Sisi Positif dari Ribetnya Pengisian KRRS

Libur Semester, dan seperti biasa kami, para mahasiswa Fikom Untar melakukan pengisian Kartu Registrasi dan Rencana Studi (KRRS).

Sepertinya mudah..?? Eitss, tunggu dulu, tidak semudah yang dibayangkan. Mulai dari waktu pengisian yang sangat mengganggu waktu tidur, server yang jauh dari harapan, sampai tidak kebagian kelas, dan herannya hal ini terus berulang, lagi dan lagi. .

Jangan tanya berapa banyak yang mengeluh, karena hampir tidak ada yang tidak mengeluh. Banyak sahabat aku yang sudah dengan sedemikian rupa menyusun jadwal kuliah. Namun, tidak sampai setengah dari jadwal yang sudah disusun itu bisa diraihnya. Begitu pula dengan nasibku ..

Bila tak percaya, cek saja di om google, banyak yang mengeluhkan hal ini.

Kelihatan menyeramkan..?? Tidak juga, karena semua hal di muka bumi ini, memiliki sisi terang dan gelap. Begitu pula dengan KRRS ini.

Mungkin banyak yang terlalu fokus pada sisi gelap, dan lupa melihat bahwa ada sisi terang di balik sisi gelap itu. Ay0 kawan, coba duduk tenang, mari kita lihat sisi lain dari ribetnya pengisian KRRS ini.

Aku sudah dua kali melakukan kegiatan ini, dan aku belajar banyak hal dari sini, di antaranya :

1. “Kesabaran”
Aku belajar kesabaran dari sini, kadang ego memaksa kita untuk selalu mendahulukan kepentingan kita tanpa menaruh respek pada yang lain. Kelas Favorit selalu menjadi rebutan, Bagi yang gagal mendapatkan, biasanya akan berbondong-bondong protes di sekretariat, semuanya protes, semuanya ingin menang, dan hasilnya nihil, tidak ada yang mau mengantri menyampaikan keinginannya, dan aku belajar arti kesabaran dari sini, ya arti kesabaran.
“Every body is in a hurry, please respect other”

2. “ Kesetiakawanan”
Menjelang pengisian KRRS, biasanya akan muncul kata-kata seperti ini, “Nanti sekelas bareng lagi yah”, ya ajakan-ajakan seperti itu akan menjamur menjelang detik-detik pengisian KRRS. Jadwal boleh sudah jadi disusun bersama, janji untuk bersama mungkin sudah dimantapkan. Namun, ketika proses pengisian biasanya kadang-kadang terjadi hal seperti ini, kapasitas kelas hanya bisa untuk satu orang lagi, dan di saat seperti itulah rasa kesetiakawanan itu diuji, ada beberapa pilihan, mendahulukan diri sendiri, mendahulukan teman, atau bersama-sama menunggu kelas baru dibukakan. Atau bisa juga kejadiannya seperti ini, salah seorang teman tidak bisa melakukan proses pengisian, sama pilihannya, tinggal permasalahannya apa yang dipilih, dan aku belajar tentang arti kesetiakawanan dari sini, ya dari sini.

3. “KRRS Bisa Mendekatkan Jarak”
Ini benar adanya, KRRS bisa mendekatkan jarak pertemanan. Aku punya beberapa teman baru karena KRRS ini. Aku masih ingat kejadian itu, di suatu pagi di sebuah warung internet (warnet) di dekat kampus. Saat itu, aku sedang melakukan update jadwal, ketika hampir selesai, aku diminta untuk memasukan nomer registrasi, dan sialnya aku engga tau berapa nomer registrasi punyaku, atau lebih tepatnya aku lupa mencatat nomer wasiat itu. Aku panik. Namun, aku bersyukur, di tengah-tengah kepanikan itu, ada seorang wanita mendekat, sepertinya dia tau aku sedang mengalami sedikit masalah. Kami tidak saling mengenal, tapi aku tau dia satu jurusan dengan aku. Lantas, aku menceritakan masalahku, dengan tenang dia menjawab, “coba tanya ke biro adak”. Bukan kata-katanya yang membuat aku tenang, tapi tatapan matanya, matanya begitu teduh, seketika rasa panik itu hilang, Aku berhutang banyak atas pandangan mata itu. Tak bisa dipungkiri, KRRS bisa menjadi momen permulaan sebuah hubungan.

4. “KRRS Bagai Cermin Diri”
Ya, Kepribadian seseorang sebenarnya bisa dilihat saat pengisian KRRS. Seseorang yang males-malesan mengisi KRRS biasanya saat kuliah juga akan seperti itu. Bisa dikatakan KRRS ini bagai cermin diri seseorang.

5. “KRRS Memaksa Kita Berpikir Alternatif secara Cepat”
Dalam pengisian KRRS, ada kalanya kelas yang diinginkan sudah penuh, mau tidak mau, kita harus dengan cepat berpikir alternatif lain selain kelas itu. Proses berpikir Alternatif seperti ini sebenarnya sangat dibutuhkan saat ini. Misalnya ketika harga cabe naik, kita harus cepat berpikir alternatifnya apa. (hahaha. . Mungkin sedikit dipaksakan, hehe ....)

6. “Tidak Semua yang diinginkan Bisa Diraih”
Di Kehidupan ini, tidak semua yang kita inginkan bisa kita raih. Mungkin hanya sedikit orang yang termasuk kategori beruntung bisa mendapatkan semua hal yang ia dambakan. Sama seperti pengisian KRRS, ada kalanya tidak semua kelas yang kita inginkan, bisa kita ambil. Ketika hal itu terjadi, tinggal bagaimana kita menghadapinya.

Dan Wow ternyata tulisan ini sudah hampir menyentuh halaman ke 4 di program microsoft word, dan itu artinya ada cukup banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari ribetnya pengisian KRRS ini.

Perlu digarisbawahi bahwa saya bukan membela pihak kampus, saya bukannya tidak mau sistem KRRS yang mudah dan cepat, saya cuman ingin mengajak kita semua rekan mahasiswa untuk berpikir secara komprehensif, untuk tidak hanya melihat yang jelek-jelek saja, untuk percaya bahwa di setiap hal di muka bumi ini, memiliki hal positif dan negatif.

Akhir kata, semoga tulisan ini berkenan di hati pembaca semua, sekali lagi tulisan ini tidak dibuat untuk mendeskritkan pihak mana pun, dan semoga kampus kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. .


Tuhan Memberkati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Apakah PR Harus Cakep?