Kejutan dari teman-teman sekantor Bila 1 April bagi kebanyakan orang dirayakan sebagai hari berbohong sedunia alias April Mop, bagiku tidak demikian. Aku memaknai 1 April sebagai hari yang istimewa, karena tepat di hari itu, aku mengambil sebuah keputusan penting yang membuat hidupku tidak lagi sama. 1 April 2013, aku mengawali pertualanganku di Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau yang lebih familiar disebut Komnas Perempuan sebagai anak magang. Setelahnya, secara berturut-turut, aku menjadi relawan, staf dan sekarang menjadi Asisten Kampanye Divisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan. 3 tahun sudah sejak hari itu dan rasanya masih istimewa. Ibarat minum bir, ini gelas ketiga, belum mabuk, masih waras dan masih haus akan gelas-gelas berikutnya. Sebagai hadiah istimewa di hari jadian ketiga ini, aku mau menulis tentang kehidupan di Komnas Perempuan, biar pada enggak penasaran gimana sih rasanya kerja di lembaga ini. Aku sering ditanya orang,...
Suasana Diskusi di Komnas Perempuan Ibarat kata pepatah, “ sudah jatuh tertimpa tangga pula”, begitulah nasib korban kekerasan seksual. Sudah menjadi korban oleh pelaku, menjadi korban lagi dari pemberitaan media yang mengstigmatisasi korban. Pemberitaan media yang secara gamblang menyebut identitas korban semakin membuat korban kejahatan seksual merasa tak berharga, lemah, terbuang, murung, mengucilkan diri, dan tak berdaya. Padahal sudah jelas, tertuang dalam Kode Etik Jurnalistik, pasal 5 yang berbunyi “Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.” Namun, masih banyak media yang memilih untuk mempublikasikan korban kejahatan seksual. Alih-alih membantu, pengungkapan identitas ini malah membuat korban kejahatan seksual mengalamai trauma karena masyarakat semakin mengetahui permasalahan yang dihadapi. Rabu, 11 Januari 2012 kemarin, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) m...
Napak Reformasi Komnas Perempuan ke Makam Souw Beng Kong 2011. Dok: Komnas Perempuan Minggu lalu, aku pergi ke kawasan Kota Tua Jakarta untuk refreshing sambil mengikuti keseruan Festival Kuliner Ikan Nusantara. Saat sedang asyik menikmati berbagai jenis ikan yang ada, aku teringat akan makam Souw Beng Kong yang terletak tak jauh dari kawasan Kota Tua. Aku pun bergegas ke sana untuk berziarah. Makam Souw Beng Kong terletak di Gg Taruna, Jalan Pangeran Jayakarta. Agak sulit untuk melihat makam Souw Beng Kong dari jalan raya, karena makam tersebut berada dalam himpitan ruko-ruko yang menjamur sepanjang jalan. Untungnya ada papan petunjuk jalan yang menunjukkan lokasi makam kuno tersebut. Gang sempit menuju makam Souw Beng Kong Sampai di lokasi makam Souw Beng Kong, hatiku remuk redam. Kondisi makam sangat mengenaskan! Pagar teralis yang membatasi makam dijadikan tiang jemuran oleh warga. Sampah juga berserakan di area makam. Bahkan, di depan nisan, tergenang ai...
kritik : nama emailnya ditaro dibawah slogannya aja po, biar lebih rapi :p
BalasHapusatau gak nama emailnya dikurangin opacity-in :p
kalo soal konsep, udah bagus kok :D