Aku, Green Peace dan Aksi untuk Jepang


29 Maret 2011, sekitar pk. 15.00... Sebuah deringan mengusik lamunanku tanda ada pesan singkat masuk. Saat itu, aku sedang berada di kelas mengikuti perkuliahan di Fikom Untar. Lalu aku merogoh saku, dan ternyata sebuah pesan singkat dari Green Peace, yang mengajak untuk turut ikut dalam aksi solidaritas untuk Jepang di bunderan Hotel Indonesia.



Aku merupakan salah satu aktivis Green Peace yang baru saja bergabung. Sepertinya belum ada setengah semester aku menjadi bagian dari LSM lingkungan ini, dan ini merupakan aksi pertamaku, so sudah dapat dipastikan aku sangat bersemangat untuk mengikuti aksi ini.


Sekitar pk 17.00 aku berangkat dari kampus ke bunderan HI, tentu saja dengan menggunakan Bus TransJakarta atau yang sering disebut Busway. Butuh sekitar 40 menit untuk menembus macetnya ibu kota sore itu.



Sesampainya di sana, sudah terlihat kerumuman orang berpakaian hitam sembari membawa lilin, aku pun lantas menuju ke kerumunan itu. Aku pun dengan sigap mengeluarkan kamera untuk mengabadikan beberapa momen. Setelah cukup puas bermain dengan kamera, aku pun turut bergabung dengan aktivis green peace lainnya.



Ada Sekitar 100-an aktivis sore itu, dan tak ada satu pun yang aku kenal, tapi tak mengapa, karena kesamaan visi dan perjuangan sudah cukup menyatukan kami semua.



Ada 2 orang yang didaulat untuk berorasi, aku tak tahu siapa mereka, mungkin ketua Green Peace. Setelah berorasi, rombongan melalukan long march menuju ke kedutaan besar Jepang. Bunderan HI, kami belah. Sambil memegang lilin, rombongan berjalan dengan tertib.




Sesampainya di kedutaan besar Jepang, kami menyerahkan sebuah rangkaian bunga, tanda simpatik kami atas krisis nuklir yang terjadi di Jepang. Semoga Jepang tetap tegar menghadapi musibah ini.



Aksi ini sendiri kemudian berakhir sekitar pukul 18.30 . Aku pun bergegas pulang.


Tetap Semangat Jepang. ! Ban Zai. .



Baca juga berita dari situs Green Peace


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Apakah PR Harus Cakep?