Jelajah Garut Bersama I-Focus Fikom Untar


Paradijs Van Oosten
Garut merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang keindahannya sungguh menakjubkan. Keindahan-keindahan tersebut bahkan sudah mencuat ke dunia, jauh sebelum republik ini berdiri. Orang-orang Belanda zaman dulu bahkan menobatkan Garut sebagai Paradijs van Oosten atau surga dari timur. Dengan udara pegunungan yang sejuk, sinar mentari yang hangat, keunikan budaya lokal ditambah keanekaragaman tempat wisata, tak heran kota yang tahun depan genap berusia 200 tahun ini, mendapat julukan itu.

Aku mendapat kesempatan untuk mengunjungi kota dodol ini. 24 Februari kemarin, aku dan rombongan I-Focus bertolak meninggalkan penatnya Jakarta menuju Garut. Perjalanan tidak begitu lama  karena akses jalan baru sudah dibuka. Hanya dibutuhkan sekitar 5 jam perjalanan. Sesampainya di Garut, udara segar seolah menyambut kedatangan kami. Kami menginap di Wisma PKPN, tepat di jantung kota Garut.

Udara sejuk membuat kami kelaparan, dan aroma jajanan pinggir jalan pun seakan memanggil kami untuk singgah. Mulai dari serabi, baso, gulai, sop, sampai martabak. Sampai-sampai kami dibuat bingung harus memilih yang mana. Kami putuskan batagor menjadi santap sore ditemani dengan es kelapa muda. Sungguh perpaduan yang pas sebagai makan pembuka kami di kota yang terkenal akan budaya adu dombanya ini.

Wanita di atas awan

Malam pun tiba, kami semua berkumpul di aula, karena sebentar lagi acara I-Focus goes to Garut akan dibuka. Bagi yang belum tahu, I-Focus merupakan perkumpulan mahasiswa yang tertarik di bidang Fotografi yang ada di Fikom Untar. Acara ini terselenggara sebagai lanjutan dari program kerja I-Focus untuk menjadi perkumpulan fotografer yang disegani. Sebelumnya, I-Focus pernah mengadakan hunting foto serupa di pantai Pangandaran.

Acara pun resmi dibuka, dan tiba-tiba saja ada kue ulang tahun yang dibawa ke dalam aula diiringi lagu selamat ulang tahunnya Jamrud. Tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, akan ada kue ulang tahun buat aku pada acara ini. Ya aku memang berulang tahun pada tanggal 24 Februari. Sungguh merupakan pesta kejutan yang luar biasa. Kebersamaan begitu terasa di sini.

Keesokan paginya, aku dan rombongan langsung memulai sesi foto dan puncak Drajat menjadi tempat kami yang pertama. Pemandangan yang luar biasa menyapa kami pagi itu, rangkaian pegunungan dan awan-awan menjadi sarapan kami. Luar biasa sekali menyaksikan sendiri karya Tuhan yang begitu sempurna, tidak salah apabila Garut dijuluki Surga dari Timur. 

Bunga dan Surga
Puas dengan puncak Drajat, kami melanjutkan perjalanan ke kawah Kamojang. Pemandangan lebih luar biasa lagi yang kami dapati. Kawah-kawah belerang menjadi objek foto kami selanjutnya. Tidak hanya mengabadikan keindahan kawah, kami juga diberi kesempatan untuk mencoba terapi uap yang ada. Sungguh luar biasa pemandangan yang ada, yang tidak mungkin kita semua jumpai di ibu kota.

Jelang tengah hari, rombongan kembali ke penginapan untuk beristirahat. Sore harinya, rombongan kembali bersiap, tujuan selanjutnya candi Kamojang. Candi Kamojang merupakan candi yang dibangun sekitar abad ke VIII Masehi. Candi ini terletak di tengah-tengah danau, jadi kita harus menumpang perahu untuk sampai ke candi tersebut. Sayangnya, ketika rombongan sampai, hujan deras menguyur. Kami tak sempat mengabadikan candi tersebut, kami kembali ke penginapan sebelum gelap tiba.

Kawah Kereta
Malam berikutnya, kami berendam air panas di daerah Cipanas. Mumpung berada di Garut, sangat disayangkan apabila tidak menikmati air panas alami yang ada. Menjelang tengah malam, kami bergerak menuju alun-alun. Dari masyarakat sekitar, kami diberi tahu bahwa biasanya anak muda Garut berkumpul di alun-alun.

Kami pun sampai di alun-alun, dan lagi-lagi kami dikejutkan oleh apa yang kami lihat. Ada banyak mobil yang sedang nge-drift di alun-alun seolah merayakan malam. Tidak hanya mobil, bahkan becak-becak pun turut ambil bagian. Tidak pernah sedikit pun terbayang, di Garut ada pemandangan seperti ini. Bayangkan saja, ada banyak mobil yang nge-drift di jalanan, sungguh sebuah pemandangan yang bahkan jarang dijumpai di ibu kota. Kami dibuat terpana.

Keesokan harinya yang juga merupakan hari terakhir kami di Garut, kami mengabadikan kebudayaan adu domba. Setiap minggunya, domba-domba Garut diadu di lapangan. Kata masyarakat di situ, tradisi ini sudah turun temurun ada di Garut. Domba yang menang dalam aduan, harganya bisa menyentuh angka 10 juta. Sungguh angka yang cukup fantastis.

Selesai dari aduan domba, kami bergegas kembali ke ibu kota dan tak lupa membeli oleh-oleh khas Garut, apalagi kalau bukan dodol. Sungguh unforgettable journey menjelajah Garut. (Elwi)

Komentar

  1. salam gan ...
    menghadiahkan Pujian kepada orang di sekitar adalah awal investasi Kebahagiaan Anda...
    di tunggu kunjungan balik.nya gan !

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial