Kekuatan Kata-Kata dalam Komunikasi Politik

Sebuah pepatah Inggris berbunyi, Words are powerful. Kata-kata mempunyai kekuatan. Kata-kata sungguh berdaya magis. Kata-kata ibarat pisau belati. Bila digunakan dengan baik akan menghasilkan kebaikan, dan sebaliknya. Bila digunakan secara salah niscaya efek negatif yang akan diperoleh. Kata-kata positif dapat membuat pendengar diselimuti optimisme, semangat, dan gairah baru dalam menjalani kehidupan. Sebaliknya, kata-kata negatif hanya akan menyisakan amarah, pesimisme, rasa frustasi, dan kehampaan dalam hidup.

Kata-kata sungguh memegang peranan penting. Betapa tidak. Karena kata-katalah, seorang Mario Teguh, Ari Wongso dan Tina Talisa dikenal publik. Mereka begitu piawai mengolah kata-kata menjadi sesuatu yang mampu menghisap animo pendengar. Para pendengar seolah-olah terhipnotis sewaktu mereka beraksi. Di sisi lain, juga oleh kata-katalah, Prita Mulyasari dan Luna Maya harus berurusan dengan pihak berwajib. Beruntung bagi Luna Maya, kasusnya berakhir secara kekeluargaan tidak seperti Prita.
Sekali lagi, words are powerful.!!

Menyadari betapa kata-kata yang secara sederhana tersusun oleh beberapa abjad memiliki kekuatan yang luar biasa, para politis negeri pun seakan berlomba merangkai kata untuk menarik simpati publik. Puncaknya, pemilu tahun lalu. Tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden berlomba-lomba menarik simpati publik dengan slogan-slogan yang mereka ciptakan. Mega-Prabowo dengan "Pro Rakyat", SBY-Boediono dengan "Lanjutkan", serta JK-Win dengan "Lebih Cepat Lebih baik". Perang slogan pun dapat dengan mudah ditemukan.

Pasangan SBY-Boediono sangat pandai memanfaatkan kondisi psikologis rakyat pada waktu itu. Rakyat Indonesia sudah sangat lelah terhadap perjuangan perubahan paska reformasi 1998. Rakyat Indonesia membutuhkan suatu kestabilan nasional, dan pasangan SBY-Boediono datang dengan slogan yang tepat “Lanjutkan”. Dengan sedikit pemaparkan keberhasilan di pemerintahan sebelumnya, ditambah dengan janji kestabilan nasional maka tak heran pasangan ini menang dengan satu putaran. Nasib berbeda harus dialami pasangan yang lain. Pasangan Mega-Prabowo dan JK-Win yang mengusung tema perubahan gagal menarik simpati publik yang sudah bosan dengan perubahan.

Di belahan bumi lain, Obama di Amerika Serikat juga sukses meraih simpati publik dengan slogan propagandanya. “Change, Yes We can” yang diusung Obama terbukti jitu menyentuh jiwa rakyat Amerika yang pada saat itu sedang merindukan perubahan. Sekali lagi kata-kata memegang peran penting, Words are powerful.

Mengacu dan berpedoman pada kekuatan, dan ketepatan pemilihan kata-kata, sebaiknya ada filter yang digunakan ketika hendak berkomunikasi dengan orang lain. Kata-kata yang ambigu, multitafsir sebaiknya ditelan dari pada relasi menjadi rengang. Ingat, “Bahasa adalah senjata, dan kata-kata adalah pelurunya”

Jadi, gunakan kata-kata dengan sebaik mungkin.





"dari berbagai sumber, dari tulisan Arie Wongso yang digabungkan dengan pemikiran penulis"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial