Perempuan Tangguh Sebangsa Nobar Film "hUSh"

Pemutaran dan diskusi Film "hUSh", Sabtu, 29 April 2017

Sabtu kemarin, aku pergi ke Freeware Space, Kemang untuk menghadiri pemutaran Film "hUSh" karya Djenar Maesa Ayu dan diskusi penanganan serta pencegahan kekerasan terhadap perempuan. Kedua acara tersebut merupakan rangkaian acara Perempuan Tangguh Sebangsa yang diadakan oleh Sebangsa dan Komunita.ID bekerja sama dengan Jakarta Feminist Discussion Group, Perut Puan, Lentera Sintas, #SaveJanda, PerEMPUan, HollaBack! Jakarta, Unmasked, Bengkel Tari Ayu Bulan, Help Nona, Yayasan Pulih, Indonesia Feminis, dan gerakan sosial menghitung pembunuhan perempuan. 

Rangkaian kegiatan ini bermula dari keresahan Sebangsa dan Komunita.ID melihat maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Dalam siaran persnya, Sebangsa dan Komunita.ID mengutip data Catatan Tahunan (Catahu) Komnas Perempuan yang mencatat ada 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan sepanjang tahun 2015. Selain isu kekerasan terhadap perempuan, Sebangsa dan Komunita.ID juga mengangkat isu body positivity dan against stereotype

"Aktivitas ini dihadiri oleh peserta yang berasal dari berbagai komunitas perempuan se-Indonesia. Kami sengaja menyelenggarakan acara ini di bulan April untuk merayakan semangat emansipasi perempuan yang dipelopori oleh Kartini. Rasa salut yang besar juga kami sampaikan kepada komunitas-komunitas yang memperjuangkan hak-hak perempuan sekaligus memberi perlindungan pada para perempuan yang menjadi korban dan penyintas kekerasan serta pelecehan" ungkap Indira B. Widjonarko, founder Sebangsa dan Komunita.ID

Selain pemutaran film "hUSh" dan diskusi, juga ada workshop statement jewellery yang terdiri atas kelas gelang makrame dan kalung perca. Melalui workshop tersebut, peserta diajak mengasah kreativitas, berkreasi sekaligus menyebarkan awareness melawan kekerasan dan pelecehan pada perempuan.

Aku tiba di Freeware Space, Kemang sekitar pukul 12.00 siang. Tak lama kemudian, film "hUSh" diputar. Ada sekitar 50an peserta yang mengikuti pemutaran ini. Film "hUSh" besutan Djenar Maesa Ayu dan Kan Lume bercerita tentang kekerasan seksual dan isu-isu perempuan yang selama ini dianggap tabu oleh masyarakat. Film "hUSh" dimulai dengan cuplikan data dan berita tentang kekerasan seksual di berbagai tempat. Ada satu narasi yang penting, kira-kira seperti ini ketika seks ditabukan, korban tidak bisa bicara mengenai kekerasan seksual yang dialaminya karena akan dipersalahkan! 

Narasi di atas sejalan dengan survei tentang kekerasan seksual yang diinisiasi oleh Lentera Sintas Indonesia bekerja sama dengan Magdalene.co dan Change.org Indonesia. Sekitar 25.000 orang menjadi responden survei tersebut dan hasilnya 93 persen korban tidak melaporkan kasusnya! Tiga alasan utama korban tidak melaporkan kasusnya adalah takut disalahkan, takut tidak didukung keluarga, dan diancam. 

Sosok utama dalam film "hUSh" adalah Cinta, yang berprofesi sebagai penyanyi. Cinta yang sedang penat dengan kehidupan di Jakarta, memutuskan terbang ke Lombok mencari inspirasi untuk menulis lagu. Cinta digambarkan sebagai sosok yang merdeka atas tubuhnya, dan tidak segan-segan mengungkapkan fantasinya pada seks. Sosok Cinta adalah potret dari perlawanan perempuan terhadap sekat-sekat ketabuan yang dilekatkan masyarakat pada tubuh perempuan sejak ia lahir, bahkan sejak dalam kandungan. 

Ada satu dialog, di mana Cinta mengatakan bahwa di Indonesia, kalau laki-laki berhubungan seks dengan banyak perempuan, ia akan dinilai maskulin atau macho, tapi kalau perempuan berhubungan seks dengan banyak lelaki, ia dianggap pelacur, murahan. Bagi Cinta, ini sungguh tidak adil! 

Komnas Perempuan dalam kajiannya tentang kekerasan seksual menyebutkan bahwa dalam masyarakat dengan ketimpangan relasi gender, perempuan diposisikan sebagai marka atau penanda kesucian dan moralitas dari masyarakat. Ini sebabnya seringkali pembicaraan tentang moralitas berujung pada pertanyaan apakah perempuan masih perawan atau tidak, apakah perempuan melakukan aktivitas seksual hanya dalam kerangka perkawinan, dan sejauh mana perempuan memendam ekspresi seksualitasnya dalam keseharian interaksi sosial. Kalau mau adil, kenapa tidak laki-laki dijadikan juga acuan penanda kesucian dan moralitas dari masyarakat? 

Lucu juga buat tempat foto-foto

Dalam sesi tanya jawab, ada salah satu peserta yang bertanya kenapa Djenar selalu mengangkat isu perempuan dalam setiap karyanya. Djenar dengan lantang menjawab bahwa ia mengangkat isu perempuan ke dalam karyanya, karena ia butuh untuk menyampaikan kegelisahannya.

"Saya adalah perempuan, saya juga adalah seorang Ibu dari dua anak perempuan. Saya juga adalah eyang putri dari cucu perempuan. Di luar rumah kami, tidak ada ruang yang aman bagi mereka" tutur Djenar.

Salah satu peserta yang hadir menanyakan kenapa film sebagus ini tidak ditayangkan di bioskop agar jangkauannya lebih luas.

Djenar menjawab film "hUSh" tidak tayang di bioskop, karena pasti akan terlalu banyak sensor, yang justru akan mengaburkan makna dari film tersebut. Djenar menceritakan pengalamannya tentang film Nay, yang rilis tahun 2015. Film Nay yang menceritakan tentang kekerasan seksual hanya mampu bertahan di bioskop kurang dari satu minggu. Djenar mengakui sangat sulit untuk menghadapi industri. Isu perempuan bukanlah isu yang seksi.

Ada satu pertanyaan yang menggelitik dari peserta, yang menanyakan bagaimana caranya Djenar bertahan dalam mengangkat isu perempuan di tengah industri yang tidak menganggap isu perempuan sebagai isu yang menguntungkan.

Djenar menjawab memang betul mengerjakan film yang bertemakan isu perempuan, tidak ada duitnya. Ia sampai harus ke penggadaian, agar bisa membayar uang sekolah anak-anaknya.

"Setiap orang pada akhirnya akan punya kekuatan untuk bertahan bila ia benar-benar tahu apa yang ia mau lakukan" tutup Djenar.

Kamu sudah nonton film "hUSh"? Share pendapat kamu di kolom komentar ya! 

Komentar

Pos populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial