Propaganda dalam Kasus Mary Jane

Yuniyanti Chuzaifah saat memaparkan temuan Komnas Perempuan terkait Mary Jane, sumber: Majalah Kartini

Topik apa yang akhir-akhir ini begitu sering dibicarakan? Tentu sudah pasti adalah Mary Jane! Jika kamu tidak tau siapa Mary Jane, sila googling dulu, baru lanjut baca tulisan ini.

Mary Jane adalah seorang buruh migran asal Filipina, korban perdagangan manusia yang divonis mati oleh Mahkamah Agung Indonesia karena membawa Heroin 2,6 kg. Kasus ini menjadi topik yang begitu sering dibicarakan setelah grasinya ditolak oleh Presiden Jokowi. Pasalnya, adalah temuan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) yang menemukan fakta bahwa Mary Jane, adalah korban perdagangan manusia, dan bukan bagian dari sindikat mafia narkoba! Tulisan ini tidak akan membahas soal temuan Komnas Perempuan tersebut secara rinci, sila baca sendiri temuan ini di sini.

Tulisan ini akan membahas maraknya propaganda yang muncul dalam pemberitaan kasus Mary Jane di media sosial. Propaganda merujuk pada Wikipedia*, berarti  rangkaian pesan yang bertujuan untuk mempengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sekelompok orang. Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk mempengaruhi pihak yang mendengar atau melihatnya. Propaganda seringkali menyesatkan di mana umumnya isi propaganda hanya menyampaikan fakta-fakta pilihan yang dapat menghasilkan pengaruh tertentu, atau lebih menghasilkan reaksi emosional daripada reaksi rasional. Tujuannya adalah untuk mengubah pikiran kognitif narasi subjek dalam kelompok sasaran untuk kepentingan tertentu. Propaganda adalah sebuah upaya disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan memengaruhi langsung perilaku agar memberikan respon sesuai yang dikehendaki pelaku propaganda.  Setidaknya ada beberapa teknik propaganda yang sering digunakan, antara lain: Stigmaisasi atau pemberian cap/label, mendikotomi pilihan, mengeneralisir, dan tebang pilih fakta. 

Kembali ke soal Mary Jane, berikut ini akan aku tunjukkan beberapa propaganda yang digulirkan untuk mempegaruhi pikiran khalayak. 

Akun @Kurawa menggulirkan serial twit tentang kasus Mary Jane, selengkapnya bisa cek di sini: 

  • Sdh banyak kurir2 wanita Indonesia yang dihukum mati oleh hakim.. lo googling aja nama2nya.. apa pembelaan "mereka"? Mukenye gak lugu sih
  • Nama2 kurir narkoba wanita indonesia gak ada yg pake Mary .. paling cuma eti, sutini .. makanya coba pake mary janiyem pasti beda perlakuan
  • Makanya gak heran kalo indonesia gampang dijajah asing.. rakyatnya masih banyak yg bela warga asing dibanding rakyatnya sendiri 😆
  • Kasihan yah jadi wanita Indonesia.. punya komnas perempuan yang dibiayai negara prioritas yg dibela malah warga asing 🙏🙏 *siapDibully
  • 4 Kurir wanita RI yg dihukum mati : Merri Utami (1,1 kg), Edith Yunita Sianturi (1,1 kg.), Meirika Pranola (6,5 kg), Rani Andriani (3,5 kg)
  • Twit Pembelaannya abis ini : Kami juga tolak hukuman mati bagi wanita kurir narkoba asal indonesia tapi CUKUP DALAM HATI aja 😂😂



Serial tweets itu jelas-jelas propaganda. Ada beberapa hal yang harus dikritisi:
  1. Si kurawa ini entah enggak tau atau pura-pura enggak tau berapa banyak sudah Komnas Perempuan bersuara untuk perempuan-perempuan Indonesia yang mengalami kekerasan, baik itu kekerasan dalam lingkup domestik, komunitas maupun kekerasan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum, baik itu di dalam maupun luar negeri. Komnas Perempuan bahkan memiliki Gugus Kerja Pekerja Migran!
  2. Mungkin juga kurawa ini tidak baca juga pernyataan sikap Komnas Perempuan terkait Mary Jane ini. Penyelamatan Mary Jane justru merupakan pintu masuk menyelamatkan buruh migran Indonesia yang juga terancam hukuman mati di luar negeri. Kalau Mary Jane dieksekusi, trus landasan apa lagi yang dimiliki oleh Pemerintah Indonesia mendesak negara-negara lain untuk mengampuni buruh migran kita?
  3. Mary Jane merupakan potret buruh migran seluruh dunia. Ia perempuan yang lahir dan tumbuh di jeratan kemiskinan. Terpaksa menikah muda, menjadi korban KDRT, dan orang tua tunggal bagi kedua anaknya. Akhirnya menjadi buruh migran di luar negeri. Di luar negeri tidak ada perlindungan yang memadai sehingga ia rentan menjadi korban perdagangan manusia. 
  4. Fakta yang ditampilkan hanya daftar buruh migran kita yang dieksekusi mati karena dijebak sebagai kurir narkoba. Ia tidak menampilkan fakta pembelaan Komnas Perempuan terhadap mereka. Akun Kurawa sangat lihai melihat potret netizen Indonesia yang umumnya (mohon maaf) sangat jarang membaca. Seruannya untuk mengajak netizen googling tidak lebih dari gertakan saja karena toh tidak akan ada yang googling juga suara Komnas Perempuan terkait buruh migran kita. 
  5. Akun @Kurawa tidak menampilkan fakta secara berimbang, Ia memilah-milah fakta yang hendak digulirkan untuk mempengaruhi kognisi netizen 

Jelas akun @Kurawa ini menggunakan teknik propaganda. Propaganda lain adalah pendapat Grafolog Deborah Dewi, yang meluncurkan tweet:



  • Sy berani taruhan pensiun jd Grafolog. Kl #MaryJane dibebasin, slm tulisan tangannya msh begitu, dia bisa 10x lipat lbh gila pergerakannya


Aku tidak mendebat tentang hasil tulisan tangan Mary Jane karena aku tahu aku tidak punya keahlian untuk itu. Yang aku sayangkan adalah tweet di atas diluncurkan tanpa penjelasan lebih lanjut. Apa yang didefiniskan sebagai "10 kali lipat lebih gila pergerakannya" sangatlah multi tafsir. Kalau mau analisa, ya sekalian yang lengkap, jangan fakta dipilah-pilah.

Satu lagi yang paling ngeselin adalah banyak sekali tweet yang mendikotomi kasus mary jane, contohnya Eksekusi mati Mary Jane = Berantas Narkoba, atau sebaliknya Menolak Hukuman Mati = Setuju Narkoba. Ini sesat pikir namanya. Menolak Hukuman Mati bukan berarti setuju peredaran narkoba!

Ada lagi dikotomi berikutnya: Eksekusi mati Mary Jane = Menyelesaikan peredaran narkoba. Ini juga cara berpikir yang salah. Eksekusi mati Mary Jane itu menutup akses informasi bagi negara untuk mengungkap sindikat mafia narkoba yang lebih besar. Eksekusi ini justru menyelematkan gembong-gembong narkoba yang sesungguhnya, Jadi kita harusnya curiga jangan-jangan mereka yang ingin Mary Jane dieksekusi adalah mereka yang ingin menutupi kasus ini.

Dikotomi ini menurutku sangat jahat karena ia menempatkan kita semua pada hanya dua pilihan, hitam atau putih, padahal di dunia ini tidak ada yang hitam dan putih, semuanya gradasi, ada banyak pilihan antara yang hitam dan yang putih.

Media sosial sebagai ruang publik harusnya diisi oleh debat atau diskursus masyarakat literasi. Masyarakat literasi inilah dasar utama ruang publik yang sehat, seperti yang digambarkan oleh Jurgen Habermas. Kalau malas baca, trus apa yang mau didiskusikan?

Ada sebuah tuit sayang sudah dihapus sama pemiliknya. Ia tidak setuju dengan pendapat Komnas Perempuan yang menolak hukuman mati. Ia menuduh Komnas Perempuan setuju dengan peredaran narkoba. Lalu ia pun diminta untuk baca pernyataan sikap Komnas Perempuan, eh dia malah balas, "saya enggak mau baca, enggak mau jadi bego". Lah, baca aja enggak mau, trus mau diskusi apaa?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial