Toko Roti Tegal Saksi Bisu Kisah Cinta Soe Hok Gie


Toko Roti Tegal, Matraman, Jakarta Timur

Selasa, 21 Maret 2017, aku mengambil cuti untuk sekadar melemaskan otot dan mengambil nafas dalam-dalam. Setelah makan siang, aku bergegas ke Toko Buku Gramedia di Matraman, berharap ada buku bagus yang sedang diskon. Usai membeli beberapa buku, aku singgah sebentar di Toko Roti Tegal, yang hanya berjarak beberapa ruko, yang berderetan dengan Gramedia.
 
Suasana klasik langsung terasa, saat kita membuka pintu toko roti yang telah berdiri sejak 1948 ini. Aku pun lalu memilih beberapa potong kue dan segelas teh manis, lalu duduk manis di pojokan. Toko Roti Tegal menyimpan banyak cerita, salah satunya adalah cerita tentang Soe Hok Gie yang menyatakan cintanya kepada Nurmala Kartini Panjaitan di suatu sore yang gerimis, 11 Desember 1969. 

Dalam Gie dan Surat-Surat yang Tersembunyi (2016), Kartini menuturkan, ungkapan perasaan Soe Hok Gie sore itu sangat menyentuh perasaannya. 

"Meski hujan turun rintik-rintik, badan dan rambut saya setengah basah, perasaan saya senang dan hangat sekali" tutur Kartini setelah "ditembak" Soe Hok Gie. 

"Ia bilang betapa dia menyayangi saya" kata Kartini, yang belakangan menjadi istri Sjahrir. 

Kencan tersebut sekaligus pamitan, karena esoknya Soe Hok Gie akan mendaki gunung Semeru bersama Mapala UI, yang sekaligus menjadi akhir cerita hidup Soe Hok Gie. Kartini mengatakan sama sekali tidak punya firasat bahwa saat itu adalah momen terakhir mereka jalan bersama. Sepekan kemudian Kartini mendapat kabar bahwa kawan dekatnya tersebut meninggal di Puncak Mahameru.

Penampakan interior Toko Roti Tegal

Hubungan Kartini dengan Hok Gie sangat dekat. Gie pada 20 Juni 1969 menulis tentang Kartini dalam catatan hariannya. Daniel Dhakidae - penyusun buku ini - menyamarkan Kartini sebagai Sunarti

"Hidup bukanlah sekadar kerja rutin, bikin anak dan gossip. Saya merasa resah sekali. Semua ini saya katakan pada Sunarti. Saya selalu senang bicara dengan Sunarti. Ia lucu dan persoalan emosionalnya juga menarik. Rasanya saya relax kalau ngobrol dan tertawa-tawa dengan dia. Dia juga bilang gue juga tenang kalau ngobrol-ngobrol sama lu. Saya dengan Kartini memerlukan persahabatan yang mesra dan jujur untuk membicarakan kesulitan bersama." tulis Gie

Gie bahkan menyebut Kartini sebagai "pacar kecil-kecilan".  

"Gie, lu jadi pacar gue sementara aja ya, kata Kartini sambil main-main. Ayuh deh, kecil-kecilan jawab saya." Tambah Gie dalam catatan hariannya.

"Kami pulang bergadengan tangan, tangan saya kadang-kadang di bahu dia. "Kita seperti orang pacaran deh, katanya waktu kami lewat kuburan Rawamangun,"  tulis Gie. 

Aw aw aw, kebayang betapa syahdunya sore gerimis itu!  

Aku dan Gie punya hubungan yg sentimentil. Pertama kali berjumpa, sewaktu aku masih SMP, mungkin kelas 2 atau kelas 3, pastinya aku tidak ingat. Gie bilang kalau guru itu bukan dewa dan selalu benar, murid bukan kerbau. Guru yg tidak tahan kritik, boleh masuk tong sampah. 

Gie mengatakan itu setelah berdebat dengan gurunya, Pak Effendi. Pada 8 Febaruari 1958, Gie menuliskan perdebatan tersebut dalam catatan hariannya.

"Aku tak mau minta maaf. Memang demikian kalau dia bukan guru pandai. Tentang karangan saja dia lupa. Aku rasa dalam hal sastra aku lebih pandai. Guru model gituan. Yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau." tulis Gie.

Kata-kata Gie begitu membekas dalam benakku. Kata-kata Gie itu bagaikan sepasang tangan yang menampar aku agar bangun, dan berani memberontak untuk mengatakan apa yang benar sebagai yang benar, dan yang salah sebagai yang salah. Sejak saat itu, aku tidak lagi takut untuk berdebat dengan guru yang kebanyakan tidak pernah memperbarui pengetahuannya. 

Gie hadir di saat yang tepat, di saat aku sedang mencari role model seorang anak laki-laki Tionghoa. Gie adalah contoh bahwa anak laki-laki Tionghoa punya cara lain untuk hidup selain meneruskan usaha toko orang tua. 

Mama kami juga mirip. Mama Gie dan mamaku sama-sama enggak mengerti apa yang sedang kami perjuangkan. 

Pernah suatu kali, mamaku nelpon dan bilang bahwa yang aku kerjakan di Komnas Perempuan saat ini sia-sia, sudah tidak ada duitnya, malah menambah musuh. Kata-kata itu persis yang dikatakan oleh mamanya Gie saat Gie enggak pulang-pulang ke rumah karena revolusi kian dekat.

Kembali lagi ke Toko Roti Tegal, kalau kamu pernah makan atau kencan di sana, share di kolom komentar yaa! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial