Postingan

Public Relations dalam Konflik Agraria

Gambar
Tulisan di bawah ini merupakan tugas akhirku untuk mata kuliah Public Relations Ethics, yang berjudul Sengkarut Public Relations di antara Kepentingan Bisnis, Etika dan Hak Asasi Manusia dalam Konflik Agraria. Ada beberapa bagian yang disesuaikan agar tulisan ini tidak terlalu panjang untuk dibaca di blog. Happy reading!
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) bersama dengan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) meluncurkan Rencana Aksi Nasional tentang Bisnis dan Hak Asasi Manusia (RAN Bisnis dan HAM), pada 16 Juni 2017. Indonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang meluncurkan RAN Bisnis dan HAM setelah PBB mengesahkan The United Nations Guiding Principles on Business and Human Rights. 
Dalam siaran persnya, Komnas HAM dan Elsam menyatakan bahwa RAN Bisnis dan HAM merupakan instrumen nasional untuk menerapkan prinsip-prinsip panduan PBB mengenai Bisnis dan HAM pada level nasional. RAN Bisnis dan HAM merupakan strategi kebijakan yang dikembangkan dalam rangka…

Berziarah ke Mausoleum Termegah di Asia Tenggara

Gambar
Pasti banyak yang belum tahu bahwa di Jakarta ada sebuah mausoleum, yang konon termegah di Asia Tenggara. Terletak di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Petamburan, Jakarta Pusat, mausoleum O.G. Khouw berdiri kokoh menjadi saksi bisu pembangunan Jakarta. 
Ngomong-ngomong apa sih itu mausoleum, dan siapa itu O.G. Khouw? Sabar-sabar, akan aku ceritakan semuanya. Sediain dulu cemilan dan kopinya, agar makin mantap baca tulisan ini. 
Buat yang belum tahu, mausoleum itu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya bangunan makam yang luas dan megah atau monumen makam. Gampangnya, seperti Taj Mahal di India. Pastinya sudah pada tahu kan kalau Taj Mahal dibangun oleh Raja Shah Jahan untuk mendiang istri tercintanya, Mumtaz Mahal. Nah, bangunan Taj Mahal itu termasuk mausoleum.   

Lalu siapa O.G. Khouw?  O.G. Khouw alias Khouw Oen Giok adalah orang super kaya pada masanya. Menurut Benny G. Setiono dalam buku Tionghoa dalam Pusara Politik, keluarga Khouw memiliki ribuan hektar sawah di Tang…

Ada Bhinneka dalam Semangkuk Soto Betawi

Gambar
Di sebuah sore yang mendung, sembari menyeruput segelas kopi susu, aku membaca buku Tionghoa dalam Keindonesiaan, aku menemukan sebuah narasi yang menarik tentang pengaruh kebudayaan Tionghoa dalam perkembangan kuliner di Nusantara. Rupa-rupanya selain, mie, bakso, kecap, taoge dan tahu yang sudah jelas dibawa oleh orang-orang Tionghoa ke Nusantara, ada satu lagi masakan yang juga dipengaruhi oleh budaya Tionghoa, yaitu soto. 
Aji "Chen" Bromokusumo dalam bab Budaya Tionghoa dalam Tata Boga mengutip Denys Lombart yang menyebutkan bahwa, soto berasal dari kata 草 肚 (Cau Du) yang dalam dialek Hokkien dilafalkan menjadi Chao Toh, lama kelamaan jadi soto. Cau secara harfiah berarti rumput yang mengacu pada rempah-rempah. Sementara itu, Du secara harfiah berarti babat, yang mengacu pada jeroan sapi. Saat membaca naskah itu, aku sejenak ragu dengan tesis yang diajukan oleh Denys Lombart, secara kalau di rumah jarang sekali masak soto. Lagi pula, bila memang soto berasal dari …

Ho Wan Moy, Sang Srikandi Indonesia

Gambar
Sore santai di minggu lalu, ceritanya aku meneruskan baca buku Tionghoa dalam Keindonesiaan yang enggak selesai-selesai dibaca. Di salah satu bab, aku menemukan sosok Ho Wan Moy. Duh Gusti, mau mbrebes mili ....

Didi Kwartanada dalam buku Tionghoa dalam Keindonesiaan, mengutip Majalah Suara Baru edisi Maret-April 2008 yang mengemukakan sosok Ho Wan Moy, yang di kemudian hari berganti nama menjadi Tika Nurwati.
Ho Wan Moy berasal dari Jawa Tengah. Sejak usia 13 tahun terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Sebelum memberanikan diri terjun ke kancah pertempuran, perempuan yang dipanggil "Amoy" oleh para tentara Republik ini harus mengalahkan trauma dan ketakutan saat seorang laki-laki mengancam membunuhnya karena ketionghoaannya. 
Lisa Soeroso dalam blognya mengutip trauma Ho Wan Moy,  
"Saya sedang jaga warung, masih sangat muda," kenangnya. Itulah pertama kali ia merasakan ketakutan yang sangat. Sebuah samurai Jepang bergerak-gerak di depan wa…

Hikayat Souw Beng Kong, Kapiten Tionghoa Pertama dan Nasibnya Sekarang

Gambar
Minggu lalu, aku pergi ke kawasan Kota Tua Jakarta untuk refreshing sambil mengikuti keseruan Festival Kuliner Ikan Nusantara. Saat sedang asyik menikmati berbagai jenis ikan yang ada, aku teringat akan makam Souw Beng Kong yang terletak tak jauh dari kawasan Kota Tua. Aku pun bergegas ke sana untuk berziarah.
Makam Souw Beng Kong terletak di Gg Taruna, Jalan Pangeran Jayakarta. Agak sulit untuk melihat makam Souw Beng Kong dari jalan raya, karena makam tersebut berada dalam himpitan ruko-ruko yang menjamur sepanjang jalan. Untungnya ada papan petunjuk jalan yang menunjukkan lokasi makam kuno tersebut. 

Sampai di lokasi makam Souw Beng Kong, hatiku remuk redam. Kondisi makam sangat mengenaskan! Pagar teralis yang membatasi makam dijadikan tiang jemuran oleh warga. Sampah juga berserakan di area makam. Bahkan, di depan nisan, tergenang air yang sangat kotor. Menurut seorang warga yang mengaku sebagai pembersih makam tersebut, air genangan disebabkan oleh hujan yang terus menerus turu…

Perempuan Tangguh Sebangsa Nobar Film "hUSh"

Gambar
Sabtu kemarin, aku pergi ke Freeware Space, Kemang untuk menghadiri pemutaran Film "hUSh" karya Djenar Maesa Ayu dandiskusi penanganan serta pencegahan kekerasan terhadap perempuan. Kedua acara tersebut merupakan rangkaian acara Perempuan Tangguh Sebangsa yang diadakan oleh Sebangsa dan Komunita.ID bekerja sama dengan Jakarta Feminist Discussion Group, Perut Puan, Lentera Sintas, #SaveJanda, PerEMPUan, HollaBack! Jakarta, Unmasked, Bengkel Tari Ayu Bulan, Help Nona, Yayasan Pulih, Indonesia Feminis, dan gerakan sosial menghitung pembunuhan perempuan. 
Rangkaian kegiatan ini bermula dari keresahan Sebangsa dan Komunita.ID melihat maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Dalam siaran persnya, Sebangsa dan Komunita.ID mengutip data Catatan Tahunan (Catahu) Komnas Perempuan yang mencatat ada 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan sepanjang tahun 2015. Selain isu kekerasan terhadap perempuan, Sebangsa dan Komunita.ID juga mengangkat isu body …

Kaum Public Relations sedunia, bersatulah!

Gambar
Syahdan, bila dulu Karl Marx dan Friedrich Engles menyerukan agar kaum buruh sedunia untuk bersatu, maka melalui tulisan ini, aku menyerukan kaum Public Relations sedunia, bersatulah! Niscaya bila pekerja Public Relations bersatu, tak bisa dikalahkan!
Ada anggapan bahwa buruh ialah mereka yang bekerja di pabrik, para pekerja kasar, dan para tukang. Anggapan ini tidak salah. Namun, anggapan ini juga tidak sepenuhnya tepat. Bagiku, anggapan ini naif, karena sesungguhnya buruh ialah setiap pekerja yang menerima upah dari pemberi kerja, termasuk para pekerja Public Relations. Walaupun tentu saja banyak pekerja Public Relations yang menolak disebut buruh.
Melalui tulisan ini, aku ingin mengkritik para pekerja Public Relations yang merasa bukan bagian dari buruh sehingga dalam konflik antara buruh dan korporasi, cenderung memposisikan dirinya sebagai bagian dari korporasi dari pada buruh. Padahal, sebagaimana yang telah aku utarakan di atas, pekerja Public Relations adalah bagian dari buru…