Postingan

Energi yang Melahirkan Komnas Perempuan

Gambar
Foto bareng Dewi Anggraeni di Ceramah Energi Pencetus Komnas Perempuan Kalau dilihat kembali daftar tulisanku di blog ini, sudah ada banyak sekali tulisanku yang membahas tentang kantorku, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan alias Komnas Perempuan. Semoga para pembaca tidak bosan yaa! Kali ini aku akan kembali menulis tentang Komnas Perempuan dari sisi energi yang melahirkannya. Sebagai putri sulung reformasi, kelahiran Komnas Perempuan tentu berbeda dari kelahiran lembaga-lembaga negara lainnya.  Komnas Perempuan memaksa untuk lahir. Ia hadir sebagai respon negara atas tuntutan masyarakat yang marah atas maraknya kekerasan seksual di Tragedi Mei 1998. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) menemukan ada 85 perempuan etnis Tionghoa yang menjadi korban kekerasan seksual, 52 diantaranya merupakan korban perkosaan massal (gang rape). Korban kekerasan seksual di Tragedi Mei 1998 sampai hari ini masih disangkal keberadaannya oleh sejumlah pihak. Disangkalnya korban kek...

Mewujudkan Zona Pelajar Bebas Kekerasan

Gambar
Audiensi IPPNU ke Komnas Perempuan 6 April 2016. Pagi itu terik sekali. Aku bergegas menuju kantor dengan menumpang angkutan umum. Pagi itu, aku punya agenda untuk menemui teman-teman Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama atau yang lebih akrab disebut IPPNU. Ceritanya IPPNU datang ke Komnas Perempuan, untuk meminta masukan terhadap program kerja mereka. IPPNU menargetkan adanya perwujudan zona pelajar yang bebas kekerasan berbasis gender di sekolah dan pesantren se-Indonesia!  Teman-teman IPPNU yang hadir pagi itu berjumlah 8 orang. Ketuanya Puti Hasni, yang ternyata pernah juga bergabung dengan Komnas Perempuan sebagai relawan Unit Pengaduan untuk Rujukan (UPR). Puti Hasni menyampaikan tentang program-program yang sudah dilakukan oleh IPPNU dalam mewujudkan zona pelajar bebas kekerasan. “IPPNU sebagai organisasi berbasis pelajar putri berusaha mewujudkan zona pelajar yang bebas dari segala bentuk kekerasan berbasis gender dengan melakukan sosialisasi bentuk-bentuk keke...

Begini Rasanya Bekerja di Komnas Perempuan

Gambar
Kejutan dari teman-teman sekantor Bila 1 April bagi kebanyakan orang dirayakan sebagai hari berbohong sedunia alias April Mop, bagiku tidak demikian. Aku memaknai 1 April sebagai hari yang istimewa, karena tepat di hari itu, aku mengambil sebuah keputusan penting yang membuat hidupku tidak lagi sama. 1 April 2013, aku mengawali pertualanganku di Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau yang lebih familiar disebut Komnas Perempuan sebagai anak magang. Setelahnya, secara berturut-turut, aku menjadi relawan, staf dan sekarang menjadi Asisten Kampanye Divisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan. 3 tahun sudah sejak hari itu dan rasanya masih istimewa. Ibarat minum bir, ini gelas ketiga, belum mabuk, masih waras dan masih haus akan gelas-gelas berikutnya.  Sebagai hadiah istimewa di hari jadian ketiga ini, aku mau menulis tentang kehidupan di Komnas Perempuan, biar pada enggak penasaran gimana sih rasanya kerja di lembaga ini.  Aku sering ditanya orang,...

Ngetweet Seperti Pacaran

Gambar
Cipluk Carlita, Communications Manager Twitter Indonesia 21 Maret yang lalu, Twitter merayakan hari jadinya yang ke-10! Hore! Tidak berasa, sudah 10 tahun, twitter hadir dan menjadi bagian dari kehidupan. Aku sendiri, sebagai anak millennials, yang katanya native , sudah menggunakan twitter, mungkin sekitar 6 atau 7 tahun terakhir.  Banyak hal yang berubah sejak adanya twitter. Hal yang paling penting, adalah twitter menyediakan ruang yang setara antar individu untuk menyampaikan gagasannya. Ruang diskusi yang setara antara individu ini hampir tidak ada di dunia nyata, semuanya ada relasi kuasa. Sejak ada twitter, seseorang yang bukan siapa-siapa di dunia nyata, punya ruang yang sama dalam menyampaikan pendapatnya. Nah, untuk ikut merayakan hari jadi Twitter, aku mau berbagi cerita tentang jumlah ideal ngetweet per hari nya. Pasti banyak nih yang bingung, berapa sih jumlah ideal ngetweet, apakah 5, 10, 20 atau 50 kali? Menurut kak Cipluk Carlita, manager komunikasi...

Inspiratif: Belajar Dedikasi dari Audrey Progastama Petriny

Gambar
Audrey Progastama Petriny di Majalah PR Indonesia, edisi Juli 2015 Ceritanya aku berlangganan Majalah PR Indonesia . Majalah ini mengupas tentang seluk-beluk dunia Public Relations , baik dari sisi government, corporate maupun consultant. Majalah ini juga sering kali membahas case study dan memunculkan sosok inspiratif di dunia PR. Nah, Majalah PR edisi 5, bulan Juli 2015, menampilkan sosok Audrey Progastama Petriny , Head of Corporate Secretary and Communications PT Indonesia Air Asia.  Cerita tentang kak Audrey yang menangani krisis Air Asia pasca musibah jatuhnya pesawat QZ 8501, sangat inspiratif, sampai-sampai aku tidak tahan untuk tidak membagikan ceritanya di sini agar jadi pembelajaran bagi kita semua. Walau demikian, aku hanya akan mencuplik bagian-bagian tertentu. Versi lengkapnya, dapat dilihat di Majalah PR Indonesia yaa! Mari langganan! Musibah jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501, di penghujung 2014 membawa cerita tersendiri bagi Kak Audrey, yang saat i...

Sabtu Seru Diskusi Hubungan Seks

Gambar
Diskusi Urban Women Sabtu dan mendung tidak menjadi penghalang bagiku untuk mengikuti diskusi tentang hubungan seksual dalam relasi yang diadakan oleh komunitas Urban Women. Diskusi ini diselenggarakan di Nutrifood Inspiring Centre, Apartement Menteng Square, Matraman. Diskusinya berjalan seru. Ada dua narasumber yang hadir, N. Bimantoro Elifas, seorang psikolog dan dr. Endi Novianto, SpKK, FINSDV, dokter spesialis kulit dan kelamin sekaligus pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.  Dokter Endi memulai presentasinya dengan memaparkan ragam penyakit kelamin, mulai dari raja singa sampai herpes. Di Indonesia, penyakit kelamin dianggap sebagai aib, sehingga jarang ada yang memeriksakannya ke dokter. Informasi tentang penyakit kelamin, kebanyakan bersumber dari google, yang sebenarnya belum tentu keakurasiannya. Dalam diskusi ini, aku sampaikan bahwa banyak sekali dokter yang dalam menjalankan tugasnya, justru menghakimi latar belakang pasien. Penghakiman macam ...

Tantangan Government Public Relations 2016

Gambar
PR Indonesia Meet Up #1 Jumat kemarin, 22 Januari 2016, aku menyambangi Gedung Dewan Pers di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Kedatanganku bertujuan untuk mengikuti PR Indonesia meet up pertama, yang diselenggarakan oleh PR Indonesia dan Serikat Perusahaan Pers (SPS Indonesia), di Hall SPS Indonesia, lantai 6 Gedung Dewan Pers. Kegiatan ini bertujuan sebagai wadah koordinasi dan konsolidasi praktisi-praktisi PR pemerintah, PR perusahaan swasta dan perusahaan konsultan PR. Rencananya kegiatan ini akan rutin diselenggarakan tiap bulannya.  PR Indonesia meet up yang pertama mengambil tema " Government Public Relations (GPR) Outlook 2016: Humas Pemerintah Mau Dibawa ke Mana ?. Tema ini diambil agar praktisi PR pemerintah mampu menangkap proyeksi peluang di tahun 2016. Sepanjang tahun 2015, setidaknya telah ada tanda-tanda bahwa presiden menaruh perhatian serius pada perbaikan komunikasi, mulai dari ditandatanganinya inpres no 9 tahun 2015 tentang pranata humas, pembentuka...