Liburan Seru Imlekan di Lasem

Salah satu tembok di kawasan pecinan Lasem

Halooo semua! Mohon maaf nih, lama enggak nulis, maklum baru pulang liburan Imlek dari Lasem, Jawa Tengah. Nah, di postingan kali ini, aku akan menceritakan pengalamanku, liburan seru ke Lasem "Tiongkok Kecil". 

Pertama-tama, kita kenalan dulu sama Lasem. Lasem secara administrasi merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pusat kota Lasem ada di sepanjang jalan pantura yang menghubungkan sekitar dua puluh desa. Jumlah penduduk di Lasem, kurang lebih empat puluh lima ribu orang (Sensus 2012).  

Untuk ke Lasem dari Jakarta, ada banyak pilihan moda transportasi, bisa naik bis langsung ke Lasem, atau naik kereta api/pesawat ke Semarang, lalu nyambung bis ke Lasem. Kalau aku sih lebih baik naik bis, biar enggak repot ganti kendaraan. Selain itu, juga agar bisa menikmati romantisme jalan raya pantura, yang dulunya bernama jalan raya pos. Perjalanan dengan bis dari Jakarta ke Lasem sekitar 12-14 jam. Aku rekomendasikan untuk naik bis Bejeu (Bongkatan Jati Utama). Bis asal Jepara ini sangat nyaman, ruang kaki lebar, kursi empuk, ada wifi dan colokan biar enggak bosan di jalan. Untuk transportasi selama di Lasem, ada angkot yang bolak-balik di jalan raya pantura, ada juga ojek motor dan becak. Lasem sendiri tidak begitu luas. Buat yang hobby jalan kaki kaya aku, bahkan bisa mengelilingi Lasem, cukup dengan modal sepatu yang nyaman. 

Untuk akomodasi selama di Lasem, tidak banyak pilihan. Aku menginap di Hotel Surya, satu-satunya hotel yang ada di Lasem. Harganya murah, berkisar dari delapan puluh ribu sampai dua ratus ribu rupiah permalamnya. Letaknya tepat di pinggir jalan pantura, dekat kantor Pos Lasem. Akomodasi lain berupa guess house dan kos-kosan.

Kenapa harus ke Lasem?

Lasem hari ini boleh saja tidak begitu tersohor, bila dibandingkan kota-kota lain di sepanjang jalur pantura. Namun, Lasem pada abad pertengahan merupakan kota bandar yang penting bagi kerajaan Majapahit. Lasem juga dijuluki kota Tiongkok Kecil karena menyimpan begitu banyak warisan budaya Tionghoa dalam bentuk arsitektur, batik, dan makanan khas. Konon, Lasem merupakan tempat pertama yang disinggahi oleh rombongan laksamana Cheng Ho (Zeng He) sebelum bertolak ke Semarang, dan kota-kota lain di pantai utara Jawa. 

Hal menarik lainnya, adalah fakta bahwa Lasem relatif aman saat Tragedi Mei 1998 terjadi di Semarang, Solo dan kota-kota lainnya di Jawa Tengah. Menurut Munawir Aziz dalam bukunya Lasem Kota Tiongkok Kecil: Interaksi Tionghoa, Arab dan Jawa dalam silang budaya pesisir (2014), persaudaran antara komunitas Tionghoa, komunitas Arab Santri dan komunitas Jawa telah terjalin erat sejak berabad-abad silam, dan terus terpelihara sampai saat ini. 

Setidaknya dua hal itu, yang membuat aku penasaran dengan Lasem, dan ingin melihat langsung bagaimana interaksi antara Tionghoa, Arab Santri dan Jawa yang membentuk budaya pesisir. Buatku, ini semacam perjalanan spiritual di tengah sentimen rasial dan sentimen agama di pilkada Jakarta.

Ada beberapa tempat yang mesti banget didatangin kalau ke Lasem. Mari dicatat!

Klenteng Gie Yong Bio

Klenteng Gie Yong Bio, Lasem
Klenteng Gie Yong Bio, merupakan salah satu alasan mengapa kita mesti datang ke Lasem. Klenteng ini unik, karena di salah satu altarnya ada patung Raden Panji Margono yang merupakan seorang priyayi Jawa. Menurut berbagai literatur, Klenteng ini dibangun untuk menghormati tiga pahlawan Lasem, yaitu Oey Ing Kiat, Kiai Badlawi dan Raden Panji Margono.

Raden Panji Margono, sejatinya merupakan penerus Adipati Lasem, menggantikan Ayahandanya. Namun, Raden Panji Margono menolak untuk menjadi Adipati. Beliau pun meminta Oey Ing Kiat, yang merupakan syahbandar Lasem pada waktu itu sekaligus merupakan sahabatnya, untuk menjadi Adipati Lasem. Oei Ing Kiat lalu memimpin Lasem pada periode 1727-1745, dengan gelar Tumenggung Widyaningrat. Pada masa ini, terjadi geger pecinan di Batavia yang meluas hingga ke seluruh Jawa. Mereka berdua, dibantu oleh Tan Kee Wie, seorang ahli kungfu dari Lasem, dan Kiai Badlawi (Ulama) mengobarkan perang melawan VOC. Perang ini dikenal dengan perang kuning, karena banyak orang Tionghoa (kulit kuning) yang ikut berperang. 

Altar Raden Panji Margono di Klenteng Gie Yong Bio
Penghormatan kepada Raden Panji Margono sebagai dewa dan leluhur oleh komunitas Tionghoa di Lasem sangat unik. Klenteng Gie Yong Bio merupakan bukti persahabatan antara Tionghoa, Arab dan Jawa sejak dahulu kala. 

Klenteng Cu An Kiong


Klenteng Cu An Kiong, Lasem
Klenteng Cu An Kiong, secara harfiah diterjemahkan sebagai istana ketentraman welas asih merupakan Klenteng tertua yang ada di Lasem, dan mungkin juga tertua yang ada di Nusantara. Konon Klenteng ini dibangun pada abad ke-15, saat rombongan laksaman Cheng Ho datang ke pulau Jawa. Namun, prasasti di klenteng ini menyebutkan bahwa klenteng ini dibangun tahun 1838, atas prakarsa dari Kapitan Lin Chang Lin. 

Makco Thian Siang Sing Bo atau Dewa Laut merupakan tuan rumah kelenteng ini. Tidak heran, mengingat orang Tionghoa yang membangun Klenteng ini adalah para pelaut. Klenteng ini juga dibangun persis di tepi sungai Lasem yang bermuara sampai ke Laut Utara. Inget film Ca Bau Kan? Keleteng ini pernah menjadi lokasi syuting filmnya. 

Lawang Ombo

Lawang Ombo Heritage, Lasem
Tak jauh dari Klenteng Cu An Kiong, berdiri kokoh Lawang Ombo atau Rumah Candu, yang dulunya merupakan tempat penyelundupan candu (opium). Lasem pernah menjadi pusat perdagangan opium di Jawa, dan dikenal sebagai "corong opium Jawa". Pasokan opium mendarat di Bandar Lasem, kemudian dikirim ke berbagai kota di Jawa, semisal Surakarta, dan Yogyakarta. Usaha penyelundupan candu berlangsung selama puluhan tahun, melibatkan pengusaha Tionghoa dan opsir-opsir Belanda, serta pejabat Jawa. 

Lawang Ombo merupakan saksi dari narasi Lasem sebagai corong opium Jawa. Di rumah ini, masih terdapat sumur tua yang menghubungkan terowongan rahasia dengan sungai Lasem yang tembus sampai ke laut Jawa. Sayangnya kalau mau ke sini, mesti janjian dulu dengan pengurus rumah ini.

Klenteng Po An Bio

Klenteng Po An Bio, Lasem
Klenteng ini letaknya di tengah kampung dan menghadap ke Selatan, tepatnya menghadap ke Sungai Kemendung. Klenteng ini berada di tengah kawasan padat orang Jawa di desa Karangturi. Perayaan Imlek, Cap Go Meh dan ibadah harian orang Tionghoa berpusat di Klenteng ini. 

Perayaan menyambut Imlek 2568 dipusatkan di Gedung Balai Kedamaian, yang berada persis di samping Klenteng Po An Bio. Aku ikut hadir dalam perayaan tersebut. Hadir pula Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah yang menyalakan lilin, penanda dimulai perayaan menyambut tahun baru Imlek 2568. Dalam perayaan ini, digelar pula sendatari yang menggambarkan persahabatan Oeng Ing Kiat, Raden Panji Margono, Kiai Badlawi, dan Tan Kee Wie dalam perang kuning.

Vihara Ratanavana Arama

patung Buddha tidur di Vihara Ratanavana Arama, Lasem

Vihara Ratnavana Arama terletak di desa Sendang Coyo. Di Vihara ini, kita dapat melihat perjalanan hidup sang Buddha Gautama, mulai dari lahir, semedi, sampai mendapat pencerahan. Selain itu ada juga miniatur candi Borobudur, yang bernama Candi Sudhammo Mahathera karena di dalam bangunan candi ini terdapat makam Bhante Sudhammo, sang pendiri vihara. 

Candi Sudhammo Mahathera, Lasem

Untuk sampai ke vihara ini, kita perlu menumpang ojek karena tempatnya yang berada di atas bukit dan berjarak sekitar 4 km dari pusat kota. Harga ojek sekitar 50 ribu pulang pergi. Kalau naik ojek, jangan lupa untuk minta sekalian ditungguin, karena dari vihara tersebut susah cari moda transportasi. Luas vihara ini sekitar 6 hektar, naik turun anak tangga yang licin, pastikan kita dalam keadaan sudah makan saat akan ke vihara ini. 

Poskamling Pondok Pesantren Kauman 

Poskamling Ponpes Kauman, Lasem
Bukan, bangunan ini bukan Klenteng. Bangunan ini adalah poskamling di desa Karangturi. Persis di samping poskamling ini, berdiri pondok pesantren Kauman, pimpinan Gus Zaim.

Dari literatur yang ada, diketahui bahwa poskamling ini dulunya tidak terawat, serta digunakan untuk tempat mabuk-mabukan. Bahkan, orang Tionghoa tidak berani melalui poskamling ini karena sering dipalak. Ketika ponpes Kauman berdiri sekitar tahun 2003, bangunan poskamling ini direnovasi atas usulan dari Gus Zaim. Pak Semar, ketua RT daerah ini lalu membangun poskamling mirip arsitektur Klenteng. Dana pembangunannya hasil patungan dari Gus Zaim dan donatur Tionghoa. 

Sekarang, poskamling ini jadi ruang interaksi antara santri, orang Jawa dan orang Tionghoa. Santri-santri bergiliran menjaga, sesekali orang Tionghoa berkunjung untuk sekadar ngobrol dan nonton tv. Interaksi ini yang menguatkan kita bahwa Indonesia punya masa depan selama kita bersatu! 

Lasem Tiongkok Kecil Heritage

Patung Kwan Kong, Lasem Tiongkok Kecil Heritage, Lasem
Lasem Tiongkok Kecil Heritage merupakan salah satu tempat yang mesti banget didatangi. Tempat ini semacam museum, yang dilengkapi dengan guess house. Lasem Tiongkok Kecil Heritage disebut juga rumah merah, karena dinding bangunan ini dicat warna merah menyala. Di sini, pengunjung dapat berbelanja batik, dan gantungan kunci sebagai buah tangan. 


Pantai Caruban

Pantai Caruban, Lasem
Nama asli pantai ini adalah pantai Gedong Berseri. Namun, warga lebih sering menyebutnya pantai Caruban (carub=tempat pertemuan). Konon, di pantai inilah laksamana Ceng Ho yang membawa 390 kapal berlabuh di pantai utara Jawa. Dari sana, kemudian kota ini disebut Lao Sam (sekarang Lasem).

Abad XIII - XIV, kota-kota di pesisir utara Jawa telah berkembang menjadi kota-kota kosmopolitan, sangat jauh bila dibandingkan dengan kota-kota di tengah pulau Jawa yang masih berupa rawa-rawa dan hutan belantara!

Dari jalan raya pantura, pantai Caruban berjarak sekitar 1,5 km. Sepanjang jalan menuju pantai Caruban, kita akan disuguhi pemandangan tambak garam yang eksotis. 

Pantai Binangun

Pantai Binangun, Lasem
Pantai ini persis di sebelahnya jalan raya pantura. Pantai Binangun konon berasal dari nama Bi Nang Un, yang merupakan nama dari anak buah Ceng Ho. Bi Nang Un dan istrinya, Na Li Ni memilih menetap di Lasem, saat rombongan Ceng Ho melanjutkan ekspedisinya. Bi Nang Un dan Na Li Ni membawa kebudayaan Tionghoa yang kemudian berakulturasi dengan budaya Jawa. Dari sini, kita mengenal Batik Lasem, Lontong Tuyuhan dan lain-lain. 

Makam Putri Cempo


Makam Putri Cempo, Lasem
Tak jauh dari pantai Binangun, ada makam putri Cempo (Campa) di Pasujudan Sunan Bonang. Aku menyempatkan diri untuk berziarah. Menarik untuk mengetahui siapa putri Cempo ini karena makamnya ramai dikunjungi oleh orang, baik komunitas Islam maupun Tionghoa.

Sumanto Al Qurtuby dalam bukunya Arus Cina-Islam-Jawa (2003) mengatakan bahwa Putri Campa adalah permaisuri Brawijaya, raja terakhir Majapahit. Oleh Sunan Bonang, makam maktuanya tersebut dipindahkan dari Trowulan ke Karang Kemuning (Sekarang desa Bonang). Dari Putri Campa ini lahirlah Raden Patah. Raden Patah, pendiri kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Nusantara, juga adalah seorang Tionghoa. Nama Tionghoanya menurut Babad Tanah Djawi adalah Jim Bun. Sumanto Al Qurtuby juga mengutip ceramah Pangeran Hadiwidjaja yang mengatakan bahwa Sunan Bonang adalah seorang Tionghoa Muslim bernama Bo Bing Nang. 

Pasujudan Sunan Bonang, Lasem
Catatan dikit, menurut juru kuncinya, banyak yang dateng ke makam Putri Cempo untuk berdoa, minta jodoh yang cantik, dan setia seperti Putri Cempo. Kalau aku mah, yang seperti kamu ajah! 

Batik Tulis Lasem

Workshop Batik Tulis Lasem Pusaka Beruang, Lasem

Kalau ada hal yang paling diingat dari Lasem, tentulah Batik Lasem yang tersohor itu. Batik Lasem tersohor karena punya motif yang unik, gabungan dari motif berbagai suku bangsa yang mewarnai kehidupan pesisir. Di Lasem, ada banyak workshop batik tulis. Aku mengunjungi workshop batik tulis Pusaka Beruang, di jalan Jatirogo. Harga batik tulis bervariasi, tergantung jenis kain, dan kerumitan motif. Harga mulai dari dua ratus ribuan sampai jutaan.

Banyak jalan-jalan, tentunya mesti banyak makan-makan. Ini ada beberapa makanan khas Lasem yang mesti dicobain! 

Lotong Tuyuhan

Lotong Tuyuhan, Lasem
Jika mampir ke Lasem, tidak lengkap rasanya bila tidak mencicipi lontong Tuyuhan. Berbeda dengan lontong sayur biasanya, lontong Tuyuhan disajikan dengan potongan ayam kampung yang bisa dipilih sendiri. Rasa kuahnya gurih, sedikit pedas dan pastinya menambah semangat untuk jalan-jalan lagi! Disebut lontong Tuyuhan karena lontong ini aslinya berasal dari desa Tuyuhan. Lontong Tuyuhan biasanya di makan pada siang hari. 

Kelo Mrico

Kelo Mrico, Warung Bu Tri, Lasem
Kelo Mrico rasa kuahnya pedas, yg berasal dari cabai dan merica. Rasa pedas yang khas dicampur daging ikan laut yang segar menjadikan Kelo Mrico menjadi santapan yg wajib dicoba kalau mampir ke Lasem. Setelah nyobain, dijamin keringat bakalan bercucuran dan bakalan tambah semangat buat jalan-jalan lagi! Ada beberapa warung makan yang menyediakan Kelo Mrico, salah satunya adalah warung makan Bu Tri, di jalan raya panturan, sebelum swalayan pantes. 

Sirup Kawista

Sirup Kawista, Cap Dewa Burung
Sirup Kawista diolah dari sari buah Kawista. Rasanya khas, susah untuk dicari padanannya. Sirup ini disebut juga Java Cola aliasnya colanya orang Jawa. Kalau di Sumatera Utara ada minuman sarsaparila cap badak, maka di Lasem ada sirup Kawista cap Dewa Burung! Sirup Kawista ini bisa dibeli di Lasem Tiongkok Kecil Heritage seharga tujuh ribu saja.



Pelajaran Tepa Selira dari Lasem

Dari Lasem, kita dapat belajar tentang tepa selira dan tenggang rasa antar masyarakat yang berbeda suku. Bahwasanya persaudaraan antara Tionghoa, Arab dan Jawa telah terjalin sejak berabad-abad lalu, dan perlu kita rawat selama-lamanya. Perbedaan justru membuat kita saling melengkapi dan kuat.

Sesungguhnya jika kita hari ini masih meributkan entitas seseorang, sejatinya kita sedang berjalan mundur berabad-abad ke belakang! 

Kamu pernah ke Lasem? Atau punya pengalaman tentang tenggang rasa antar suku di kotamu, share di kolom komentar yaa!

Sumber:

Munawir Aziz (2014). Lasem Kota Tiongkok Kecil: Interaksi Tionghoa, Arab dan Jawa dalam Silang Budaya Pesisiran
Sumanto Al Qurtuby (2003). Arus Cina-Islam-Jawa: Bongkar Sejarah atas Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Agama Islam di Nusantara Abad XV & XVI 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial