#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial

Foto bersama dulu bersama para suhu media sosial Dok ICRC Indonesia

Pagi ini aku tidak berangkat ke kantor seperti biasa, melainkan ke The 101 Jakarta Sedayu Darmawangsa. Ceritanya aku akan menghadiri undangan social media officer gathering yang diadakan oleh International Committee of the Red Cross (ICRC) Indonesia

Gathering ini mengambil tema #Digital4Humanity: Communicating humanitarian issues to targeted audience, dengan narasumber Nukman Lutfie, suhu media sosial, Ainun Chomsun dari Akademi Berbagi, Rafael Klavert dan Vania Santoso dari Unicef Indonesia, serta Fitri Adi Anugrah, Deputy Communications ICRC Indonesia

Senang sekali rasanya mendapat undangan untuk menghadiri pertemuan ini. Selain mendapat banyak insight baru dari para narasumber, aku juga punya ruang untuk berbagi dengan sesama social media officer tentang pengalaman mengkomunikasikan isu kemanusiaan melalui media sosial ke audiens. 

Ada yang bilang bahwa ilmu tidak akan berguna bila tidak dibagikan. Nah, melalui tulisan ini, aku akan membagikan ilmu yang aku dapat dari diskusi pagi tadi. Semoga berkah untuk kita semua. 

Pemateri pertama, Nukman, mengawali presentasinya dengan mengajak hadirin membuang jauh anggapan bahwa media sosial itu terbatas. Walaupun twitter hanya menyediakan 140 karakter untuk tiap tweet, tetapi hal itu bisa diakali dengan membuat tweetseries. Nukman menjelaskan kunci dari komunikasi melalui media sosial adalah 3C (Community ~ who you do it for , Content ~ What you create/share, and Conversations ~ how you engage). Nukman juga menjelaskan untuk mendapatkan engage dari audiens, konten harus menyetuh emosi. Di sini, peran copy writing menjadi sangat penting. 

Lanjut ke pembicara kedua, ada Ainun Chomsun, founder akademi berbagi. Ainun memulai presentasinya dengan cerita lahirnya akademi berbagi. Ainun menekankan tentang pentingnya menentukan tujuan dan target audiens di awal. Tujuan dan target audiens yang jelas akan menghasilkan strategi komunikasi yang jelas pula. Institusi yang ingin terjun ke dunia media sosial tidak perlu juga punya akun di semua platform. Institusi harus mengukur kemampuan dirinya karena di balik akun media sosial ada officer yang bekerja.. Target audiens juga harus spesifik. Ketika kita menargetkan semua orang, itu sama dengan kita tidak sedang menargetkan siapa-siapa. Terakhir, Ainun juga mengingatkan tentang pentingnya gerakan sosial memiliki branding. Gerakan sosial pun harus punya mantra. 

Lanjut lagi ke pembicara berikutnya, Rafael Klavert dan Vania Santoso dari Unicef Indonesia. Rafael lebih banyak membahas soal bagaimana Unicef memanfaatkan media sosial untuk mempengaruhi kebijakan. Kita tentu sering mendengar kekuatan netizen dalam mempengaruhi kebijakan. Rafael mencontohkan kasus Hakim Daming yang batal jadi hakim agung karena netizen. Sementara itu, Vania Santoso banyak membahas tentang U-Report Indonesia, yang merupakan wadah mengumpulkan suara anak muda untuk mempengaruhi kebijakan melalui platform Direct Message Twitter. 

Pembicara terakhir, yang paling kece menurutku, ada Fitri Adi Anugrah dari ICRC Indonesia. Fitri menceritakan bagaimana tantangan yang dihadapi dalam mengkomunikasikan pesan kunci ICRC Indonesia ke audiens. Fitri mencontohkan rumitnya menjelaskan Hukum Humaniter Internasional ke dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. 

Memang kadang ada istilah-istilah yang rumit yang kalau bahasanya disederhanakan, kemungkinan malah mengubah arti. Aku sering menghadapi situasi ini, misalnya bagaimana menyederhanakan frasa pelanggaran HAM berat masa lalu, atau misalnya relasi kuasa yang timpang. Di sinilah letak tantangannya menjadi seorang social media officer for humanity issues. 

Satu hal yang pasti, untuk menghasilkan satu postingan yang tepat sasaran, berguna dan viral diperlukan pemikiran yang dalam, analisa yang tajam, kreativitas, dan trial and error terus menerus, apalagi untuk isu kemanusiaan.  

Kamu punya pengalaman menjadi social media officer juga? Share di kolom komentar yaa! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Apakah PR Harus Cakep?