Antara Aku, Sisca dan Tukang Ikan Cupang

Kisah ini bermula ketika salah satu temanku kebingungan memilih pedagang esentrik untuk diwawancara. Sisca namanya. Ia mendapat tugas Mata Kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi untuk mewawancara salah satu pedagang yang esentrik, yang berbeda dengan pedagang-pedagang yang lain. Aku langsung teringat dengan tukang ikan cupang langgananku ketika ia bercerita tentang tugasnya di Yahoo Messenger.

Tukang ikan cupang..?? Sepintas tampak biasa, tapi ada sesuatu yang ia miliki yang tidak dimiliki oleh tukang ikan cupang lainnya. Mau tau..? Ikuti kisah kami di bawah ini, hehe. .


*******************


Minggu di penghujung Oktober. . .
Saat itu matahari belum tinggi, ponsel kesayanganku berbunyi, tanda ada pesan singkat masuk. Dari Sisca ternyata. Dia sedang di perjalanan menuju kampus Untar tercinta, tempat kami berjanji untuk bertemu dan memulai pertualangan kami hari itu. Aku pun bersiap-siap.

Tak lama ia pun datang dengan balutan putih berpadu manis dengan jaket hitam, celana jeans, dan sebuah tas tangan bergelayut indah di pundaknya, tak lupa sebuah senyuman manis ciri khas dirinya menjadi pembuka pertemuan kami.

Untuk sesaat aku terpaku, sampai akhirnya sebuah kata "Hai" meluncur dari bibirnya masuk ke telinga dan otakku. Aku berusaha bersikap biasa walau tampak jelas aku sedikit grogi.

Tak mau kalah dengan mentari yang terus bergerak ke peraduannya, aku dan Sisca lantas menyetop sebuah mobil merah bertanda B-01 yang sedari tadi berseliweran di sepanjang jalan Kyai Tapa.

Mobil merah itu berhenti tepat di hadapan kami. Sebuah senyuman tampak mengembang di antara guratan dan butir-butir keringat sang supir. Aku duduk dekat pintu masuk, dan Sisca tepat di hadapanku.

Aku sedikit bingung harus apa, harus bagaimana, dan harus berkata apa. Aku layangkan pandangan ke luar, menangkap apa saja yang bisa ditangkap oleh mata ini sembari menikmati hangatnya Jakarta saat itu.

Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja, kami sudah terlibat obrolan hangat, sehangat mentari ibu kota. Canda dan tawa mengiringi perjalanan kami menuju Pasar Muara Karang. Sesekali aku menggodanya. Penumpang di kanan dan kiriku tampak tersenyum kecil melihat tingkah kami. Aku tak ambil pusing. Mungkin saat-saat seperti ini yang disebut orang-orang sebagai "dunia indah milik berdua".

Ah, Biarkan sajalah orang-orang berkata apa, yang jelas aku menikmati perjalanan ini.

Tak terasa, mobil yang kami tumpangin ini berhenti, dan suara serak sang supir menghentikan obrolan kami.

"Pasar Muara Karang" kata sang supir setengah berteriak.

Kami turun, dan tak lupa membayar ongkosnya. Supir itu pun segera melanjutkan harinya dan hilang di balik keramaian ibu kota.

Aroma masakan khas Medan seolah menyambut kedatangan kami. Kebetulan Aku dan Sisca sama-sama perantau dari Medan. Sedikit tergoda dengan aroma itu, aku dan Sisca lantas duduk di salah satu meja dan tak lama berselang, seorang wanita paruh baya datang dan memperlihatkan daftar menu.

Kami bolak-balik menu itu mencoba mencari cita rasa Medan terbaik yang bisa kami peroleh di sini. Aku memesan bihun bebek, dan bakmi ayam untuk Sisca. Tak lupa dua gelas es teh manis menjadi pelengkap santap siang kami.

Selesai makan, kami langsung menuju ke tempat tukang ikan cupang biasa menjajakan ikan-ikannya. Sisca tampak sedikit ragu, aku berusaha meyakinkannya bahwa tukang ikan cupang ini beda dengan yang lain.

Kami mendekat, dan langsung disambut dengan hangat.

"Silahkan, dilihat, saya senang, dibeli, saya lebih senang." , ucapnya.

Kami tersenyum mendengarnya. . .

Namanya Be-I (baca: Be-I), ya sebuah nama yang jarang terdengar. Nama itu merupakan sebuah singkatan dari kata Bahasa Inggris (B-I). Ia dijuluki Be-I karena kemampuannya berbahasa Inggris.

Ia mengaku bisa sedikit-sedikit bahasa Inggris. Ia belajar dari anak-anak komplek yang selalu berbahasa inggris ketika membeli ikannya.

Sungguh sebuah ironi bagi kita semua yang ogah belajar dari yang lebih muda.

Kami mengobrol banyak hal. Dari obrolan itu, tak pernah sedikit pun ia mengeluh tentang pekerjaannya. Sudah 7 tahun, ia menekuni bidang ini, dan ia mengaku senang berjualan ikan cupang. Selain mendapat penghasilan, hal yang paling penting ialah ia senang melihat anak-anak riang bermain dengan ikan-ikannya.

Sungguh sangat mulia. Di saat banyak orang mendewakan uang, tukang ikan ini malah lebih mementingkan keriangan anak-anak pembeli ikannya.

Kita semua pantas malu.

Di tengah-tengah obrolan kami, Aku dan Sisca mengaku dari kampus yang ingin mewawancarai beliau. Ia langsung tampak malu. Ia merasa tak pantas diwawancara, ia hanya seorang tukang penjual ikan cupang, seorang rakyat jelata yang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan.

Kami katakan justru orang-orang seperti bapak yang kami cari. Kerendahan hati, kegigihan, kesederhaan membuat bapak Be-I beda dengan yang lain. Keriangan dan keceriaan saat berjualan membuat pak Be-I tampak esentrik di tengah teriknya matahari Ibu kota.

Di Akhir obrolan, kami mengambil sebuah foto kenangan dengan pak Be-I.

Selesai wawancara, Aku dan Sisca melanjutkan hari yang masih panjang itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Apakah PR Harus Cakep?