Buku Tionghoa dalam Keindonesiaan Diluncurkan!

Buku baru!
Kamis lalu, 23 Februari 2017, aku menghadiri seminar dan peluncuran buku "Tionghoa dalam Keindonesiaan: Peran dan Kontribusi bagi Pembangunan Bangsa" di kampus Unika Atmajaya, Semanggi. 

Buku tersebut digagas oleh Eddie Lembong, pendiri Yayasan Nabil, yang menginginkan sebuah everlasting legacy sebelum beliau meninggalkan dunia ini. Buku ini dipersiapkan Eddie Lembong sebagai kado ulang tahun ke-70 Republik Indonesia. 

"Bagi saya pribadi, tidak lama lagi matahari akan terbenam, maka izinkan saya persembahkan buku Tionghoa dalam Keindonesiaan: Peran dan Kontribusi bagi Pembangunan Bangsa ini sebagai kado bagi Ibu Pertiwi, yang saya cintai dengan sepenuh hati. Dengan rendah hati, saya harapkan bangsa Indonesia berkenan menerima persembahan ini sebagai suatu everlasting legacy, warisan abadi dari kami di Yayasan Nabil." ungkapnya.

Buku Tionghoa dalam Keindonesiaan: Peran dan Kontribusi bagi Pembangunan Bangsa terdiri dari 129 naskah yang dibagi ke dalam 3 jilid. Sebanyak 73 penulis, yang 15 diantaranya berasal dari mancanegara menjadi kontributor. Leo Suryadinata dan Didi Kwartanada menjadi editor yang mengkurasi semua naskah menjadi kesatuan yang enak dibaca.

Buku ini dijual seharga 1,5 juta. Harga yang cukup mahal tapi sepadan dengan isinya. Aku beruntung karena mendapat harga spesial, ada diskon 500 ribu selama seminar berlangsung. Aku membeli buku tersebut sebagai kado ulang tahun ke-25 diri ini. Kadang-kadang menjadi jomblo itu menyenangkan, karena enggak terbebani dengan keharusan beli susu dan pampers anak, sehingga duit yang ada bisa dipakai buat menyenangkan diri sendiri. YESSS!!

Lupakan kalimat di atas, dan mari kembali ke cerita peluncuran buku. Agustinus Prasetyantoko, Rektor Unika Atmajaya dalam sambutannya sebagai tuan rumah mengatakan bahwa menjadi Tionghoa dan menjadi Indonesia itu linier. Memisahkan Tionghoa dari Indonesia adalah ahistoris. 

Nah, apa yang disampaikan oleh Agustinus adalah pesan kunci. Kalau mau usaha sedikit buat baca buku sejarah, maka akan kelihatan bahwa sejak abad ke-3 dan ke-4, sudah ada interaksi antara orang Tionghoa dari daratan Tiongkok dengan penduduk di Nusantara. Hal ini dapat dilihat dari catatan-catatan Fa Xian (337-422), seorang pengembara dari Dinasti Dong Jin yang sudah sampai di Jawa bagian Barat. Bahkan kalau mau lebih jauh lagi ditelaah, penduduk awal-awal di Nusantara, adalah para imigran dari Yunan, Tiongkok Selatan. 

Tapi itu buat orang-orang yang mau membaca. Masalahnya hari ini minat baca penduduk Indonesia menempati nomor 2 terbawah setelah Bostwana. Hal ini disampaikan oleh Yudi Latif, yang didaulat menyampaikan keynote speech. 

"Minat baca kita kedua terbawah, penggunaan medsos keempat tertinggi. Ini yang membuat kita setiap hari merayakan kedangkalan. Kedangkalan dirayakan, dipuja, ujung-ujungnya menghasilkan ujaran kebencian buat siapa pun yang berbeda" tegas Yudi Latif. 

Yudi Latif juga mengutip seorang filsuf Islam dari Andalusia, yang mengatakan bahwa ketidaktahuan adalah pangkal kebencian. Ketidaktahuan ini yang coba dikikis dengan terbitnya buku ini. Eddie Lembong di pengantar buku ini mengatakan bahwa ada tiga tujuan dari penerbitan buku ini. Salah satunya adalah untuk lebih saling mengenal di antara sesama komponen bangsa. Maksudnya agar golongan non-Tionghoa semakin mengenal saudara mereka etnis Tionghoa, dan apa-apa saja yang sudah mereka berikan bagi bangsa ini. Dengan demikian, maka semuanya bisa tinggal di dalam rumah yang utuh, tidak terbelah, rumah kebangsaan Indonesia. 

Didi Kwartanada mengatakan bahwa narasi tentang orang Tionghoa di Indonesia banyak yang hilang. Sebagai contoh, Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang berperan penting dalam meletakkan dasar bagi negara ini. Ada 60 anggota BPUPKI, 4 diantaranya adalah orang Tionghoa, yaitu Liem Koen Hian, Oey Tiang Tjoei, Oei Tjong Hauw dan Tan Eng Hoa. Namun, secara mengejutkan, di dalam buku-buku acuan utama penulisan sejarah Indonesia, tidak ada satu pun nama tokoh Tionghoa disebutkan.

Lenyapnya fakta-fakta sejarah tersebut, bagi Eddie Lembong adalah cacat yang sangat serius bagi nation building, seolah-olah etnis Tionghoa bukan bagian dari bangsa Indonesia. Padahal, orang Tionghoa di Indonesia itu - meminjam istilah Yudi Latif - "omnipresent", hadir di setiap pori-pori kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Orang Tionghoa yang omnipresent ditulis dengan apik dalam buku ini, yang secara garis besar dibagi ke dalam 7 bagian, yakni:

-  Esai Pendahuluan (9 artikel)
-  Agama, Sosial, dan Pendidikan (15 artikel)
-  Bahasa, Sastra, dan Media Cetak (21 artikel)
-  Budaya, Seni, dan Olahraga (40 artikel)
-  Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (19 artikel)
-  Ekonomi, Industri dan Perdagangan (8 artikel)
-  Politik, Pemerintahan, dan Kemiliteran (17 artikel)

Narasi tentang orang Tionghoa di Indonesia, bukannya sama sekali tidak ada dalam buku-buku sejarah. Ratna Hapsari, ketua asosiasi guru sejarah Indonesia, mengatakan bahwa narasi tentang orang Tionghoa di Indonesia ada walaupun tidak banyak, seperti interaksi Tiongkok dengan kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara, atau cerita tentang Laksamana Ceng Ho. Tidak lengkapnya narasi tersebut yang mengakibatkan terjadinya prasangka. 

Narasi-narasi yang tidak lengkap ini sangat berbahaya karena pasti akan menyesatkan. Misalnya, kita pasti sering dengar narasi bahwa orang Tionghoa itu kaya raya. Ya benar bahwa ada orang Tionghoa yang kaya raya, seperti keluarga Salim group dan Harry Tanoe, tapi itu bukan berarti semua orang Tionghoa itu kaya raya. Ada juga orang Tionghoa yang miskin, seperti di Singkawang dan Tangerang. Narasi lainnya yang sering muncul adalah bahwa orang Tionghoa itu eksklusif. Ya benar, ada orang Tionghoa yang eksklusif, tapi itu tidak serta merta semua orang Tionghoa pasti eksklusif. Ada juga yang inklusif seperti di Lasem, dan Manado. Bila ekslusif pun, sesungguhnya tidak lahir begitu saja, ada sejarah panjang di belakangnya, yang celakanya tak pernah dinarasikan. 

Thung Ju Lan, peneliti dari LIPI dalam sebuah diskusi akhir tahun lalu, menamakan fenomena ini sebagai memori kolektif yang selektif. Ingatan tentang orang Tionghoa hanya satu atau dua aspek saja yang diingat, seperti kaya-raya dan eksklusif. Padahal, yang kaya-raya dan eksklusif tidak hanya orang Tionghoa saja. 

Oleh karenanya, kehadiran buku  Tionghoa dalam Keindonesiaan: Peran dan Kontribusi bagi Pembangunan Bangsa ini menjadi sangat penting bagi proses nation building menuju Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara.

Terakhir, yang bisa aku sampaikan adalah selamat buat Yayasan Nabil atas peluncuran buku yang sangat luar biasa ini. Semoga buku ini dapat menjadi everlasting legacy, dan cahaya di tengah sentimen agama dan rasial yang semakin menguat. Oh ya, tidak lupa ditegaskan bahwa penerbitan buku ini tidak dimaksudkan untuk menepuk dada, atau self glorifying, bahwa seolah-olah orang Tionghoalah yang paling kontributif dan yang lain tidak. 

"Tidak peduli apakah kucing itu berwarna hitam atau putih, yang penting dia bisa menangkap tikus" Deng Xiao Ping

Kamu punya pengalaman tentang ketionghoaan dan keindonesiaan, share di kolom komentar yaa!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial