Ribuan Orang Pawai HAM di Kota Kupang

Salah satu peserta Pawai HAM di Kupang
10 Desember 2015 kemarin, aku bersama ribuan orang lainnya tumpah ruah ke jalan-jalan utama kota Kupang, bergabung dalam aksi pawai HAM yang diselenggarakan oleh Rumah Perempuan Women's Crisis Centre, yang bekerja sama dengan 13 lembaga lainnya sekota Kupang. Aksi Pawai HAM diselenggarakan untuk memperingati hari HAM sedunia, dan sekaligus menjadi puncak acara kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, yang sudah dimulai sejak tanggal 25 November. Pawai HAM ini mengambil rute dari Halaman Polda NTT dan berakhir di sekretariat partai Nasdem NTT.

Bandara El Tari Kupang

Ini merupakan kali pertama aku ke Kupang. Aku tiba di kota ini tanggal 9 Desember, bertepatan dengan pelaksanaan pilkada serentak. Sedikit deg-degan juga, karena aku sama sekali tidak punya gambaran tentang kota yang dijuluki kota Kasih ini. Aku mendarat dengan mulus di bandara El-Tari dengan menumpang pesawat Garuda Indonesia. Perjalanan ditempuh sekitar 3 jam, dengan transit di Bali.

Sampai di Kupang, aku dan Ibu Magdalena Sitorus, Komisioner Komnas Perempuan, langsung dijemput oleh Mama Libby Sinlaeloe, direktur Rumah Perempuan WCC. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan pohon Flamboyan yang tengah berbunga. Pohon Flamboyan hanya berbunga satu tahun sekali, sekitar akhir November. Bunga-bunga Flamboyan ini juga yang menjadi penanda bahwa Natal akan segera tiba. Hamparan bunga berwarna oranye ini menjadi pemandangan kami. Sungguh cantik!

Tempat pertama yang kami datangi adalah sekretariat partai Nasdem NTT, yang merupakan tempat diskusi publik esok hari. Kami datang untuk melihat persiapan sekaligus ngobrol-ngobrol dengan teman-teman panitia. Tak berasa, jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Kami pun makan siang di Rumah Makan Bambu Kuning yang menyediakan daging se'i, daging asap khas Kupang. Dari obrolan dengan teman-teman panitia, ternyata pak Ahok pun makan di rumah makan ini saat berkunjung ke NTT. Enak sekali!

Santai sore, menikmati kolam renang dan laut luas
Setelah makan, aku dan Ibu Magda menuju hotel Sotis yang terletak di pinggir pantai. Hotel Sotis adalah hotel baru yang baru dibuka tanggal 6 Desember. Hotel ini cantik sekali. Dari Hotel, kita bisa langsung berjalan ke pantai berpasir putih dengan laut biru yang membentang luas sepanjang mata memandang. Bersantai di kursi malas, sambil menghadap ke laut luas menjadi pilihanku menghabiskan senja. Malam hari, aku keluar untuk mencari makan. Tidak jauh dari hotel, ada warteg yang diberi nama "Warung Jawa Tulen". Aku tidak menyangka ada warteg di Kupang. Warteg ini pun menjadi tempat berkumpul para perantau dari Jawa. Aku makan malam di sini karena penasaran bagaimana cita rasa kuliner Jawa saat bertemu dengan cita rasa lokal Kupang, dan dugaanku tidak salah, makanan di sini enak-enak walau sedikit pedas!

Menu di Warung Jawa Tulen
Esok paginya, setelah selesai sarapan dan rapih-rapih, kami kembali djemput oleh Mama Libby. Rencananya pagi ini, kami akan roadshow ke media untuk mengajak media di Kupang turut dalam kampanye ini. Pukul 10.30, kami tiba di kantor Victory News. Di sini sudah ada Mama Conny Tiluata dari Tafena Tabua dan Amos Lafu, ketua GMKI cabang Kupang dan Mama Sarah Lery dari PIAR NTT. Dari Mama Libby, aku mendapat informasi bahwa Victory News merupakan salah satu media yang getol menulis isu-isu HAM dan Gender. Tak lama menunggu, kami diterima oleh Damianus Ola, redaktur pelaksana di Victory News.

Diskusi di kantor Victory News
Mama Libby memulai diskusi pagi itu dengan memaparkan angka kekerasan seksual di NTT yang trendnya semakin meninggi, terutama kasus incest. NTT pun menempati provinsi nomer 3 paling tinggi di Indonesia terkait Angka Kematian Ibu saat melahirkan. Mama Libby juga bercerita tentang rangkaian kegiatan kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan di Kupang, mulai dari sosialisasi di sekolah-sekolah, donor darah, lomba mewarnai, talkshow di radio, dialog publik, sampai Pawai HAM yang nanti siang akan diselenggarakan. Yang menarik dari diskusi ini adalah komentar dari Damianus Ola yang mengatakan ia rindu perempuan menulis di kolom opini. Selama ini, perempuan sedikit sekali yang menulis. Bila ada perempuan yang menulis opini di Victory News, pasti langsung diterbitkan. Komentar ini menjadi menarik karena sejalan dengan nafas feminisme tentang menulis pengalaman ketubuhan perempuan. Perempuan harus menulis pengalaman ketubuhannya. Narasi-narasi ketubuhan perempuan akan hilang bila tidak dituliskan.

Selesai dari Victory News, aku dan Ibu Magda diantar kembali ke Hotel, sementara teman-teman panitia mengecek kembali persiapan Pawai HAM di Halaman Poda NTT. Aku dan Ibu Magda lalu memutuskan untuk santap siang di Restoran Nelayan yang terletak persis di samping hotel. Kami memesan ikan gergaheng dan tumis tauge untuk makan siang. Sekitar setengah jam, makanan kami pun datang. Kami terkejut dengan ukuran ikan gergaheng yang sangat besar untuk porsi berdua, padahal ikan yang ada di hadapan kami sekarang ini termasuk yang berukuran kecil menurut pramusajinya.

Ikan Gergaheng alias ikan kue dan tumis tauge
Selesai santap siang, dan istirahat sebentar, kami kembali dijemput untuk langsung berbaur dengan peserta pawai lainnya. Sekitar 1.500 orang ikut ambil bagian dalam aksi ini, mulai dari anak SMP, anak SMA, mahasiswa, kelompok Ibu-Ibu, gerakan masyarakat sipil dan masyarakat umum. Para peserta pawai pun tidak ketinggalan membawa atribut yang menentang kekerasan terhadap perempuan. Apik!

Pawai HAM di kota Kupang
Pawai berjalan tertib, peserta tampak antusias, tidak lelah terus menerus meneriakan yel-yel anti kekerasan, sampai akhirnya tiba di sekretariat partai Nasdem. Di sini, akan diadakan dialog publik tentang anti kekerasan seksual, dengan pembicara Mama Libby dan Ibu Magdalena. Diskusi berjalan asyik, dan interaktif. Dalam diskusi ini, anak-anak juga diajarkan tentang bagian-bagian tubuh mereka yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Ada satu pertanyaan yang menarik perhatianku. Pertanyaan ini dilontarkan oleh seorang guru yang mendampingi murid-muridnya dalam diskusi itu. Kira-kira pertanyaannya begini, 

Sebenarnya rumah perempuan itu apa? Saya dari lahir tidak pernah mendengar adanya rumah perempuan, saya malah mengira rumah perempuan ini berkonotasi negatif. Mohon agar dilakukan sosialisasi agar orang-orang tahu tentang rumah perempuan. 

Dialog publik tentang kekerasan seksual
Pertanyaan ini mengelitik aku terlebih karena aku anak komunikasi. Aku ingat sebuah obrolan dengan seorang teman yang juga anak komunikasi. Temanku ini sekarang bekerja di lembaga donor yang mengharuskan ia sering keluar kota dan melihat bagaimana komunitas dan lembaga swadaya masyarakat bekerja. Nah, menurut dia, komunitas-komunitas maupun lembaga-lembaga yang ada, sering kali hanya fokus pada bekerja, dan lupa untuk mengkomunikasikan hasil kerja-kerjanya, sehingga keberadaannya sering kali tidak diketahui oleh masyarakat di daerah itu. 

Setidaknya, kita harus sadari bahwa kita hidup di zaman di mana ungkapan "banyak bekerja, sedikit bicara" tidak relevan lagi. Kita hidup di zaman "banyak bekerja, banyak bicara". 

Kembali ke acara, selesai diskusi, kami kembali ke hotel. Sebelum tidur, kami santap malam di restoran Nelayan, restoran yang tadi siang kami singgahi. Restoran ini menyajikan berbagai hidangan laut yang segar-segar. Saat hendak membayar ke kasir, baru aku ketahui bahwa restoran seafood ini dimiliki oleh keluarga Tionghoa. Ada juga rupanya orang Tionghoa di Kupang. 

Selesai makan malam, aku langsung tidur. Besok kami akan kembali ke Jakarta. Sebelum ke bandara, kami sempatkan untuk mampir ke pasar inpres kota Kupang. Di sana, kami mampir ke sebuah toko kecil untuk membeli oleh-oleh. Toko ini rekomendasi seorang teman yang asli dari Kupang. Aku membeli beberapa botol madu, jagung bose dan abon ikan tuna. 

toko cinta kasih
Kalau kamu sedang berpergian ke luar kota, sempatkan untuk selalu membeli oleh-oleh, karena uang yang kamu bayarkan akan menggerakan roda ekonomi di daerah itu. 

Perjalanan yang menyenangkan di Kupang. Namun, ada satu keinginan yang belum kesampaian, yakni mendatangi Tugu HAM Kupang. Dari kabar yang aku dapatkan, Tugu HAM ini merupakan satu-satunya Tugu HAM yang ada di dunia. Tugu ini dibangun tahun 1942, sebelum negara ini ada, dan sebelum deklarasi HAM dibacakan. Keberadaan tugu HAM juga tidak banyak diketahui oleh masyarakat Kupang sendiri. Suatu saat, aku akan kembali ke Kupang untuk melihat sendiri Tugu HAM ini. 

Berakhirnya perjalanan kami di Kupang, menandakan pula berakhirnya rangkaian kegiatan kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Walau begitu, semangat anti kekerasan terhadap perempuan tidak boleh berakhir. Ini justru langkah awal dalam menciptakan kondisi yang kondusif bagi penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial