Busway, Hanya untuk yang Kuat

Busway, salah satu roda transportasi paling merakyat di ibu kota. Laki-laki, perempuan, anak kecil, orang tua, ibu hamil, ibu menyusui, artis, selebritis, anak gaul, pelajar, mahasiswa, semuanya menggunakan jasa busway. Setiap harinya ratusan ribu manusia antri menunggu busway yang akan mengangkut mereka ke tempat tujuan. Karena banyaknya pengguna, sering terjadi penumpukan penumpang di halte-halte, terutama di halte busway Harmoni, yang merupakan sentra busway. Hal ini didukung pula oleh kurangnya armada bus yang beroperasi serta lamanya waktu kedatangan antara satu busway dengan busway dibelakangnya. Akibatnya ketika bus datang, para penumpang berdesak-desakan, tak jarang kejadian ini menimbulkan korban jiwa.

Pernah suatu ketika saya menggunakan busway dari Karet menuju Grogol. Saya ingat betul itu hari sabtu jam 2 siang. Perjalanan dari karet menuju Harmoni relatif lancar tanpa gangguan. Petaka itu datang ketika saya turun, saya melihat sudah ada ribuan orang yang memenuhi antrian tujuan Pulogadung. Hati saya mulai cemas, saya berharap jurusan Kalideres dan Lebak Bulus (2 rute ini melewati Halte Grogol) tidak separah jurusan Pulogadung. Namun yang terjadi, jauh panggang dari api. Jauh harap dari realita. Jurusan Lebak Bulus sangat padat, Jurusan Kalideres lebih padat lagi. Saya memutuskan untuk mengantri di Jurusan Lebak Bulus. Lebih sialnya lagi, sabtu itu Persija Jakarta, tim kebanggaan ibu kota akan bertanding di Lebak Bulus artinya semakin padatlah jurusan itu. Ketika mengetahui akan hal itu, saya hendak mengganti jurusan, tapi sudah terlambat, saya sudah berdiri ditengah-tengah ratusan orang, dan sudah sangat tidak memungkinkan untuk bergerak. 10 menit berlalu, 20 menit berlalu, 30 menit berlalu, tak kunjung juga bus abu-abu koridor 8 jurusan Lebak Bulus tiba. Hampir pingsan rasanya berdiri ditengah ratusan orang, di sore hari yang sangat terik. (Halte Busway tidak dilengkapi Ac maupun kipas angin).

Akhirnya bus itu datang juga. Bagai anak kecil mendapat boneka baru, Semua orang berdesak-desakan berebutan untuk menaiki busway itu. Saat itu saya sudah pesimis, dan berharap bus selanjutnya segera datang. Dalam hati saya hanya berdoa semoga penantian ini segera berakhir sampai tiba-tiba mata saya terbelalak, saya melihat di tengah manusia yang berebutan itu ada seorang anak gadis kecil terjatuh, sontak semua manusia itu berhenti berebutan. Kondektur busway langsung menarik anak kecil itu sehingga kakinya terhindar dari jepitan pintu otomatis.

Huuuh, saya menghela napas, saya tidak dapat membayangkan apa yang terjadi bila kondektur terlambat menarik anak itu, dan para manusia itu tidak berhenti berebutan.

Kejadian mengenaskan tidak hanya sampai di situ. Seorang perempuan paruh baya juga terjatuh saat busway rem mendadak, karena disalip kopaja. Saya juga hampir saja terlempar, namun saya sempat memegang pegangan tangan yang bergelantungan. Saya lebih beruntung dari perempuan itu, mungkin pegangannya tidak begitu kuat, sehingga ia terjatuh.

Pernah juga di minggu pagi, saya berkunjung ke rumah teman saya menggunakan busway. Busway itu cukup renggang. Hanya saya dan berberapa bapak-bapak yang berdiri. Busway yang saya tumpangi berhenti di suatu halte (lupa namanya). Ada seorang perempuan muda masuk. Belum sempat dia meraih pegangan tangan, sang supir sudah menginjak pedal gas, Alhasil perempuan itu pun jatuh, namun untungnya ia jatuh tepat di pelukanku. Beruntungnya lagi saya sempat meraih pegangan tangan, kalau saja tidak, mungkin saya dan dia akan sama-sama terjatuh di bus itu.

Busway oh busway, mungkin kini busway hanya cocok untuk orang-orang yang bermental baja, hanya cocok untuk orang-orang yang kuat, orang-orang yang prima kondisi fisiknya. Orang tua, ibu-ibu hamil pasti akan enggan menggunakan roda transportasi ini bila keadaaan seperti ini terus berlanjut.

Jika kondisi ini terus berlanjut, mungkin busway hanya akan menunggu mati, hanya akan menghitung hari beroperasi. Sudah seharusnya dan menjadi tugas kita bersama untuk menciptakan suasana bersahaja di dalam halte busway maupun di dalam busnya.
Jangan sampai mega proyek yang menelan triliyunan uang rakyat ini berakhir di sini.. .

Akhir Kata, Maju terus Busway..!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial