Cerita dari Sumatera: Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan
Halo semua!


Setiap tahunnya, mulai tanggal 25 November sampai 10 Desember, Komnas Perempuan bersama-sama seluruh elemen masyarakat sipil melakukan kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16HAKTP). Kampanye ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan isu-isu Kekerasan terhadap Perempuan. Kekerasan terhadap Perempuan selama ini dianggap sebagai isu dia, bukan isu kita bersama! 

Tahun 2014 ini adalah tahun keempat keterlibatan aku dalam kampanye ini. Perkenalan aku pertama kali dengan Komnas Perempuan pun terjadi karena kampanye ini. Di tahun 2011, aku menghadiri sebuah seminar di kampus Atma Jaya tentang pornografi di dunia internet dan anak. Ternyata seminar itu adalah bagian dari kampanye 16 HAKTP. Tahun 2012, aku bersama teman-teman BEM FIKom Untar menginisiasi sebuah seminar bertemakan perkawinan Jurnalisme dengan Feminisme. Pembicara utama adalah Ibu Uni Lubis. Tahun 2013, aku sudah menjadi relawan Komnas Perempuan yang ditempatkan di Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK) yang juga menginisiasi kegiatan Dengar Kesaksian sebagai bagian dari kampanye anti Kekerasan terhadap Perempuan. Selain itu, aku dan teman-teman relawan lainnya juga aktif terlibat dalam peluncuran website pengaduan kekerasan seksual di Balai Agung. Nah, di tahun 2014 ini, aku larut dalam kampanye ini sebagai badan pekerja. 

Aku mendapat kesempatan untuk hadir dalam kampanye 16 HAKTP di Palembang dan Padang. Di Palembang, kampanye 16 HAKTP ini diinisiasi oleh teman-teman Women's Crisis Centre (WCC) Palembang, sedangkan di Padang oleh WCC Nurani Perempuan, dan ini dia ceritanya.

di WCC Palembang
Palembang, 27-28 November 2014!
Kampanye 16 HAKTP di Palembang sangat menarik bentuknya. WCC Palembang menyelenggarakan sebuah dialog publik yang menghadirkan begitu banyak pihak dengan begitu banyak perspektif. Bentuknya sengaja dirancang dialog, bukan seminar. Semua yang hadir adalah pembicara sekaligus pendengar. Ragam-ragam perspektif membuat jalannya dialog begitu menarik untuk diikuti.

Dialog Publik Kekerasan Seksual: Kenali dan Tangani
Ada Bapak polisi yang sibuk membantah tentang tes perawan, ada pula seorang Ibu dari PKS yang mengamini Qanun Jinayat dan bangga terhadap 2 anak perempuannya yang sudah disunat. ALAMAK! Ada lagi seorang Ibu Pejabat daerah yang memiliki lembaga Rumah Ibu, tempat pemberdayaan perempuan. Banyak pula teman-teman organisasi ekstra kampus yang sangat antusias tentang isu-isu Kekerasan Seksual.
 
Sehabis dialog, kami ke Kantor WCC Palembang utk bertemu dengan teman-teman mitra guna meminta input tentang kendala-kendala penghapusan kekerasan terhadap perempuan di Palembang. Ada banyak hal yang harus menjadi perhatian, utamanya adalah perspektif Aparat Penegak Hukum yang masih konsevatif, kinerja Rumah Sakit yang lama dan tidak responsif terhadap korban, dan paradigma masyarakat tentang moralitas yang juga masih belum sensitif terhadap korban.
 
konsolidasi di kantor WCC Palembang

dari Palembang, kita lanjut ke Padang. 

Padang, 2-5 Desember 2014!
Ranah Minang di pesisir barat pulau Sumatera sejak dahulu tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa ini, termasuk di dalamnya perjuangan perempuan. Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) pun tak bisa dinafikan dari Ranah Minang.

Adalah Nurani Perempuan Women's Crisis Centre (WCC) yang awal-awal ikut mengkampanyekan kampanye 16 HAKTP sebagai bagian dari upaya menciptakan kondisi yang kondusif bagi penghapusan kekerasan terhadap perempuan sejak tahun 2001.
di kantor WCC Nurani Perempuan
Di tahun 2014 ini, Nurani Perempuan WCC kembali menginisiasi kampanye 16 HAKTP, ada banyak agenda Rancak Bana yang mereka laksanakan. Aku, kakak Rika serta Ibu Kunthi dan Ibu Ninik berkesempatan untuk mengisi beberapa kegiatan tsb.
 
3 Desember 2014, pagi hari, Nurani Perempuan WCC bersama DIT BINMAS Polda Sumbar menginisiasi sebuah lokakarya yang dihelat di gedung Rangkayo Basa, kota Padang. Hadir para Aparat Penegak Hukum Kota Padang, Tokoh Adat, Tokoh Agama, dan lain-lain. Lokakarya berlangsung menarik, para APH diminta untuk menyebutkan jenis-jenis Kekerasan Seksual yang mereka ketahui dan bagaimana mekanisme penanganannya, sebelum Ibu Kunthi dan para narasumber lainnya memberikan pandangannya mengenai kekerasan seksual.
Semoga jadi Aparat Penegak Hukum yang sensitif korban
Sore hari di tanggal yang sama, Ibu Kunthi mengisi sebuah talk show di radio lokal. Malam harinya, aku berbagi pengalaman dengan teman-teman Nurani Perempuan mengenai pengoptimalan penggunaan Media Sosial sebagai bagian dari kampanye dan advokasi.

4 Desember 2014, pagi hari, Nurani Perempuan WCC mengadakan dialog publik di kampus STKIP PGRI Sumbar. Hadir sekitar 200 civitas akademika. Suasana dialog sangat seru, banyak insiatif muncul dari teman-teman mahasiswa tentang lembaga konseling di kampus sebagai pertolongan pertama. Inisiatif semacam ini juga sedang dibangun di kampus UI dan beberapa kampus lainnya. Aku juga berkesempatan untuk bercerita tentang Kekerasan dalam Pacaran yang marak terjadi di dunia kampus.
Katakan TIDAK pada Kekerasan Seksual
Sore hari masih di tanggal yang sama, kami lanjutkan dengan pertemuan konsolidasi dengan teman-teman media di kantor Harian Rakyat Sumbar. Jaringan jurnalis di kota Padang punya diskusi rutin setiap hari Jumat sore, 2 minggu sekali. Namun, berkat lobby-lobby dari Uni Yefri, akhirnya diskusi ini bisa digeser menjadi kamis sore dengan tema kekerasan seksual. Dari diskusi yang aku tangkap, bahwa teman-teman media di kota Padang sangat berjejaring dengan teman-teman LSM. Walau begitu, kemitraan ini tentu perlu ditingkatkan.

Forum diskusi rutin jurnalis di Kota Padang
Malam harinya, aku menulis cerita ini dari kantor Nurani Perempuan, sebuah kantor sederhana (baca: sangat sederhana). Aku menginap di sini. Di kota Padang, Nurani Perempuan merupakan satu-satunya WCC yang ada. Anggota mereka hanya 7 orang, itu pun sebagian besar, bekerja dengan bermodal semangat kerelawanan alias tidak dibayar. Aihh, memang benarlah kata orang-orang, tempat belajar semangat kerelawanan tidak bukan adalah di WCC!

Uni Yefri
Aku jadi teringat bulan Maret lalu, saat itu aku masih mengurusi kampanye JITU. Nurani Perempuan salah satu yang terlibat dalam kampanye ini. Aku pernah mengirim email ke mereka tengah malam, dan langsung dibalas. Aku pun bertanya ke mereka, kenapa mereka belum tidur padahal sudah tengah malam. Uni Yefri hanya bilang, waktu yang paling pas untuk balas email adalah di tengah malam. Hanya di tengah malam, kita bisa duduk tertib di depan laptop karena seharian lari sana sini. Dan aku malam ini melihat dengan sendiri Uni Yefri dan kawan-kawan baru bisa duduk tenang di depan laptop.

Sungguh senang bisa belajar banyak dari teman-teman WCC di Sumatera! Mari bersiap, hari minggu akan terbang lagi ke Palu utk kampanye ini. Tunggu yaa ceritanyaa!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial