Berziarah ke Mausoleum Termegah di Asia Tenggara

Mausoleum O.G. Khouw di TPU Petamburan

Pasti banyak yang belum tahu bahwa di Jakarta ada sebuah mausoleum, yang konon termegah di Asia Tenggara. Terletak di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Petamburan, Jakarta Pusat, mausoleum O.G. Khouw berdiri kokoh menjadi saksi bisu pembangunan Jakarta. 

Ngomong-ngomong apa sih itu mausoleum, dan siapa itu O.G. Khouw? Sabar-sabar, akan aku ceritakan semuanya. Sediain dulu cemilan dan kopinya, agar makin mantap baca tulisan ini. 

Buat yang belum tahu, mausoleum itu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya bangunan makam yang luas dan megah atau monumen makam. Gampangnya, seperti Taj Mahal di India. Pastinya sudah pada tahu kan kalau Taj Mahal dibangun oleh Raja Shah Jahan untuk mendiang istri tercintanya, Mumtaz Mahal. Nah, bangunan Taj Mahal itu termasuk mausoleum.   

Makam O.G.Khouw dan Lim Sha Nio

Lalu siapa O.G. Khouw? 
 
O.G. Khouw alias Khouw Oen Giok adalah orang super kaya pada masanya. Menurut Benny G. Setiono dalam buku Tionghoa dalam Pusara Politik, keluarga Khouw memiliki ribuan hektar sawah di Tangerang dan Bekasi serta penggilingan beras pada akhir abad ke-19. Dalam buku Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia, disebutkan bahwa Khouw Oen Giok adalah tuan tanah dari Tambun yang memiliki perkebunan tebu yang sangat luas. Ia tercatat menjadi ketua hospitaal fonds Jang Seng Ie di Batavia sewaktu rumah sakit itu akan dibangun. Kini rumah sakit tersebut menjadi Rumah Sakit Husada di daerah Mangga Besar. Selain itu, Ia juga memiliki Than Kie Bank di Jakarta.

Khouw lahir di Batavia pada 13 Maret 1874. Meski keturunan Tionghoa, Khouw tak dapat berbahasa mandarin dan banyak tinggal di Eropa. Menurut David Kwa, pengamat sejarah dan budaya Tionghoa Peranakan, seperti yang aku kutip dari kompas, mengatakan bahwa, dalam perjalanan sistem kolonial, Khouw Oen Giok sebagai orang Tionghoa yang digolongkan dalam golongan Timur Asing menuntut persamaan hak dengan golongan Eropa. Maka namanya lebih sering disebut sebagai O.G. Khouw (marga keluarga ditulis di belakang). Padahal, sebagai orang Tionghoa, nama yang benar adalah Khouw Oen Giok (marga keluarga ditulis di depan).

“Itu kebanyakan diminta oleh orang-orang Tionghoa kaya, supaya mereka bisa mendapat hak sama dengan orang Eropa. Naik kereta api kelas 1, boleh tinggal di hotel kelas 1. Diskriminasi yang jelek dari pemerintah kolonial,” kata David Kwa pada Warta Kota

Ai Marmi Italiani
 
O.G. Khouw meninggal di Swiss pada 1 Mei 1927. Jenazahnya dikremasi, kemudian sang istri membawa pulang abunya. Namun abu O.G. Khouw tak langsung dikubur. Sang istri, Lim Sha Nio membangun sebuah mausoleum sebagai tanda cintanya. Mausoleum O.G. Khouw terbuat dari marmer hitam Italia dan menghabiskan 200.000 gulden untuk pembuatannya. Pemborongnya adalah Ai Marmi Italiani. Ada lima patung malaikat ala Romawi yang melengkapi megahnya mausoleum ini. Mausoleum ini juga dilengkapi dengan bunker bawah tanah, tempat meletakkan abu O.G. Khouw dan Lim Sha Nio yang menyusul kematian O.G. Khouw 30 tahun kemudian. 

Bunker bawah tanah tampak kotor dan tidak terawat

Sayangnya, saat aku berziarah sabtu kemarin, ruang bawah tanah dalam keadaan terkunci. Dari pintu besi, terlihat keadaan di dalam yang sangat kotor dan tidak terawat. Selain itu, banyak juga coret-coretan di tembok. Dinding-dinding marmer juga pecah di sana-sini dimakan akar tanaman. 

Andai saja mausoleum ini dirawat dengan baik, boleh jadi dapat menandingi kemahsyuran Taj Mahal di India! Andai saja ...

Di samping kiri dari mausoleum O.G. Khouw ada makan sepupunya Khouw Kim An, seorang tuan tanah, tokoh masyarakat dan Mayor Tionghoa terakhir di Batavia.  Makam Khouw Kim An tampak sangat sederhana bila dibandingkan dengan mausoleum O.G. Khouw. 

Makam Khouw Kim An dan Phoa Tji Nio

Bersama Tjong A Fie dan Lie Tjian Tjoen, Khow Kim An mendirikan Bataviaasche Bank. Ia juga merupakan salah satu pendiri Tionghoa Hoa Hwee Koan (T.H.H.K) yang lahir pada awal tahun 1900. Mayor Khouw Kim An dalam perayaan 36 tahun T.H.H.K seperti yang dikutip oleh Benny G. Setiono dalam buku Tionghoa dalam Pusaran Politik, mengatakan bahwa, T.H.H.K bertujuan untuk mengembangkan ajaran Kong Hu Cu, mengubah kebiasaan dalam melakukan upacara perkawinan dan pemakaman secara besar-besaran, dan berusaha meningkatkan ilmu pengetahuan, terutama membaca, menulis dan berbahasa melalui pendirian sekolah-sekolah. Selain itu, T.H.H.K bertujuan juga untuk menggalang persatuan orang Tionghoa di perantauan tanpa membedakan asal kampung dan provinsi di Tiongkok, juga tidak membedakan apakah peranakan atau totok. 

Setahun setelah T.H.H.K berdiri, pada 17 Maret 1901, sekolah pertama Tionghoa Hak Tong lahir dengan kepala sekolah Louw Koei Hong yang didatangkan dari Singapura berkat bantuan Dr. Lie Boen Keng. Sistem yang diterapkan adalah meniru sistem modern yang telah digunakan di Tiongkok dan Jepang. Sekarang gedung sekolah Tionghoa Hak Tong masih berdiri dengan nama SMA N 19. 

Sebelum adanya sekolah Tionghoa Hak Tong, anak-anak Tionghoa hanya mendapatkan pendidikan dari guru-guru privat di rumah masing-masing atau di rumah gurunya. Mereka hanya mengajarkan pelajaran klasik Tiongkok tanpa mengerti artinya dan sedikit berhitung. Hanya golongan elite yang mampu membayar guru privat. 

Ada juga beberapa anak-anak Tionghoa yang beruntung dapat bersekolah di sekolah-sekolah zending milik para misionaris Kristen atau beberapa sekolah Belanda. Mereka harus membayar uang sekolah yang sangat mahal dan pihak sekolah sangat selektif dalam memilih murid dari etnis Tionghoa. Kalau ayah mereka bukan teman dekat residen atau asisten residen, jangan harap akan diterima. 

Nah, kembali ke Khouw Kim An. Ia lahir di Batavia pada tanggal 5 Juni 1875 (di makam ditulis 1876), anak dari Khouw Tjeng Tjoan, seorang Luitenant der Chinezen dari selirnya yang ke-9. Ia mengayom pendidikan tradisional Hokkien, sehingga fasih berbahasa Hokkien dan Mandarin. Ia juga mempunyai guru-guru pribadi yang memperkenalkannya kepada bahasa-bahasa Eropa, termasuk bahasa Belanda. 

Khouw Kim An menikah pada usia 18 tahun dengan Phoa Tji Nio, putri satu-satunya dari tokoh masyarakat dan bangsawan Tionghoa, Phoa Keng Hek, yang juga merupakan pendiri dan presiden perdana T.H.H.K. Khouw ditunjuk menjadi Luitenant der Chinezen pada tahun 1905, kemudian Kapiten pada tahun 1908, dan akhirnya Majoor pada tahun 1910. Jenjang kariernya sangat pesat karena latar belakang keluarganya dan keluarga istrinya.

Khouw Kim An dan Phoa Tji Nio

Khouw Kim An meninggal di kamp Jepang di Cimahi pada 1945. Sebelum tentara Jepang menaklukkan Hindia Belanda, Mayor Khouw Kim An bersama dengan aparat tinggi pemerintahan Belanda menolak penawaran sekutu untuk melarikan diri ke Australia. Penolakan ini dikarenakan niat sang Mayor untuk tetap memimpin dan menderita bersama bangsanya saat Perang Dunia II. Pada tahun 1942, sebagai mayor Tionghoa di Batavia, Khouw Kim An ditangkap dan diinternir oleh tentara Jepang. Dia wafat di penjara Cimahi pada tanggal 13 Februari 1945, dan dikebumikan di Petamburan di dekat makan sepupunya yang tersohor, O.G. Khouw. 

Salah satu warisan dari Khouw Kim An yang masih bisa dilihat sampai sekarang adalah Gedung Candra Naya, sebelah Novotel, di jl Gajah Mada.

Kira-kira begitu cerita dari makam O.G. Khouw dan sepupunya Khouw Kim An. Kamu punya cerita makam bersejarah lainnya? Share pendapat kamu di kolom komentar ya!

Sumber:

Buku Tionghoa dalam Pusara Politik
Buku Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia
Kompas Travel: Wah, Pelindung Makam Termegah di Asia Tenggara Ada di Jakarta
Kompas: Bersih-Bersih di Mausoleum OG Khouw
Wikipedia: Khouw Kim An

Komentar

Pos populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial