Peran Public Relations dalam Dunia yang Semakin Mengglobal


Dapat kain dari teman-teman Filipina. Kain tsb ditenun oleh Ibu-Ibu suku Moro di Filipina Selatan.


Tulisan berikut adalah ringkasan dari makalah yang aku tulis untuk mata kuliah Principle of Corporate Communication di Post Graduate Program The London School of Public Relations - Jakarta. Makalah ini tentang semakin pentingnya peran Public Relations di era globalisasi seperti sekarang ini. Selamat membaca!

Selasa, (16/6/2015), Asean Public Relations Network (APRN) dan Public Relations Institute Australia (PRIA) menandatangani perjanjian kerjasama di kampus The London School of Public Relations (LSPR) Jakarta. 

“Kerjasama antara APRN dan PRIA melingkupi bidang yang cukup luas karena kerjasamanya ini juga akan mendukung para akademisi dan praktisi Public Relations meningkatkan kompetensinya,” ujar Prita Kemal Gani, Presiden APRN, seperti dilansir dari Mix.co.id

Lebih lanjut, Prita Kemal Gani mengatakan bahwa kerjasama ini diharapkan dapat mendukung program APRN dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), yang dimulai 1 Januari 2016. 

“Kerjasama ini juga akan mendukung peningkatan kompetensi akademisi dan praktisi Public Relations. Peran dan kompetensi Public Relations sebagai ujung tombak perusahaan diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui bidang Public Relations, khususnya menghadapi MEA,” tegas Prita Kemal Gani, seperti yang dikutip dari Majalah PR Indonesia edisi Juli 2015


Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) secara resmi telah dimulai per 1 Januari 2016. Hal ini menandakan pasar bebas di kawasan ASEAN telah dibuka. Sekat-sekat negara di kawasan ASEAN semakin samar. Barang dan jasa dapat dijual dengan mudah ke semua negara ASEAN sehingga kompetisi akan semakin ketat. 

Hadirnya MEA tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan termasuk juga Public Relations. Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dita Indah Sari, menjelaskan bahwa MEA mensyaratkan adanya penghapusan aturan-aturan yang sebelumnya menghalangi perekrutan tenaga kerja asing.

"Pembatasan, terutama dalam sektor tenaga kerja profesional, didorong untuk dihapuskan sehingga pada intinya, MEA akan lebih membuka peluang tenaga kerja asing untuk mengisi berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup atau minim tenaga asingnya," tuturnya sepertinya dikutip dari BBC Indonesia. 

Sejatinya MEA bukan fenomena yang tiba-tiba terjadi. MEA merupakan bagian dari penguatan negara-negara ASEAN dalam menghadapi arus globalisasi. Linda Low (2001) dalam esainya, Globalization of the Asian Economics: Shaken, Stirred or Blended? mengutip pendapatnya Pryor tentang globalisasi. Globalisasi dimaknai sebagai proses ketika komunikasi antar orang-orang yang berbeda negara meningkat, pengambil keputusan ekonomi mengembangkan orientasi yang lebih luas ke beberapa negara dan tantangan geografi semakin mengecil. 

Linda Low (Ibid) juga mengutip pendapatnya Mittleman, Globalisasi adalah ideologi yang mengandung arti perekonomian dunia tumbuh dengan mengambil keuntungan dari fragmentasi teritorial ekonomi internasional. 

Globalisasi dipercepat pula oleh internet. Silih Agung Wasesa (2005) dalam Strategi Public Relations mengungkapkan bahwa era Web 2.0, di mana teknologi komunikasi telah berkembang menjadi sebuah komunitas interaktif dan mampu mempengaruhi pengambilan keputusan secepat menekan tombol enter, telah mengubah cara kerja Public Relations. 

Silih juga mengutip pendapatnya Deidre Breakenridge dalam PR 2.0, New Media, New Tools, New Audiences, di era 2.0 di mana komunitas begitu interaktif, Public Relations tidak lagi sekadar bertemu dengan wartawan tradisional yang menulis untuk media mereka. Public Relations juga bertemu dengan para influencer baru dengan gaya baru, dan tatanan di media-media yang baru. 

Di era globalisasi dan teknologi informasi yang kian maju, arus informasi semakin cepat dan liar. Sentimen negatif bisa dengan begitu cepat menjadi viral yang tentunya akan mengganggu reputasi yang telah bersusah payah dibangun. Sebagai sistem peringatan dini, seorang praktisi Public Relations harus selalu waspada dan selalu awas terhadap segala isu yang berpotensi mengganggu organisasi. Isu-isu negatif harus diantisipasi sedini mungkin sebelum bergerak menjadi krisis komunikasi. 
 
Andre Ikhsano dalam kolomnya mengatakan bahwa keberhasilan dalam mengelola informasi dan komunikasi yang liar tersebut menjadi kunci kemenangan mutlak pada era sekarang. Kemenangan pada medan perang informasi dan komunikasi terbukti menjadi pemenang utama pada perang-perang kecil lainnya, seperti perang harga, perang tarif, perang produk dan perang lainnya. 

Jika kemenangan informasi dan komunikasi sudah diraih, maka dengan sendirinya, khalayak akan mendukung organisasi secara sukarela dan loyal. Di titik inilah yang menjadi impinan seorang Public Relations, yakni kemenangan informasi dan komunikasi di benak publiknya berupa citra dan reputasi. 

Tantangan lainnya di era ini adalah bagaimana Public Relations membentuk realitas sosial melalui media massa yang semakin mengindustri. Media massa tidak hanya berperan sebagai medium, tetapi juga pelaku yang mengkonstruksi realitas melalui agenda setting. Severin dan Tankard (2005) dalam Teori Komunikasi: Sejarah, Metode dan Terapan di Dalam Media Massa mengungkapkan fungsi penentuan agenda (agenda-setting function) media mengacu pada kemampuan media, dengan liputan berita yang diulang-ulang, untuk mengangkat pentingnya sebuah isu dalam benak publik. 

Praktisi Public Relations tidak boleh hanyut dalam banjirnya arus informasi. Justru sebaliknya, Public Relations berfungsi untuk mendukung manajemen dalam menanggapi opini publik yang terbentuk oleh media massa. 

Globalisasi juga mengakibatkan persaingan antar perusahaan atau organisasi semakin kompetitif. Perusahan antar negara akan saling bersaing memperebutkan pasar. Kompetisi yang ketat ini menuntut Public Relations membangun reputasi yang kuat untuk mendukung manajemen perusahaan. Rosady Ruslan (2006) dalam Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi mengatakan bahwa citra positif adalah tujuan utama, dan sekaligus merupakan reputasi dan prestasi yang hendak dicapai. Pengertian citra itu sendiri abstrak dan tidak dapat diukur secara matematis, tetapi wujudnya bisa dirasakan dari hasil penilaian baik atau buruk. 

Bila perusahaan memiliki reputasi yang baik, tentu akan mendorong konsumen untuk percaya dan membeli produk/jasa yang dihasilkan dari perusahaan tersebut. Sebaliknya, bila perusahaan tersebut tidak memiliki reputasi yang baik, maka akan ditinggalkan oleh konsumen. 

Dalam globalisasi pula, terdapat sejumlah  permasalahan yang ditimbulkan karena perbedaan hukum dan budaya antar negara. Dalam situasi ini, peran praktisi PR sangat diperlukan untuk mengikis jarak persepsi dalam konteks global. Peran ini menuntut Public Relations yang jeli, cakap, serta cepat beradaptasi dengan budaya baru. 

Setidaknya, ada empat fungsi strategis Public Relations dalam era globalisasi, yaitu untuk mengantisipasi isu sedini mungkin di tengah banjir arus informasi, membentuk realitas di tengah media yang makin mengindustri, menguatkan reputasi di tengah persaingan global yang semakin kompetitif dan mengecilkan jarak persepsi dalam konteks komunikasi global lintas budaya.

Nah, bagaimana menurut kamu tentang peran Public Relations di era globalisasi seperti sekarang ini? Share di kolom komentar yaa! 

Sumber: 

Ikhsano, A. (2015, Maret). Globalisasi dan Kearifan Lokal PR. Majalah PR Indonesia, 28-29.
Low, L,”Globalization of the Asian Economics: Shaken, Stirred or Blended?” dalam Towards an ASEAN Strategy of Globalization. Jakarta: Centre for Strategic and International Studies, 2001, hlm 61
Nif (2015, Juli). ASEAN dan Australia Jalin Kerjasama PR. Majalah PR Indonesia, 23.
Ruslan, R. 2006. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Severin, W. & Tankard, J. 2005. Teori Komunikasi, Sejarah, Metode dan Terapan di Dalam Media Massa. Jakarta: Kencana.
Wasesa, S. A. S & Macnamara, J. 2005. Strategi Public Relations. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Apakah PR Harus Cakep?