Kunjungan Freedom Institute ke Komnas Perempuan

Kunjungan Freedom Institute ke Komnas Perempuan
Komnas Perempuan menerima kunjungan dari Freedom Institute yang mengajak serta mahasiswa-mahasiswi dari Universitas Wahid Hasyim Semarang (08/04/2013). Mahasiswa-mahasiswi ini memperoleh fellowship dari Freedom Institute yang kegiatannya berkunjung ke beberapa lembaga yang diharapkan bisa memberikan sharing pengalaman diantaranya adalah Komnas Perempuan. Kehadiran 5 orang mahasiswa dan mahasiswi ini diterima oleh komisioner Komnas Perempuan Neng Dara Affiah dan Theresia Yulianti dari Divisi Partisipasi Masyarakat sekitar pukul 15.00 WIB. Di awal pertemuan ketua Komnas Perempuan, Yuniyanti Chuzaifah menyempatkan hadir, menyapa dan menyambut baik kunjungan ini.

Ketua Komnas Perempuan, Yunianti Chuzaifah menyempatkan diri untuk bertemu
Kunjungan ini bersifat study visit dan berlangsung selama kurang lebih 90 menit. Di awal kunjungan, Theresia Yulianti mempresentasikan tentang Komnas Perempuan. Dalam presentasinya, ia menyampaikan tentang sejarah, visi, misi, kampanye dan segala seluk beluk Komnas Perempuan. Selesai presentasi, teman-teman mahasiswa yang datang dipersilahkan untuk berdiskusi.

Diskusi berlangsung sangat cair. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul terutama mengenai proses penyelesaian kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi. Salah satu mahasiswa, Angga Dwi Handoko menanyakan tentang pemantauan yang dilakukan oleh Komnas Perempuan terhadap penyelesaian kasus di lembaga mitra yang dirujuk. Pertanyaan ini langsung dijawab oleh Neng Dara Affiah dengan mengatakan bahwa Komnas Perempuan selalu memantau proses penyelesaian kasus kekerasan seksual di lembaga-lembaga mitra yang terkait.

“Penyelesaian kasus-kasus kekerasan seksual selalu kami pantau. Bila ada kemacetan dalam proses ini, Komnas Perempuan akan menyurati instansi terkait,” tutur Neng Dara Affiah.

Mahasiswa yang lain menanyakan tentang isu transgender. Neng Dara Affiah menjelaskan bahwa kelompok transgender termasuk salah satu isu prioritas dan dikatergorikan sebagai kelompok rentan. Walau begitu, sejauh ini pengaduannya tidak banyak karena mereka memiliki komunitas sendiri.

Suasana diskusi

“Kekerasan yang masih dominan di Indonesia antara lain KDRT, trafficking dan kekerasan berbasis agama,” tambah Neng Dara.
Ada lagi yang menanyakan tentang pemiskinan perempuan.

“Yang dimaksud dengan pemiskinan perempuan itu apa ya?” tanya Inarotul Ahadah.

Neng Dara Affiah kembali menerangkan bahwasanya, “Pemiskinan perempuan adalah perempuan-perempuan yang secara struktur dimiskinkan oleh sistem ekonomi sosial pemerintah Indonesia. Misalnya, ganti rugi penjualan tanah, buruh migran dan lain-lain.”
“Komnas Perempuan juga melakukan pemantauan di tahanan dan serupa tahanan. Banyak kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di tahanan misalnya kesulitan menemui keluarga terutama anak dan banyak pelecehan juga terjadi,” ujar Neng Dara.

Beliau menjawab pertanyaan terakhir dari Indra yang menanyakan tentang kekerasan yang dialami perempuan di tahanan.

“Biasanya Komnas Perempuan akan mengirim surat ke instansi yang terkait,” tambah Theresia sekaligus menutup diskusi ini. (ew)


Nb : Tulisan ini diambil dari situs komnas perempuan. Tulisan ini aku yang tulis dan diedit oleh redaksi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial