Postingan

Prasmanan dari Prancis ke Belanda lalu ke Indonesia

Gambar
Jelang akhir tahun seperti sekarang ini, biasanya kita akan banyak mendapat kiriman undangan resepsi pernikahan, ya kan? Biasanya pula, resepsi pernikahan (di Jakarta) menggunakan tata cara prasmanan. Nah, di artikel ini, aku akan membahas tentang prasmanan, sejak kapan sih orang Indonesia makan dengan cara prasmanan?
Dalam artikelnya yang berjudul Dari Tangan Hingga Prasmanan (edisi 35 tahun 2017), majalah Historia menuliskan bahwa cara makan ala prasmanan itu berasal dari Prancis! Di Hindia Belanda, tahun 1896 ada seorang penulis resep makanan bernama Nyonja Johanna yang menulis buku Boekoe Masakan Baroe, yang memuat resep pembuatan kue dengan "tjara Blanda, Tjina, Djawa dan Prasman".
Fadly Rahman dalam bukunya yang berjudul Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia masa kolonial 1870-1942 (2016) mengutip  pendapat Suryatini N. Ganie, yang mengatakan bahwa istilah prasmanan kemungkinan berasal dari kata "Fransman" (orang-orang Prancis) yang sering menyajikan maka…

Eddie Lembong, Penggagas Penyerbukan Silang Budaya Meninggal Dunia

Gambar
Kabar duka mengawali bulan November 2017. Tanggal 1 November kemarin, Eddie Lembong berpulang kepada sang pencipta. Beliau berpulang dalam damai di RS Graha Kedoya, setelah menjalani perawatan intensif di Singapura.  
Masih jelas dalam ingatan, saat aku terakhir bertemu dengan beliau di acara seminar dan peluncuran buku "Tionghoa dalam Keindonesiaan: Peran dan Kontribusi bagi Pembangunan Bangsa" di kampus Unika Atmajaya, Semanggi, Februari 2017. 
Dalam acara itu, Eddie Lembong mengatakan bahwa beliau menginginkan sebuah everlasting legacy sebelum beliau meninggalkan dunia ini. Buku ini dipersiapkan Eddie Lembong sebagai kado ulang tahun ke-70 Republik Indonesia. 
"Bagi saya pribadi, tidak lama lagi matahari akan terbenam, maka izinkan saya persembahkan buku Tionghoa dalam Keindonesiaan: Peran dan Kontribusi bagi Pembangunan Bangsa ini sebagai kado bagi Ibu Pertiwi, yang saya cintai dengan sepenuh hati. Dengan rendah hati, saya harapkan bangsa Indonesia berkenan …

Narasi Tionghoa dalam Sumpah Pemuda

Gambar
Beberapa hari lagi, Bangsa Indonesia akan memperingati peristiwa Sumpah Pemuda, salah satu peristiwa paling bersejarah dalam pembentukan Bangsa Indonesia sebagai sebuah nation! 89 tahun yang lalu, di tanggal 28 Oktober 1928, pemuda-pemuda dari berbagai suku bangsa di Nusantara berikrar satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa: Indonesia, tak terkecuali pemuda-pemuda Tionghoa di Nusantara. Walau demikian, banyak narasi tentang kiprah orang Tionghoa dalam peristiwa tersebut yang dihilangkan untuk menguatkan stigma bahwa orang Tionghoa apatis pada perjuangan rakyat, dan hanya memikirkan dirinya sendiri.
Berbekal berbagai literatur yang ada, aku mencoba menghimpun narasi Tionghoa dalam Sumpah Pemuda 1928 ke dalam tulisan berikut. Selamat membaca!
Gedung Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat 106, Jakarta Pusat, dulunya adalah rumah kost, milik seorang Tionghoa, bernama Sie Kok Liong (beberapa sumber menyebutnya Sie Kong Liang) . Rumah Kramat 106 menjadi tempat pemondokan pelajar dan mahasi…

Resensi Buku Viral: Gebrakan Kekinian Public Relations di Era Digital

Gambar
Judul: Viral: Gebrakan Kekinian Public Relations di Era Digital
Penulis: Nita Kartikasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2017
Bahasa: Indonesia
Tebal: 192 halaman

Membaca buku Viral: Gebrakan Kekinian Public Relations di Era Digital karya Nita Kartikasari ibarat orang yang tengah tidur siang, seketika bangun karena disiram dengan air es seember. Nita Kartikasari seolah membangunkan semua praktisi Public Relations (PR) dari tidurnya selama ini. Melalui buku ini, Nita menyadarkan para pembacanya bahwa dunia sudah berubah, dan kerja-kerjaPR pun harus berubah mengikuti zaman!
Aku jadi teringat dengan teori seleksi alamnya Charles Darwin. Adalah niscaya bahwa segala sesuatu yang tak dapat beradaptasi dengan lingkungan baru, pasti binasa! Begitu pun dengan dunia kehumasan, bila tak mampu menjawab tantangan zaman, niscaya akan digilas zaman! 
"PR yang enggak berubah, pasti mati!" tegas Nita Kartikasari dalam peluncuran bukunya di Plaza Senayan, 13 Oktober 2017.  
Secara …

Memohon Rezeki di Klenteng Hok Lay Kiong

Gambar
Saat ke Bekasi beberapa waktu lalu, aku menyempatkan diri bersembahyang di Klenteng Hok Lay Kiong, yang merupakan Klenteng tertua di Bekasi! Klenteng ini letaknya agak menyempil dari jalan besar di daerah pasar proyek, dekat Bekasi Junction. Letak persisnya ada di Jalan Kenari I, Bekasi Timur.
Hok Lay Kiong secara harfiah dapat diartikan sebagai istana yang mendatangkan rezeki! Tidak ada yang tahu pasti kapan pertama kali Klenteng ini berdiri. Menurut Asin, kepala keamanan di klenteng Hok Lay Kiong, klenteng ini tidak diketahui siapa pendirinya, dan tidak ada data peninggalan dari pengurus terdahulu. 
"Sayang, padahal sering banyak yang tanya kapan berdirinya, tapi pihak pusat sendiri tidak tahu, apalagi saya," ujar Asin seperti yang dikutip dari Republika Online.
Dinas Pariwisata Pemprov Jawa Barat menyebutkan bahwa Klenteng ini dibangun pada abad ke-18 Masehi. Bangunan Klenteng Hok Lay Kiong mengalami beberapa kali pemugaran, sesuai dengan perkembangan zaman. Namun, pintu m…

Pentingnya Strategi Komunikasi Bagi Organisasi Nirlaba

Gambar
Awal bulan ini, aku merasa sangat terhormat karena diminta membantu Bale Perempuan Bekasi untuk menyusun program komunikasinya. Buat yang belum tahu, Bale Perempuan Bekasi merupakan organisasi pengada layanan bagi perempuan korban kekerasan di wilayah kabupaten dan kota Bekasi. Organisasi ini berdiri dilatarbelakangi oleh maraknya kasus kekerasan yang terjadi, yang tidak diimbangi dengan kehadiran lembaga yang secara khusus memberikan layanan, dampingan, advokasi serta edukasi publik tentang layanan terhadap perempuan korban kekerasan. Para pendirinya adalah perempuan-perempuan Bekasi yang hebat, dengan berbagai latar belakang pekerjaan, antara lain pengacara, Ibu rumah tangga, akademisi, dan pekerja sosial di Bekasi.
Hal pertama yang kusampaikan kepada pengurus Bale Perempuan Bekasi adalah mengapa sebuah organisasi nirlaba penting berkomunikasi! Dari pengalamanku bekerja bersama teman-teman dari organisasi nirlaba, aku tahu bahwa urusan komunikasi jarang sekali mendapat perhatian se…

Campaign Clinic, Terobosan Baru dari Campaign.com

Gambar
Rabu minggu lalu, 6 September 2017, aku diundang untuk datang ke acara Press Conference: Impact Investment #ForChange yang diselenggarakan oleh Campaign.com di GoWork Coworking Space. Ceritanya, Campaign.com baru saja mendapat suntikan investasi dari Ken Dean Lawadinata, bosnya Kaskus. Mengenai jumlah yang diinvestasikan, baik Ken maupun Campaign.com menutup rapat angka persisnya.
“Sama seperti biasa, saya enggak pernah bicara angka karena akan mengalihkan pesan utama. Dibanding Alibaba, saya ada di lantai dasar,” ujar Ken. 
Setelah impact investment ini, ke depannya Campaign.com akan punya beberapa program baru yang kece abis, salah satunya adalah Campaign Clinic, yang merupakan sebuah wadah untuk berkonsultasi tentang kampanye sosial secara lebih mendalam. Program ini dirancang untuk membantu individu-individu atau organisasi yang baru mau memulai kampanye sosial, dan buat mereka-mereka yang tengah hilang motivasi dalam menjalankan program kampanye sosialnya.
Sengaja aku teba…