Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Nyonya Auw Tjoei Lan, sumber: majalah detik

Sebentar lagi Hari Kartini, tapi aku tidak akan menulis tentang Kartini, melainkan aku akan menulis tentang Nyonya Auw Tjoei Lan, atau yang dikenal juga dengan Nyonya Lie Tjian Tjoen. Siapa dia?

Menurut tulisannya Myra Sidharta yang berjudul Ny. Lie Tjian Tjoen, Perempuan yang Peduli dalam buku Tionghoa dalam Keindonesiaan, Nyonya Auw Tjoei Lan lahir di Majelengka pada 1889. Dia putri ketiga dari keluarga Auw Seng Hoe, seorang kapitan Cina di daerah itu. Kapitan Auw merupakan tuan tanah yang kaya raya. Di atas tanahnya, dia menanam tebu yang kemudian diolah sebagai gula di pabriknya sendiri. Kapitan Auw sangat peduli terhadap para gelandangan dan penyandang tuna netra di daerahnya. Dia menyediakan makanan dan mendirikan beberapa gubuk untuk mereka. Dia menugaskan semua putra-putrinya untuk membantu. Auw Tjoei Lan sendiri mendapatkan tugas memberikan makanan kepada tuna netra. Auw Tjoei Lan harus memeriksa makanan dan jika ada ikan dalam menu, dia harus membersihkan duri-durinya. 

Pada 1906, Tjoei Lan menikah dengan Lie Tjian Tjoen, putra Mayor Lie Tjoe Hong dari Batavia. Tjoei Lan kemudian lebih dikenal dengan sebutan Nyonya Lie Tjian Tjoen. Mereka pun kemudian tinggal di Batavia. 

Nyonya Auw Tjoei Lan lalu bertemu dengan dokter Zigman yang mengajaknya duduk di kepengurusan Ati Soetji, sebuah badan sosial yang menangani isu perempuan. Ati Soetji menampung perempuan-perempuan yang dipaksa melacurkan diri karena kesulitan ekonomi. Resesi ekonomi pasca Perang Dunia I mendorong peningkatan perdagangan perempuan. Makin banyak perempuan diperdagangkan dari Tiongkok menuju Asia Tenggara, seperti Malaya dan Hindia Belanda. Mereka kerap mendapat kekerasan dan eksploitasi. Nyonya Auw Tjoei Lan berusaha menyelamatkan perempuan-perempuan ini, sering kali dengan mempertaruhkan nyawanya. Nyonya Auw Tjoei Lan aktif turun ke lapangan, sesuatu yang jarang terjadi karena perempuan Tionghoa terutama dari kelas menengah-atas umumnya pada masa itu masih berkutat dengan wilayah domestik. Karena aktivitasnya tersebut, nyawa Nyonya Auw Tjoei Lan sering terancam. Para mucikari pernah mencekiknya, mengancam dengan golok dan memerasnya. 

Isu perdagangan perempuan sampai hari ini belum juga terselesaikan, malah makin menjadi. Dalam penelusuran investigasi yang aku lakukan pada sekitar 2012, aku menemukan di daerah Glodok, ada sebuah tempat prostitusi berkedok hotel, yang mana para terapisnya merupakan korban perdagangan perempuan dari Tiongkok. Biasanya, perempuan-perempuan miskin dari Tiongkok diperdagangkan dan dilacurkan ke sejumlah klub di Jakarta. Dokumentasi ini dapat juga dilihat dalam film Xia Ai Mei yang dibintangi oleh Franda. Sebaliknya, banyak juga perempuan-perempuan Tionghoa di Indonesia, utamanya di Kalimantan Barat yang diperdagangkan ke Hongkong, Taiwan dan Tiongkok dengan modus perkawinan. Perdagangan perempuan dengan modus perkawinan dapat dibaca dengan lebih detail pada buku Amoi - Gadis yang Menggapai Impian, karya dosenku Mya Ye

Kembali lagi Nyonya Auw Tjoei Lan. Selain turun langsung menyelamatkan para perempuan korban perdangan, Nyonya Auw Tjoei Lan juga menyuarakan perlunya perlindungan bagi perempuan-perempuan korban eksploitasi dan perdagangan dalam konferensi yang dihelat Liga Bangsa-Bangsa, cikal bakal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam makalahnya, Nyonya Auw Tjoei Lan bicara tentang pengalamannya serta tujuannya untuk merehabilitasi dan mengubah nasib perempuan-perempuan ini. Dia mengusulkan pentingnya polisi perempuan untuk menangani kasus semacam ini.

Pada 1937, Nyonya Lie menerima penghormatan dari pemerintah Belanda berupa sebuah bintang Ridder in de Orde van Oranje Nassau. Dia adalah perempuan Tionghoa pertama yang menerima penghormatan setinggi itu dari Belanda. 

Suatu hari, setelah pindah ke rumah sendiri di Jalan Kramat, dia mendapati bayi yang baru lahir di serambi rumahnya. Beberapa kali pula, Zuster Gunning, seorang perawat, membawa bayi yang baru lahir ke rumahnya dan meminta bantuannya untuk merawat anak tersebut. Kasus-kasus seperti ini menggugahnya untuk mendirikan sebuah rumah yatim piatu. 

Rumah Hati Suci (2017)

Pada 1913, sebuah panti asuhan didirikan. Mula-mula menampung sembilan anak perempuan. Setahun kemudian, panti asuhan tersebut diresmikan dan diberi nama Ati Soetji, seperti nama perkumpulan di mana Nyonya Auw Tjoei Lan menjadi pengurusnya. Oleh masyarakat Tionghoa, panti asuhan tersebut lebih dikenal sebagai Po Liang Kiok, yang artinya tempat perlindungan untuk menjaga kebaikan. Pada 1929, Ati Soetji mendapat sebuah gedung di baru di Jalan kebon Sirih, dan jalan itu kemudian diberi nama jalan Ati Soetji. Gedung ini cukup luas untuk sebuah sekolah dasar, sehingga anak-anak tidak perlu bersekolah di luar panti. Sekarang, sudah lebih dari 100 tahun pendiriannya, Yayasan Hati Suci masih tetap memberi perlindungan kepada anak-anak yatim piatu.

Yayasan Hati Suci (2017)

Beberapa waktu lalu, aku sempat main ke Yayasan Hati Suci, yang letaknya di belakang Hotel Milenium, dekat dengan Tanah Abang. Tempatnya asri dan sejuk, sayang karena itu hari minggu, aku tidak dapat bertemu dengan siapa-siapa, hanya melihat-lihat dari luar. Oh ya, tahun 2014 yang lalu, bertepatan dengan hari jadi Yayasan Hati Suci yang ke-100, diluncurkan buku biografi Auw Tjoei Lan. Buku itu berjudul "Ny. Lie Tjian Tjoen: Mendahului Sang Waktu". 

"Kami ingin momen 100 tahun ini menghadirkan kembali semangat perjuangan Ibu Lie. Kami harap buku biografi ini mampu menginspirasi masyarakat luas dan menghapuskan ketelantaran anak Indonesia," kata Fransisca, Direktur Panti Asuhan Hati Suci, seperti yang dikutip dari Kompas.com

Dilihat dari konteks zamannya, aktivisme Nyonya Auw Tjoei Lan dalam isu penghapusan kekerasan terhadap perempuan, utamanya menyelamatkan perempuan korban perdagangan dan eksploitasi serta kepeduliannya dalam merawat anak-anak yang dititipkan pada panti asuhannya, dapat dikatakan melampaui zaman, atau mendahului sang waktu, sebagaimana yang dituliskan dalam buku biografinya. Selain itu, sama seperti Kartini, yang mendobrak tradisi Jawa yang meletakkan perempuan hanya pada usuran domestik, Nyonya Auw Tjoei Lan juga melawan tradisi Tionghoa pada zaman itu, yang tidak memberikan kesempatan pada perempuan Tionghoa untuk bergerak bebas. 

Nah, dengan melihat semua sepak terjangnya, bolehlah kita juluki Nyonya Auw Tjoei Lan sebagai Kartini Tionghoa! Julukan ini semata-mata agar para perempuan Tionghoa hari ini mempunyai role model, seorang perempuan Tionghoa yang filantrofis dan peduli pada isu-isu sosial di sekitarnya. 

Kamu punya cerita yang serupa dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, atau pernah main ke Yayasan Suci Hati? Share pendapat kamu ya di kolom komentar!  

Sumber: Ny. Lie Tjian Tjoen, Perempuan yang Peduli dalam buku Tionghoa dalam Keindonesiaan

Komentar

Pos populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial