10 Dosa Praktisi Public Relations di Indonesia

Sumber: http://nolimitma.com/public-relations/

Kemarin malam, sebelum tidur, aku sempatkan untuk melihat-lihat news feed di facebook. Ada seorang teman yang membagikan tulisan dari Mas Bima Marzuki, yang berjudul PR yang Sempurna Itu Nggak Perlu !! Penasaran dengan judulnya, aku pun lantas membaca tuntas tulisan tersebut. 

Senyum-senyum sendiri, saat aku membaca tulisan dari Mas Bima Marzuki. Tulisannya ringan namun sangat menohok untuk semua praktisi Public Relations di mana pun ia bekerja, entah di corporate, government maupun agency. 

Membaca tulisan tersebut, aku lalu teringat dengan materi kuliah minggu lalu di kelas Principle of Corporate Communications, yang berjudul Media Handling: A to Z. Materi presentasi tersebut  ditulis oleh Pak Nico Wattimena, PhD yang dibawakan oleh Pak Deddy di kelas. Oh ya, buat yang belum tahu, aku sekarang sedang mengambil studi corporate communications di Post Graduate Program The London School of Public Relations - Jakarta. 

Kembali ke materi tersebut. Jadi, ada 10 dosa yang kerap dilakukan oleh praktisi Public Relations di Indonesia, yaitu:

1. Mengukur hubungan dengan uang
 Ini dosa pertama praktisi Public Relations di Indonesia, yang celakanya masih sering terjadi. Banyak praktisi Public Relations yang memberikan amplop kepada jurnalis dengan harapan beritanya di muat di media massa. Masalahnya adalah ketika hubungan dimulai dengan uang, biasanya hubungan tersebut hanya bersifat transaksional, yang tidak akan kuat. Padahal, Public Relations perlu hubungan yang erat dan bersifat jangka panjang dengan rekan jurnalis.

2. Menyembunyikan fakta dan data
Ini dosa yang tidak kalah penting. Sering kali, Public Relations tidak jujur dalam menyampaikan fakta dan data, terlebih saat organisasi sedang mengalami krisis. Bila memang ada yang tidak beres di dalam organisasi, katakan saja dengan jujur apa yang sedang terjadi, dan langkah-langkah penanganan. Tidak ada hubungan yang bertahan lama, bila dimulai dengan ketidakjujuran. 

3. Salah menentukan media
Dosa berikutnya adalah ketidakmampuan untuk menentukan media mana yang sesuai dengan target organisasi. Sering kali, praktisi Public Relations menganggap bahwa semua media massa itu sama saja. Padahal, masing-masing media massa memiliki karakteristik pembaca yang berbeda-beda. 

4. Tidak memahami cara kerja orang-orang media
 Dosa lainnya, adalah ketidakmampuan untuk memahami bagaimana jurnalis bekerja. Jurnalis cenderung bekerja seperti seniman, cuek, skeptis, dan anti protokoler

5. Kurang memahami persoalan yang menjadi tanggung jawabnya
Nah, dosa berikutnya yang fatal adalah kurang pemahaman tentang persoalan yang menjadi tanggung jawabnya. Sudah seharusnya dan sepatutnya, praktisi Public Relations mengetahui segala seluk-beluk kerja organisasi. Misalnya, Public Relations di bidang perminyakan dan gas, maka sudah seharusnya, ia paham betul tentang perminyakan dan gas. Dosa ini diakibatkan karena banyak praktisi Public Relations yang malas belajar hal baru tentang organisasinya tersebut. 

6. Tidak mau membuat atau menyampaikan siaran pers yang efektif
Dosa ini juga harus diakui masih banyak terjadi. Siaran pers yang dibuat masih sering tidak mengandung unsur news value dan prinsip 5W + 1H. Siaran pers sering kali malah membingungkan jurnalis.

7. Tidak mengikuti perkembangan berita di media massa
Dosa yang tidak kalah fatalnya adalah ketidakmampuan mengendus isu (meminjam bahasanya Mas Bima Marzuki). Public relations bukan pemadam kebakaran yang baru bekerja saat isu sudah menjadi krisis. Justru sebaliknya, Public Relations adalah early warning system yang bertugas untuk mengantisipasi isu negatif sedini mungkin

8. Tidak mampu menjalin hubungan jangka panjang dengan media
 Dosa berikutnya adalah ketidakmampuan untuk menjalin hubungan jangka panjang dengan media. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana praktisi Public Relations menghubungi jurnalis. Yang masih sering terjadi adalah praktisi Public Relations menghubungi jurnalis hanya ketika butuh pemberitaan. Sebaliknya saat sedang ada masalah, malah menghindar. Sentuhan personal minim. 

9. Salah memilih mitra di kalangan pers
Dosa lainnya adalah ketidaktahuan tentang struktur organisasi media massa. Ada saatnya, di mana praktisi Public Relations harus berhubungan dengan jurnalis, editor, atau pemimpin redaksi. 
10. Tidak mampu meyakinkan pimpinan tentang pentingnya Public Relations
Dosa terakhir yang paling-paling fatal adalah ketidakmampuan untuk meyakinkan pimpinan organisasi tentang pentingnya peran Public Relations, terutama dalam era globalisasi seperti sekarang ini, di mana arus informasi bergerak begitu liar, dan kompetisi semakin ketat. 

Nah, itu dia 10 dosa Praktisi Public Relations di Indonesia. Ada yang mau mengaku dosa, boleh loh dishare di kolom komentar di bawah ini.

Komentar

  1. Sebagai sesama praktisi PR (khususnya dari ahensi), gue mau tambahin bahwa bikin rilis dan undangan harus punya judul yang "seksi" di mata media, tapi seringnya cuma numpang di tas atau nangkring di email. Satu lagi: too much pencitraan will kill you.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul! "too much pencitraan will kill you"

      Hapus
  2. Great to see that someone still understand how to create an awesome blog.
    The blog is genuinely impressive in all aspects.
    Great, love it.
    raja poker

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial