[Miris] : Ke mana Kosa Kata Kanak-Kanak

Putu Elmira sedang memberikan pelajaran
Siang itu, sabtu tanggal 17 September 2011, aku punya janji untuk bergabung bersama teman-teman Agent of Hope, untuk memberi les kepada anak-anak kurang mampu di daerah Tanjung Duren, Jakarta Barat. Letaknya di sebuah Mesjid, dekat pinggiran kali yang bau dan jorok. Kemiskinan terhampar jelas di sini, berbanding terbalik dengan kehidupan glamor masyarakat metropolis ibu kota.

Nurul Khotimah berfoto dengan salah satu anak didik
Kami ada bersebelas siang itu, terdiri dari berbagai kampus, tidak saling mengenal, tapi kami punya satu kesamaan, sama-sama peduli terhadap anak-anak marjinal ibu kota. Di pelataran mesjid yang tak terlalu luas itu, kami mengajarkan pelajaran matematika kepada anak-anak itu. Mereka dengan suka cita menyambut kehadiran kami.

Ada satu hal menarik yang membuat saya sedikit tergelitik bila mengingat kejadian siang itu. Ada satu anak didik saya, Novi namanya, seorang bocah kelas 6 SD. Di sela-sela ia mengerjakan soal matematika yang saya berikan, saya sempat bertanya tentang hobi dia, ia pun menjawab dengan antusias. “Novi suka bernyanyi, kak” ujarnya. “Novi suka nanyi lagu apa ?”, tanyaku lagi, dan jawabannya ini yang mengelitik hati saya.


“Novi sukanya nanyi lagu Cherry Belle sama lagunya SM*SH, kak”


Astaga Ojannnn. . .
Bayangkan seorang bocah kelas 6 SD, lagu kegemarannya Cherry Belle dan SM*SH..!!

Mengutip di situs metrotvnews.com, fenomena ini tidak bisa dianggap sebelah mata, bahkan ada seorang pakar psikolog, Rusdiah Agustina, mengatakan bahwa kosa kota anak-anak zaman sekarang sudah tercemar oleh kosa kata orang dewasa. Lirik lagu orang dewasa yang mengandung kata-kata vulgar seperti "bajingan", "selingkuh", "bercinta", atau "kurang ajar", "hamil", menjadi sedemikian mudah diucapkan anak-anak tanpa mereka tahu artinya.

Bahkan menurut Rusdiah, tidak jarang ada orang tua yang bangga mendengarkan anaknya sudah bisa melafalkan lagu-lagu orang dewasa itu. konsultan psikolog anak dan keluarga itu merasa prihatin dengan tidak berkembangnya lagu anak-anak di Indonesia. "Setidaknya dengan tayangan bermutu, mentalitas anak-anak Indonesia bisa terbentuk dengan baik," kata Rusdiah Agustina.


Sontak, saya merasa beruntung lahir di tahun 90-an, dan masih bisa mendengar lagu anak-anak, seperti yang dibawakan Trio Kwek-Kwek, Sherina, Joshua dan Tina Toon.(Elwi-Oranye-Fikom Untar)

Komentar

  1. haa... ya ampun, dulu aku mana pernah denger kata kata macam itu. anak anak jaman sekarang kayaknya udah biasa aja kalo denger kata kata itu.

    kadang ada juga orang tua yang malah ketawa ngeliat anaknya nyanyiin lagu lagu dewasa, justru dengan tawaan itu anak anak makin senang menyanyikan lagu lagu itu. yang sebenarnya sama sekali tidak baik buat mereka.

    BalasHapus
  2. bener banget tuh, anak2 jaman sekarng bahkan yang batita pun tahunya lagu cinta2an, miris banget . . . satu2nya jalan, jauhi anak2 dari tv atau awasi mereka , entah kenapa jaman sekarang semakin 'rawan' buat anak kecil

    BalasHapus
  3. bener...

    trus musti gmna coba? realitanya uda begono..

    BalasHapus
  4. miris emang ya, mereka kehilangan masa kanak2nya kalo seperti ini.
    eh Agent of Hope itu kalo mau berpartisipasi gimana?

    BalasHapus
  5. terkadang dunia anak semakin terhilangkan,, mungkin karena media yang terlalu banyak menampilkan tayangan musik dewasa.. kita rindu acara seperti tralala-trilili #eh

    BalasHapus
  6. cukup miris memang.. mengingat, walaupun memori di otak saya penuh dengan kata-kata yang tidak senonoh, setidaknya itu saya dapatkan sewaktu sudah besar. Saya pernah menjadi anak kecil yang menyanyikan lagu yang pantas untuk dinyanyikan anak kecil, dan mengucapkan kata yang pantas diucapkan oleh anak kecil.. Saya hanya mendengar lagu anak-anak di spacetoon, selain itu,, tidak ada.

    BalasHapus
  7. kalo mau bergabung di agent of hope, boleh langsung bergabung. Setiap sabtu, ngumpulnya jam 12 di kampus 2 Untar, sebelum berangkat ngajar. . hehe .

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial