Energi yang Melahirkan Komnas Perempuan

Foto bareng Dewi Anggraeni di Ceramah Energi Pencetus Komnas Perempuan
Kalau dilihat kembali daftar tulisanku di blog ini, sudah ada banyak sekali tulisanku yang membahas tentang kantorku, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan alias Komnas Perempuan. Semoga para pembaca tidak bosan yaa! Kali ini aku akan kembali menulis tentang Komnas Perempuan dari sisi energi yang melahirkannya. Sebagai putri sulung reformasi, kelahiran Komnas Perempuan tentu berbeda dari kelahiran lembaga-lembaga negara lainnya. 

Komnas Perempuan memaksa untuk lahir. Ia hadir sebagai respon negara atas tuntutan masyarakat yang marah atas maraknya kekerasan seksual di Tragedi Mei 1998. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) menemukan ada 85 perempuan etnis Tionghoa yang menjadi korban kekerasan seksual, 52 diantaranya merupakan korban perkosaan massal (gang rape). Korban kekerasan seksual di Tragedi Mei 1998 sampai hari ini masih disangkal keberadaannya oleh sejumlah pihak. Disangkalnya korban kekerasan seksual, karena tidak ada korban yang bersaksi di depan publik. Korban memang tidak ada yang bersaksi di depan publik karena tidak adanya jaminan keselamatan. 

Momen-momen lahirnya Komnas Perempuan, ditulis dengan apik oleh Dewi Anggraeni dalam bukunya yang berjudul "Tragedi Mei 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan". Dewi Anggraeni merupakan kontributor Tempo yang meliput tentang Tragedi Mei 1998. 

Senin, 11 April lalu, aku berkesempatan untuk bertemu dengan Dewi Anggraeni di kampus UI, Depok. Jurnal Wacana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya menyelenggarakan Ceramah Dewi Anggraeni dengan tema Energi Pencetus Komnas Perempuan, Then and Now. Di ceramah ini, hadir juga Saparinah Sadli, ketua Komnas Perempuan yang pertama. 

Dalam ceramah ini, Dewi Anggraeni mengatakan ada 4 energi yang membidani lahirnya Komnas Perempuan. Energi pertama adalah a sense of outrage, rasa marah yang mendalam. Energi kedua adalah a sense of decency, naluri dasar norma-norma kelayakan. Energi berikutnya adalah Basic Humanity, naluri dasar kemanusiaan. Energi terakhir adalah a collective sense of shame, rasa malu kolektif. 

Keempat energi itulah yang menyatukan individu-individu yang kemudian menamakan dirinya Masyarakat Anti Kekerasan, yang aktif menuntut pemerintah bertanggung jawab atas kekerasan seksual di Tragedi Mei 1998. 

Di akhir ceramahnya, Dewi Anggraeni menyampaikan pentingnya menghayati energi ini bagi anggota Komnas Perempuan sekarang agar tidak kehilangan ruh. Bagaimana pun juga, Komnas Perempuan lahir dari tuntutan masyarakat, ia lahir dari bawah, sangat berbeda dari lembaga negara lain yang biasanya lahir dari atas. 

Nah, menurut kamu, apakah Komnas Perempun hari ini masih sesuai dengan energi pembentukannya? Tulis komentar kamu yaa! Oh ya, baca juga tulisan ini!  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial