Cerita Jakarta tentang Tragedi Mei 1998

"Karena Jakarta tak hanya Monas dan Bunderan HI ...."



Kota sebagaimana otak kita, mampu merekam segala peristiwa yang terjadi. Semuanya disimpan dengan baik, dan dikomunikasikan melalui bangunan, situs-situs memorialisasi dan interaksi antar penduduknya. Aku yang belajar Ilmu Komunikasi percaya bahwa pesan tidak hanya hadir melalui kata-kata, arsitektur bangunan dan bentuk jalan pun merupakan pesan yang bisa kita maknai. Namun, sebagaimana pesan, kadang banyak noise (gangguan) yang mengakibatkan pesan yang ingin disampaikan mengalami ketidakjelasan (distorsi). 

Jakarta, sebagai kota pun demikian. Ia sesungguhnya sedang berkomunikasi dengan kita, hanya sering kali, kita tidak sadar akan itu. Jakarta yang sudah berusia lebih dari 400 tahun, tentu menyimpan banyak memori di dalamnya dan ingin sekali membagi memori itu dengan kita. Nah, melalui tulisan ini, aku mencoba untuk ikut membantu Jakarta dalam bercerita.


Aku di depan Prasasti Mei 1998, TPU Pondok Ranggon. dok pribadi

Siapa lagi yang ingin mengingkari bahwa Tragedi Mei 1998 benar ada dan nyata terjadi? Anak-anak tidak bersalah digiring ke dalam Mall, yang kemudian dikunci dan dibakar. Mayat-mayat itu banyak yang tidak berhasil diidentifikasi dan dikubur secara massal di TPU Pondong Ranggon, Jakarta Timur. Pemprov DKI di bulan Mei 2015, telah meresmikan Prasasti Mei 1998 di komplek makam massal korban Mei 1998 di TPU Pondok Ranggon. 


Prasasti Jarum Mei 1998 di Klender, Jakarta Timur. Jarum sebagai simbol menjahit kembali luka-luka yang robek. Dok Komnas Perempuan

Selain di TPU Pondok Ranggon, Prasasti sebagai pengingat Tragedi Mei 1998 telah lebih dulu dibuat oleh Ibu-Ibu korban di Klender, Jakarta Timur. Adanya Prasasti ini sebagai bagian dari pengingat dan pemulihan bagi keluarga korban, juga sebagai penghormatan bagi korban. 


Titik penembakan mahasiswa Trisakti di Mei 1998. Ada 4 Titik di area kampus ini. Dok Komnas Perempuan

Peserta Napak Reformasi berfoto di depan Monumen Trisakti. Dok Komnas Perempuan
Museum Trisakti. Dok Komnas Perempuan
Tragedi Mei 1998 juga identik dengan demonstrasi mahasiswa yang dijawab dengan arogan oleh rezim orde baru dengan penembakan. Titik-titik penembakan dapat dilihat di Museum Trisakti, yang ada di dalam kampus Trisakti, Grogol, Jakarta Barat. Selain itu, ada juga Monumen Trisakti sebagai simbol penghormatan bagi para mahasiswa yang menjadi korban penembakan.



Makam Soew Beng Kong. Sumber https://www.flickr.com/photos/greenmapjakarta/5107535315

Nama Soew Beng Kong memang tidak setenar Fatahillah. Walau demikian, perannya dalam membangun Jakarta tidak bisa dipandang sebelah mata. Dialah Kapitan pertama yang ditugaskan untuk membangun pelabuhan Batavia pada masa itu. Makamnya terletak di Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Utara, menyelip di antara ruko-ruko yang ada di sepanjang jalan itu. 

5. Kantor Komnas Perempuan

Peserta Napak Reformasi dari Summer School berfoto di depan Komnas Perempuan, dok Komnas Perempuan
Komnas Perempuan adalah bukti paling sahih bahwa perkosaan massal dalam Tragedi Mei 1998 adalah benar adanya. Komnas Perempuan adalah Lembaga Negara pertama yang didirikan pasca Mei 1998. Kantornya di Jalan Latuharhari 4B, Menteng juga merupakan sebuah situs sejarah pengakuan negara untuk bersungguh-sungguh melindungi warga negara. 

Karena Jakarta tidak hanya Monas dan Bunderan HI, sesungguhnya ada banyak tempat menarik yang bisa kamu kunjungi di Jakarta. Komnas Perempuan pun sudah menginisiasi kegiatan yang namanya Napak Reformasi. Napak Reformasi ini seperti city tour tapi yang dikunjungi adalah titik-titik bersejarah dalam konteks Tragedi Mei 1998 di Jakarta. Paduan Napak Reformasi bisa diunduh di sini. Tanggal 2 Agustus kemarin, teman-teman dari Summer School juga melakukan Napak Reformasi. bukan main deh!

Peserta Napak Reformasi dari berbagai negara datang ke TPU Pondok Ranggon

Aku mendapat kehormatan menjadi narator, menceritakan tentang Mei 1998 ke peserta Napak Reformasi dari berbagai Negara

Kalau kamu, kapan mau Napak Reformasi?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial