Postingan

Pentingnya Media Relations: Catatan dari Media Visit ke CNN Indonesia

Gambar
Foto dulu di kantor CNN Indonesia yang ketje! Kamis lalu, aku bersama tim berangkat menuju daerah warung buncit di Jakarta Selatan. Siang itu terik sekali dan jalanan sedikit padat. Pukul 2 lewat 15 menit, kami tiba di kantor CNN Indonesia di Gedung Aldevco Oktogan. Kami langsung disambut oleh Deddy Sinaga, Managing editor CNN Indonesia. Kami kemudian diajak ke ruang rapat. Tak lama berselang, dua orang jurnalis CNN Indonesia, Anggi Kusumadewi dan Abraham bergabung ke dalam ruangan. Tak ketinggalan, Endzico Tanasa, Marketing PR CNN Indonesia juga ikut bergabung.  Kedatangan kami siang itu merupakan bagian dari aktivitas menjalin relasi dengan media, atau yang biasa disebut oleh praktisi Public Relations (PR) dengan istilah media relations . Media relations sendiri dapat diartikan sebagai segala aktivitas yang dilakukan untuk menjalin hubungan baik dengan jurnalis. Tujuan media relations adalah untuk membangun citra positif, mendapatkan publisitas, memetakan posisi medi...

Menjadi Public Relations yang Kreatif

Gambar
Perhumas Coffee Morning - Creative PR: Thinking Outside the Box "Seorang Praktisi Public Relations harus kreatif, karena anggarannya paling minim (dibanding divisi marketing, dan sales), tapi hasil yang diharapkan paling besar" ~ Heri Rakhmadi, Wakil Ketua Perhumas Indonesia Kutipan di atas merupakan sambutan dalam pembukaan Perhumas Coffee Morning - Creative PR: Thinking Outside the Box di Erasmus Huis, 20 Mei 2016. Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut, Yoris Sebastian (OMG Consulting), Samuel Mulia (Majalah Clara Indonesia), Marlene Danusutedjo (Marcomm JW Marriot) dan Michael Rauner (Direktur Erasmus Huis). Ini pertama kalinya aku ikut acara perhumas, rasanya senang kali. Aku mendapat banyak insight baru dalam berpikir tentang kehumasan. Materi pertama disampaikan oleh tuan rumah, Michael Rauner yang mengatakan Erasmus Huis sudah terlalu kuno sebagai sebuah pusat budaya. Michael ingin meremajakan Erasmus Huis, mengikuti perkembangan zaman. Ia ing...

Tentang Nama Tionghua dan Asimilasi

Gambar
Kunjungan dari Gema Inti DKI Jakarta ke Komnas Perempuan. Aku sedang menjelaskan tentang Prasasti Mei 1998 Kita semua pasti punya nama. Nama adalah penanda yang diberikan pada seseorang untuk membedakannya dari orang lain. Nama biasanya merupakan doa dan pengharapan dari yang memberi nama terhadap yang diberi nama. Nama seseorang biasanya akan menunjukkan dari kebudayaan mana ia berasal. Di tulisan kali ini, aku akan menulis tentang namaku. Nama di ijazahku ditulis "Elwi Gito alias Kie Chau Wie". Dalam aksara mandarin ditulis 纪 è¶… 伟, (hanyu pinyin Jie Chau Wei). Pas SD, aku ingat betul pernah nanya ke guru, kenapa namaku ada dua? Beliau jawab, nama "Tionghua" buat panggilan di rumah. Nama "Indonesia" biar mudah berbaur dengan masyarakat. Dijawab begitu, aku iyain saja, sampai ketemu sama Soe Hok Gie yang enggak mau mengganti namanya! Soe Hok Gie tidak sendiri, ada juga Yap Thiam Hien yang juga tidak mau mengganti namanya.  Bertahun-tahun se...

Energi yang Melahirkan Komnas Perempuan

Gambar
Foto bareng Dewi Anggraeni di Ceramah Energi Pencetus Komnas Perempuan Kalau dilihat kembali daftar tulisanku di blog ini, sudah ada banyak sekali tulisanku yang membahas tentang kantorku, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan alias Komnas Perempuan. Semoga para pembaca tidak bosan yaa! Kali ini aku akan kembali menulis tentang Komnas Perempuan dari sisi energi yang melahirkannya. Sebagai putri sulung reformasi, kelahiran Komnas Perempuan tentu berbeda dari kelahiran lembaga-lembaga negara lainnya.  Komnas Perempuan memaksa untuk lahir. Ia hadir sebagai respon negara atas tuntutan masyarakat yang marah atas maraknya kekerasan seksual di Tragedi Mei 1998. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) menemukan ada 85 perempuan etnis Tionghoa yang menjadi korban kekerasan seksual, 52 diantaranya merupakan korban perkosaan massal (gang rape). Korban kekerasan seksual di Tragedi Mei 1998 sampai hari ini masih disangkal keberadaannya oleh sejumlah pihak. Disangkalnya korban kek...

Mewujudkan Zona Pelajar Bebas Kekerasan

Gambar
Audiensi IPPNU ke Komnas Perempuan 6 April 2016. Pagi itu terik sekali. Aku bergegas menuju kantor dengan menumpang angkutan umum. Pagi itu, aku punya agenda untuk menemui teman-teman Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama atau yang lebih akrab disebut IPPNU. Ceritanya IPPNU datang ke Komnas Perempuan, untuk meminta masukan terhadap program kerja mereka. IPPNU menargetkan adanya perwujudan zona pelajar yang bebas kekerasan berbasis gender di sekolah dan pesantren se-Indonesia!  Teman-teman IPPNU yang hadir pagi itu berjumlah 8 orang. Ketuanya Puti Hasni, yang ternyata pernah juga bergabung dengan Komnas Perempuan sebagai relawan Unit Pengaduan untuk Rujukan (UPR). Puti Hasni menyampaikan tentang program-program yang sudah dilakukan oleh IPPNU dalam mewujudkan zona pelajar bebas kekerasan. “IPPNU sebagai organisasi berbasis pelajar putri berusaha mewujudkan zona pelajar yang bebas dari segala bentuk kekerasan berbasis gender dengan melakukan sosialisasi bentuk-bentuk keke...

Begini Rasanya Bekerja di Komnas Perempuan

Gambar
Kejutan dari teman-teman sekantor Bila 1 April bagi kebanyakan orang dirayakan sebagai hari berbohong sedunia alias April Mop, bagiku tidak demikian. Aku memaknai 1 April sebagai hari yang istimewa, karena tepat di hari itu, aku mengambil sebuah keputusan penting yang membuat hidupku tidak lagi sama. 1 April 2013, aku mengawali pertualanganku di Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau yang lebih familiar disebut Komnas Perempuan sebagai anak magang. Setelahnya, secara berturut-turut, aku menjadi relawan, staf dan sekarang menjadi Asisten Kampanye Divisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan. 3 tahun sudah sejak hari itu dan rasanya masih istimewa. Ibarat minum bir, ini gelas ketiga, belum mabuk, masih waras dan masih haus akan gelas-gelas berikutnya.  Sebagai hadiah istimewa di hari jadian ketiga ini, aku mau menulis tentang kehidupan di Komnas Perempuan, biar pada enggak penasaran gimana sih rasanya kerja di lembaga ini.  Aku sering ditanya orang,...

Ngetweet Seperti Pacaran

Gambar
Cipluk Carlita, Communications Manager Twitter Indonesia 21 Maret yang lalu, Twitter merayakan hari jadinya yang ke-10! Hore! Tidak berasa, sudah 10 tahun, twitter hadir dan menjadi bagian dari kehidupan. Aku sendiri, sebagai anak millennials, yang katanya native , sudah menggunakan twitter, mungkin sekitar 6 atau 7 tahun terakhir.  Banyak hal yang berubah sejak adanya twitter. Hal yang paling penting, adalah twitter menyediakan ruang yang setara antar individu untuk menyampaikan gagasannya. Ruang diskusi yang setara antara individu ini hampir tidak ada di dunia nyata, semuanya ada relasi kuasa. Sejak ada twitter, seseorang yang bukan siapa-siapa di dunia nyata, punya ruang yang sama dalam menyampaikan pendapatnya. Nah, untuk ikut merayakan hari jadi Twitter, aku mau berbagi cerita tentang jumlah ideal ngetweet per hari nya. Pasti banyak nih yang bingung, berapa sih jumlah ideal ngetweet, apakah 5, 10, 20 atau 50 kali? Menurut kak Cipluk Carlita, manager komunikasi...