Menulis dengan Prespektif Feminis di Pasar Santa

Suasana diskusi di Post Pasar Santa
Kalau biasanya hari Minggu selalu aku habiskan dengan berlenyeh-lenyehan, kali ini tidak demikian. Minggu lalu, 10 Januari, aku habiskan dengan mengikuti sharing session Menulis dengan Prespektif Feminis di Post Pasar Santa. Sungguh sebuah pengalaman yang menyenangkan, bisa berkumpul dengan penulis dan feminis muda!

Pagi itu dengan sedikit tergesa-gesa, aku memesan GrabBike dan langsung tancap gas menuju Pasar Santa di Kebayoran Baru. Ini pertama kalinya aku ke Pasar Santa, yang katanya sangat ngehips sekali di kalangan Anak Gaul Jakarta. Persentuhanku dengan Pasar Santa meninggalkan kesan yang baik, sayangnya pagi itu, belum banyak kios yang buka. 

Berjalan pelan menyusuri lorong-lorong sambil mengamati lekat-lekat suasana pasar, akhirnya aku tiba di Post yang berada di tengah-tengah lantai atas Pasar Santa. Tidak seperti kios-kios lain di Pasar Santa yang menawarkan makanan dan minuman, Post menjadikan buku sebagai jualan utamanya. Buku-Buku di Post tidak seperti buku-buku yang ada di Gramedia, Post menawarkan buku-buku yang berbeda. Buku-buku di sini diterbitkan penerbit indi yang jarang mendapat kesempatan menjual bukunya di toko buku besar. 

Tiba di Post pukul 9 pagi, sudah ada beberapa orang yang duduk berkumpul sembari mengobrol dengan asyiknya di sana. Aku pun berkenalan satu per satu. Ada Maesy Angelina dan Teddy Kusuma, pemilik Post. Ada juga Ayunda Nurvitasari dan Syarafina Vidyadhana, duo narasumber yang ketje banget, plus ada Josefine Yaputri, yang aku kenal lebih dulu melalui tulisan-tulisannya di SenjaMotika. 

Tepat pukul 10, diskusi pun dimulai. Syarafina Vidyadhana atau yang lebih akrab dipanggil Avi ini, memulai presentasinya dengan penjelasan mengenai feminisme. Avi menjelaskan bahwa Feminisme itu bukan tentang membenci laki-laki, bukan pula isu barat dan bukan hanya dari, oleh, dan untuk perempuan semata. Feminisme bukan tentang perempuan yang menafikan sisi feminimnya untuk bisa dianggap sekuat laki-laki.     
Secara sederhana, feminisme adalah paham yang percaya bahwa ada ketidakadilan di dunia ini antara gender yang superior (maskulinitas - laki-laki ) dengan gender yang inferior (feminimitas - perempuan). Feminisme adalah tentang memperjuangkan kesetaraan bagi seluruh umat manusia, apa pun gender dan identitas seksualnya.  

Setelahnya, gantian Ayunda Nurvitasari, reporter The Magdalene menjelaskan tentang tulisan feminis. Hal utama, yang membedakan tulisan feminis dengan tulisan yang bukan feminis adalah pemilihan angle, konteks dan kritik yang ingin disampaikan. Angle adalah sudut pandang yang dipilih. Banyak tulisan tentang perempuan, tapi tidak menggunakan sudut pandang perempuan. Konteks adalah bingkai yang menentukan bagaimana penulis menulis tentang suatu topik. Kritik adalah pendapat yang disampaikan tentang sesuatu yang salah. Kritik adalah kunci yang memberikan nyawa bagi tulisan. Tulisan feminis juga harus bebas dari sesat pikir, yang biasanya berupa bias gender, generalisasi, misoginis dan biner. 

Bagiku, setidaknya sampai sekarang, tulisan yang berasa feminisnya adalah Entrok karya Okky Madasari dan Menyusu Ayah karya Djenar Maesa Ayu. Kedua karya tersebut menceritakan tentang bagaimana perempuan menjadi perempuan dengan segala kerentanannya. Buat kamu yang belum baca, silakan cepat-cepat beli!

Hal utama yang mendasari mengapa penting menulis dengan perspektif feminis adalah bahwa kita hidup di zaman yang dipenuhi oleh tulisan-tulisan phallosentris yang mengabaikan narasi ketubuhan perempuan. Tubuh perempuan tidak dianggap sebagai subjek, ia adalah liyan yang dilupakan. 

"Women must put herself into the text, as into the world and into history by her own movement" ~ Helen Cixous

Perempuan, tidak terbatas pada identitas biologis, harus menulis tentang pengalaman ketubuhannya. Narasi-narasi itu harus diletakkan sama pentingnya dengan narasi-narasi lain. Jika tidak, maka ia akan hilang.   

Ngomong-ngomong, ini merupakan kedua kalinya, aku mengikuti kelas menulis dengan prespektif feminis, setelah yang pertama, diadakan oleh Yayasan Jurnal Perempuan, tahun 2014. Aku tidak bosan untuk mengikuti diskursus ini, karena selalu ada cerita menarik dari individu-individu yang unik-unik.

oleh-oleh dari Post Pasar Santa
Seri menulis dengan perspektif feminis selesai sekitar jam 13.30, aku tidak terburu-buru untuk meninggalkan Post, tentu karena penasaran dengan koleksi buku-bukunya. Sekitar pukul 3 sore, aku beranjak dari Post dengan menenteng beberapa oleh-oleh sembari mengucap janji akan kembali ke sini secepatnya.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial