Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro


Dian Sastro sedang membicarakan pemikiran Kartini. Sumber foto: @FeminaMagazine

Rasa-rasanya aku tidak tahan juga untuk tidak mengomentari insiden yang sedang Dian Sastro alami saat ini, yang membuat heboh seluruh jagat media sosial tanah air. Tentu pembaca sudah tahu insiden yang dimaksud. Tak lain dan tak bukan adalah tersebarnya video yang memperlihatkan Dian Sastro menepis tangan penggemarnya yang hendak mengajaknya berfoto bersama. 

Seperti yang aku kutip dari beritagar, rekaman pendek itu dibuat saat Dian berjalan di lorong sebuah bioskop ketika tengah mempromosikan film Kartini yang dibintanginya. Di sisi lorong tersebut terlihat beberapa penggemar yang meminta untuk foto bersama. Seorang penggemar tampak menyentuh lengan Dian, yang langsung ditepis oleh sang aktris, sembari terus berjalan. Namun, yang kemudian paling banyak mendapat tanggapan dan cacian adalah ekspresi bergidik Dian. 

Ekspresi tersebut dinilai banyak orang yang menyaksikan cuplikan video itu sebagai ungkapan rasa jijik sang aktris. Walau tak sedikit juga yang membela Dian dengan menyatakan itu adalah ekspresi kegelian, bukan jijik. Video yang memperlihatkan penolakan tersebut awalnya diunggah Dian sendiri ke akun Instagram Story miliknya @therealdisastr pada Selasa (18/4/2017). Video itu telah dihapus tapi banyak yang sempat merekamnya sehingga masih beredar luas hingga saat ini.

Melalui tulisan ini, aku mencoba untuk mengajak pembaca, agar dapat berpikir lebih jernih dalam melihat insiden tersebut. Pertama-tama, aku jelaskan dulu posisiku terhadap insiden yang dialami Dian Sastro tersebut ya. Aku tidak kenal secara langsung dengan Dian Sastro. Aku juga bukan lovers atau hatersnya Dian Sastro. Aku bahkan belum pernah bertemu dengan Dian Sastro. Buatku, Dian Sastro adalah satu dari sekian banyak artis di Indonesia, yang mempunyai prestasi yang gemilang. Itu saja.

Yang kedua, harus kita pahami bahwa tubuh seseorang adalah sepenuhnya milik orang tersebut yang bersifat otonom. Sehingga, bila ingin memasuki wilayah otonom dari seseorang, harus mendapatkan izin dari sang empunya tubuh. Gampangnya begini, tubuh itu, atau lengan itu adalah sepenuhnya wilayah otonom dari Dian Sastro, dan bila ada orang lain (dalam hal ini penggemarnya) yang ingin menyentuhnya, harus mendapat izin dulu dari Dian Sastro, bukan langung main colek saja, seperti yang tampak dalam video tersebut. Jadi wajar saja bila Dian Sastro merasa tidak nyaman lalu menepis tangan orang tersebut. Her Body Her Rights! 

Berikutnya, kadang para penggemar sering lupa bahwa sang idola adalah sepenuhnya manusia biasa. Sering kali, penggemar menuntut sang idola untuk tampil sebagaimana yang ia idealkan. Padahal, tak ada manusia yang ideal. Di sini, letak masalahnya. Sebagai idola, yang dalam bahasa Latin berarti berhala, sang artis dituntut harus tampil sempurna di setiap saat, sebagaimana seperti yang diidealkan oleh penggemar. Penggemar akan murka bila sang idola hadir tidak sesuai dengan patron-patron yang telah ditetapkan dalam benak penggemar. 

Mulai sekarang, sebaiknya kurang-kurangi mengkultuskan atau mengidolkan seseorang, sebab niscaya kau akan kecewa. Artis juga bisa salah, artis juga bisa lelah, artis juga manusia biasa, sebagaimana kita.

Hal lain adalah ekspresi bergidik dari Dian, yang kemudian ditafsirkan oleh orang-orang sebagai wujud dari perasaan jijik. Seolah-olah, kulit tangan penggemar yang menyolek lengan Dian adalah sesuatu yang hina, sehingga Dian merasa jijik saat tersentuh. Aku pikir menafsirkan bahwa bergidik adalah respon terhadap sesuatu yang menjijikan adalah terlalu mengeneralisir sesuatu. Kalau mau objektif, baiknya dalam menafsirkan bergidiknya Dian, menggunakan beberapa pendekatan yaitu hermeneutika atau fenomenologi. 

Bila menggunakan pendekatan hermeneutika, hal penting yang harus diingat adalah konteks. Konteks tidak dapat dipisahkan dari teks yang hendak ditafsirkan. Bergidiknya Dian tidak dapat dilepaskan dari konteks kejadian, yaitu saat tiba-tiba Dian dicolek. Bila menggunakan fenomenologi, kita harus tahu siapa sebenarnya Dian, bagaimana Dian hidup, siapa panutannya, dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kehidupan Dian, sebelum kita bisa menarik kesimpulan arti dari bergidiknya Dian. Jadi rumit kan?

Terakhir nih, Dian akhirnya buka suara juga. Melalui akun instagramnya, Dian memuat pernyataan sebagai berikut

"Mengenai insiden tempo hari. Sejujurnya itu hal yang tak disengaja. Ada seseorang dari belakang yang tiba-tiba memegang badan saya, dan karena kaget serta refleks, saya menepis dan menghindar. Saya tidak bermaksud tidak ramah atau tidak sopan. Memang video tersebut kemudian saya hapus agar tidak menimbulkan kesan yang tidak sesuai dengan yg sebenarnya terjadi. Saya dapat memahami semua respon dan bahwa di dunia social media ini benar adanya bahwa kita tidak bisa mengontrol apa yg orang pikirkan atas apa yg terjadi. Apa yg bisa kita buat hanyalah bagaimana meresponnya di waktu yg tepat dan dengan cara yg baik 😊 Terima kasih buat semuanya. Saya menerima semua kritik & dukungan dengan lapang dada."

Melalui insiden ini, aku pikir ini saatnya untuk mengedukasi para penggemar. Para penggemar harus sadar sepenuhnya bahwa sang idola adalah manusia juga, yang punya hak utuh atas tubuhnya. Artis bukanlah objek publik yang bisa diatur-atur sepenuhnya sesuai dengan yang diidealkan oleh penggemar. 

Kamu punya pengalaman berinteraksi dengan Dian Sastro, atau punya kejadian serupa? Share di kolom komentar ya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial