Antara Aku dan Diriku, Sebuah Konsep Diri

Aku seorang nasionalis
walau budaya Indonesia mulai terkikis
dan budaya asing makin anarkis
Aku tetap optimis, tidak pesimis

Aku orang yang akan tetap berseru
Walau cobaan datang menderu
Semangatku akan terus menggebu
Walau sendiri ,aku tetap berseru

Aku seorang idealis
Walau hidup kembang-kempis
Aku suka menulis
Walau hasilnya sering membuat pembaca meringis

Aku makhuk berTuhan
Hanya Tuhan yang buat kubertahan
Walau diancam seribu panahan
Aku tetap berTuhan

Aku seorang pemuda Kritis
Dan semangatku tak akan pernah habis
Walau dompet kian hari kian menipis
Dan nasib seperti hujan gerimis

Aku seorang perfeksionis
Walau banyak cibiran sinis
Dan banyak wajah-wajah bengis
Aku tetap seorang perfeksionis

Aku seorang pecinta wanita yang setia
Walau samudera mengering
Aku tak akan berpaling
Walau datang seribu perawan
Aku akan bertahan
Walau diancam diterkam buaya
Aku akan tetap setia

Aku tetaplah Diriku
Dan aku senang menjadi aku


Siapa aku, sebuah pertanyaan yang sangat sederhana sekaligus paling sulit untuk dijawab. Bahkan dari sanalah filsuf-filsuf besar seperti Plato, Sokrates, memulai perjalanan filosofisnya. Lalu, siapa aku ? Satu-satunya hal yang paling saya ketahui dari diri saya adalah saya tidak tahu apa-apa. Berangkat dari ketidaktahuan itu, saya mencoba untuk mencari siapa diri saya sebenarnya dan kalau boleh saya gambarkan, saya ini kira-kira seperti rangkaian kata-kata dalam puisi di atas. Saya seorang idealis. Saya orang yang percaya Tuhan punya rencana dan rencana itu pasti baik pada akhirnya. Saya orang yang optimis, menatap ke depan dengan tidak lupa sesekali melihat ke belakang.

Particuler Others

Saya pengagum sosok Gie, lebih tepatnya Soe Hok Gie.
Soe Hok Gie, seorang demonstran vokal yang lahir di zaman presiden Soekarno.
Soe Hok Gie, seorang pemuda yang sangat berpegang teguh pada pendirian dan rajin mendokumentasikan kisah hidupnya dalam buku harian.
Soe Hok Gie, seorang manusia yang sangat menginspirasi hidup saya. Banyak kata-kata Gie yang kini menjadi pijakan langkah kaki saya. Beberapa di antaranya :

"Guru bukanlah dewa dan selalu benar, dan murid bukanlah kerbau. Guru yang tidak tahan kritikan boleh masuk tong sampah"
"Lebih baik diasingkan dari pada menyerah pada kemunafikan"


Banyak lagi kata-katanya yang sangat menyentuh sanubari setiap pemuda. Banyak yang mengagumi sosoknya yang sederhana. Bahkan di tahun 2005, Sebuah film yang berjudul GIE ditayangkan. Film itu disutradari oleh Riri Reza dan Nicholas Saputra berperan sebagai Soe Hok Gie.

Saya sempat mengunjungi makamnya di Museum Taman Prasasti, Jakpus. Banyak kata tak terungkap di sana.


Anyway, Itulah sekelumit cerita tentang aku, dan yang terpenting aku suka menjadi seorang aku.


"Gabungan dari pikiran penulis dan beberapa sumber"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Apakah PR Harus Cakep?