998, tanggal 13-15 Mei 1998. Masyarakat yang marah lalu berhimpun dalam koalisi Masyarakat Anti Kekerasan, yang kemudian mengumpulkan petisi untuk mendesak pemerintah mengambil tanggung jawab. 

Petisi itu lalu diserahkan ke Presiden Habibie di tanggal 15 Juli 1998 di Bina Graha. Dalam pertemuan itu, muncul ide pembentukan sebuah lembaga negara independen yang spesifik untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan.  

Ide itu disetujui oleh Presiden Habibie. Presiden Habibie lalu mengusulkan agar lembaga ini diberi nama Komisi Perlindungan Wanita di bawah Kementerian Peranan Wanita. Terjadi perdebatan, sampai akhirnya disepakati nama Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, yang secara eksplisit menolak kekerasan terhadap perempuan. 

Presiden Habibie juga mengusulkan agar Ibu Ainun masuk ke dalam jajaran pengurus. Namun, ide ini juga ditolak untuk menjaga idependensi dan kemandirian lembaga yang baru akan dibentuk ini.

Pasca pertemuan itu, Keputusan Presiden (Keppres) tentang pembentukan Komnas Perempuan sempat hilang tertelan rumitnya birokrasi, sampai akhirnya Presiden Habibie turun tangan sendiri dan meneken Keppres 181 tahun 1998, sebagai landasan berdirinya Komnas Perempuan, tanggal 9 Oktober 1998. 

Walau Keppres pembentukan Komnas Perempuan diteken tanggal 9 Oktober 1998, Komnas Perempuan tidak merayakan ulang tahunnya di tanggal itu, melainkan tanggal 15 Oktober 1998, yang merupakan hari pertama Komnas Perempuan bertemu dengan korban. Komnas Perempuan memaknai hari lahirnya secara esensial, tepat di hari ia bekerja untuk korban.

Dirgahayu Komnas Perempuan!

Spirit bekerja untuk korban ini, kemudian mendasari setiap sendi aktivitas Komnas Perempuan, maka tak heran bila Komnas Perempuan mengambil tema Hadir, Sedia dan Bekerja untuk Korban sebagai tema penghayatan 18 tahun perjalanan Komnas Perempuan. 

Semoga perjalanan ke depan, Komnas Perempuan tetap setia bekerja untuk korban! Selamat ulang tahun kantorku, dirgahayu Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan! 

Kamu punya harapan untuk Komnas Perempuan, share di kolom komentar ya!








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Apakah PR Harus Cakep?