White Ribbon Day di Kantor Australia Awards Indonesia

Foto sama Om Jeff, Direkturnya Australia Awards Indonesia
Tanggal 25 November adalah tanggal yang sakral. Tanggal ini diperingati sebagai Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan Internasional, dan diperingati tiap tahunnya di lebih dari 170 negara termasuk Indonesia. Tanggal 25 November dipilih untuk menghormati perjuangan Mirabal bersaudara yang dibunuh tanggal 25 November 1960 oleh rezim jenderal Rafael Trujillo, diktaktor di Republik Dominika, negara di laut Karibia, Amerika Tengah. 

Nah, tanggal 25 November kemarin, Komnas Perempuan diundang sama teman-teman Australia Awards Indonesia (AAI) untuk mengisi diskusi tentang potret kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Diskusi ini diikuti sekitar 30 staff AAI. Aku ke sana bareng Mariana Amiruddin (Komisioner), Catherine Emily (relawan dari Australia) dan Estu Sarwo Mukti, mahasiswi HI Undip yang lagi magang di Komnas Perempuan.  

Suasana diskusi di kantor AAI

Dari diskusi ini, aku baru tahu bahwa tidak hanya Indonesia yang memiliki masalah dalam isu kekerasan terhadap perempuan, tetapi juga Australia yang notabene adalah negara maju.

Data di Australia yang dirilis oleh organisasi White Ribbon, menyebutkan bahwa 

"On average, more than one woman per week is killed by a current or former partner. This deeply disturbing fact is only one tragic part of the bigger story surrounding domestic violence"

Rata-rata, tiap minggu, ada lebih dari satu perempuan yang dibunuh oleh pasangan atau eks pasangannya. Ini gilak banget enggak sih! 


"More than a million women had experienced physical or sexual assault by their male current or ex-partner since the age of 15"

Ada lebih dari 1 juta perempuan di Australia mengalami kekerasan fisik atau seksual dari pasangan atau eks pasangannya sejak usia 15 tahun. 

Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa isu kekerasan terhadap perempuan tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang saja, tetapi juga di negara-negara maju. Isu kekerasan terhadap perempuan terjadi di mana saja, lintas agama, lintas etnis dan lintas kelas sosial.  

Australia sendiri sedang getol-getolnya memerangi kekerasan domestik. Kekerasan domestik tidak hanya kekerasan yang dilakukan dalam lingkup rumah tangga saja (KDRT), tetapi lebih luas, mencakup kekerasan yang dilakukan oleh pacar, mantan pacar, dan mantan suami. 

Banyak kampanye yang dilakukan, salah satunya adalah kampanye White Ribbon (Pita Putih). Sasaran kampanye ini adalah laki-laki agar tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan. Kalau di Indonesia, inisiatif seperti ini juga sudah ada, misalnya Aliansi Laki-Laki Baru atau Laki-Laki Peduli.

Laki-laki dan Perempuan sama-sama menghapus kekerasan terhadap perempuan
Kenapa laki-laki yang disasar dalam kampanye ini? Ini karena isu kekerasan terhadap perempuan bukan isu perempuan sendiri, tetapi isu laki-laki juga. Isu kekerasan terhadap perempuan, isu kita semua sebagai umat manusia!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial