From Fear to Freedom

Diskusi dan Pemutaran Film "From Fear to Freedom"

 "Masalah kekerasan jika tidak ditangani akan menjadi lingkaran setan, menurun ke generasi-generasi berikutnya" ~ Sri Muliyati, Direktur Sapa Institute, Kabupaten Bandung. 

Kutipan di atas, disampaikan oleh Teh Sri Muliyati dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Atamerica, Selasa, 1 Desember yang lalu. 

Selain Teh Sri, hadir pula Kak Livia Iskandar dari Yayasan Pulih, Ibu Justina dari UN Women, dan Ibu Nina Nurmila dari Komnas Perempuan. Keempat narasumber memaparkan bagaimana kita semua harus mengambil bagian dalam menghapus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Kita lakukan bagian kita masing-masing dalam menghapus kekerasan terhadap perempuan. Kalau kita semua dengan keahlian masing-masing bergerak, niscaya akan tercipta kondisi yang kondusif bagi penghapusan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia.

Diskusinya ramai sekali, mayoritas dari Presiden university dan kampus Jayabaya. Aku ke sana bareng teman-teman muda Komnas Perempuan. Iyaa, kami muda, beda dan tentu saja bukanmaen! Ada aku, Novena, Winda, Intan, Estu dan Catherine. Di sini, kami ketemu sama kak Devi Asmarani dari The Magdalene juga loh. Oh ya, diskusi ini juga bagian dari kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang diperingati secara global, mulai dari 25 November sampai 10 Desember. 

muda, beda dan bukanmaen
Sebelum diskusi dimulai, peserta diajak untuk nonton film dokumenter yang berjudul, From Fear to Freedom. Film dokumenter ini memotret kekerasan terhadap perempuan di dunia. Film ini ingin bilang bahwa kekerasan terhadap perempuan itu terjadi bisa di mana saja, di agama apa saja, dan di kelas sosial apa pun di dunia. Kerentanan perempuan bertambah bila ada di daerah konflik, karena sering kali perkosaan dan kekerasan seksual lainnya dipakai sebagai senjata perang. 

Sayangnya film ini lumayan panjang, sehingga menyita waktu untuk diskusi. Padahal, aku pengen banget buat dengerin komentar dari teman-teman kampus ini, secara kita hebat karena diskusi! 

Sebelum pulang ke kos, mumpung di pacific place, ya nongkrong-nongkrong cakep duluu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

Apakah PR Harus Cakep?