Reuni, Mantan, dan Filsafat


Suasana Reuni Akbar Methodist Binjai, Foto oleh: Hendrik Emon

Awal bulan lalu, aku menghadiri Reuni Akbar Methodist Binjai 2015. Sekolahku baru kali ini mengadakan reuni. Tidak tanggung-tanggung, langsung 34 angkatan diundang. 34 angkatan itu mulai dari bapakku sampai adikku, tidak terbayang betapa ramainya reuni ini! Aku begitu antusias menanti reuni ini. Tiket pesawat yang mahal tidak jadi soal asal bisa mengenang memori lagi.

14 tahun lamanya aku sekolah di Perguruan Kristen Methodist Binjai, mulai dari TK sampai lulus SLTA.  Aku bersyukur karena disekolahkan di sana. Aku bersyukur karena aku diajar oleh guru-guru yang progresif walau ada juga beberapa yang sotoy. Aku pertama kali belajar di organisasi juga di sekolah ini. Di bangku SLTP, aku didaulat menjadi Ketua OSIS SLTP Methodist Binjai, begitu juga saat SLTA, aku kembali di daulat menjadi ketua OSIS SLTA Methodist Binjai.

Reuni Methodist Binjai diadakan di lapangan sekolah, tanggal 5 April 2015, bertepatan dengan perayaan Cheng Beng. Perayaan Cheng Beng adalah perayaan yang dijalankan oleh etnis Tionghoa, bentuknya adalah sembayang atau ziarah ke kuburan orang tua, kakek-nenek, dan leluhur. Di hari perayaan Cheng Beng,  banyak orang Tionghoa yang pulang ke kampung halaman untuk berziarah.  Sekilas info, sekolahku hampir 90 persen muridnya adalah etnis Tionghoa. Jadi, reuni ini sengaja diadakan bertepatan dengan hari Cheng Beng, agar banyak alumni yang pulang kampung, sekalian ziarah, sekalian reuni.  

Reuni secara etimologi, terdiri dari 2 kata, yakni re dan uni. Re artinya kembali, uni artinya kesatuan. Reuni bisa diartikan sebagai bersatu kembali. Menurut KBBI, Reuni artinya pertemuan kembali (bekas teman sekolah, kawan seperjuangan, dsb) setelah berpisah cukup lama.

Reuni sering membuat orang galau, secara bersatu kembali, semacam ketemu mantanlah. Reuni sering dilakukan dewasa ini. Biasanya dilakukan setelah 10 atau 20 tahun setelah lulus. Momen ini diharapkan mampu merajut kembali tali persahabatan yang pernah ada walau pada kenyataannya, reuni sering kali tidak ubahnya menjadi ajang pamer dan adu gengsi. Namanya juga manusia, selalu punya hasrat untuk terlihat unggul di komunitasnya.  

Biasanya, momen reuni selalu ditunggu-tunggu karena di saat reuni inilah, kita bisa kembali beromantika masa sekolah. Tidak ada yang lebih indah dibanding masa-masa sekolah, bukan? Ketemu kembali dengan guru-guru, kembali makan-makan di kantin, atau ketemu lagi dengan cinta lama.

Bicara soal cinta lama, selama sekolah, ada satu adik kelas yang aku taksir. Aku bukan orang yang mudah jatuh hati, jadi selama sekolah cuman satu yang aku taksir. Namun, sayangnya ia tidak menyambut itu sama sekali! Yasalam. Aku murid yang populer di sekolah, seorang ketua Osis, juara kelas sekaligus anak basket. Aku tumbuh menjadi murid laki-laki sesuai dengan kontruksi sosial tentang murid laki-laki yang “keren”. Banyak juga murid perempuan yang menyatakan perasaannya padaku, tapi kesemuanya tak ada yang aku tanggapi. Aku mencintai dia yang tidak mencintai balik dan aku dicintai si dia yang tidak aku cintai.

Setelah mengambil krusus Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, aku mengerti apa yang terjadi pada diriku di waktu sekolah dulu. Di salah satu malam, dosenku sedang membawakan materi tentang manusia dan Buddha. Beliau kemudian mengatakan begini:

 “Dukkha (penderitaan) adalah saat kamu mencintai orang yang tidak mencintai kamu dan saat kamu dicintai oleh orang tidak kamu cintai, Dukkha dimulai dari adanya keinginan, termasuk keinginan memiliki pacar”

Akar dari semua penderitaan di dunia ini adalah keinginan untuk memiliki. Memiliki membuat subjek menjadi terikat, tidak lagi bebas seperti hakikat dari manusia, yakni kehendak bebas. Kalau mau bahagia, kita harus melepaskan diri dari rasa ingin memiliki, seperti yang sang Buddha sering katakan, lepaskanlah keinginan duniawi agar mencapai kesempurnaan. Cinta pada hakikatnya adalah pembebasan, bukan penindasan atau keterikatan.

Lebih lanjut, sang Buddha mengatakan bahwa penderitaan dimulai dari ketergantungan subjek pada subjek lain yang tidak kekal. Kalau kamu punya kekasih, coba tanya ke dalam diri kamu sendiri, mengapa kamu bisa cinta dengan kekasih kamu itu. Apa karena dia tampan atau cantik, atau apakah karena dia kaya? Kelebihan fisik atau materi yang tidak kekal pasti akan menghasilkan dukkha. 

Kami kembali ke sekolah. Foto oleh Hendrik Emon

Kembali ke reuni sekolah. Teman seangkatanku yang datang tidak sebanyak yang aku bayangkan, tapi tidak mengapa juga sih. Walau sedikit yang penting ngumpul! Reuninya cukup asik yaa, ada upacara seremonial, berupa kata sambutan dan paduan suara menyanyikan Mars Methodist. Ada makan-makan gratis, dan ada lucky draw juga! Aku selama acara berlangsung, lebih banyak bagi-bagi kartu nama dan promoin Komnas Perempuan. #tetep

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial