Kekerasan Seksual dan Harapan

cek kemanusiaan kita!
Hari ini, 31 Desember, yang artinya sebentar lagi kita akan menutup lembaran tahun 2014 dan bersiap membuka lembar baru tahun 2015. Sesuatu yang baru, biasanya selalu direkatkan dengan harapan, begitu pula dengan tahun baru kali ini. Banyak di antara kita yang tentu saja aku yakin, sudah mengambil ancang-ancang untuk mewujudkan harapan baru di tahun baru. 

Di 2014, aku mengambil satu keputusan penting yang mengubah hidupku, yakni bergabung dengan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan alias Komnas Perempuan. Aku bergabung secara resmi dengan Lembaga HAM Nasional ini tepat satu minggu sebelum ulang tahunku yang ke-22. Aku menandatangani surat perjanjian kerja, 17 Februari 2014, dan mulai hari itu hidupku berubah. Banyak pengalaman-pengalaman yang begitu membekas di hati dan pikiran. Walau kadang-kadang sampai susah tidur gara-gara memikirkan itu, tapi aku menikmati setiap harinya di sini. 

Menjadi bagian dari Keluarga Besar Komnas Perempuan menempah diriku menjadi pribadi yang lebih sensitif terhadap ketidakadilan-ketidakadilan yang ada di dunia ini: bahwa hidup tidak seindah yang anak SMA gambarkan. Aku banyak belajar di lembaga ini, utamanya tentang isu-isu baru, misalnya kebijakan diskriminatif, kekerasan terhadap perempuan berbasis budaya, dan macem-macem. 

Dan menyambut tahun baru 2015 ini, tentu aku juga punya harapan. Harapannya sederhana saja, tidak muluk-muluk seperti tahun-tahun sebelumnya. Di tahun 2015 ini, aku hanya ingin menjadi lebih berarti bagi orang lain, utamanya dalam upaya menciptakan kondisi yang kondusif bagi penghapusan kekerasan terhadap perempuan, demi adik-adikku, demi ibuku, dan demi seluruh umat manusia yang lebih adil agar dapat hidup tanpa rasa takut dan terdiskriminasi.

Oh ya, kata orang, tidak lengkap rasanya melewati tahun tanpa instropeksi diri. Nah, karena itu, aku ingin ajak kamu semua untuk cek rasa kemanusiaan kita. Saat Dollar naik jadi 12 ribu, banyak orang berkomentar seolah langit akan runtuh dan bumi akan kiamat, tetapi saat fakta menunjukkan ada 12 perempuan Indonesia yang diperkosa setiap harinya, kenapa kita diam saja? Ayo lakukan sesuatu, sekecil apa pun itu, untuk hentikan kekerasan seksual!

Jadi ingat kata seorang teman, "Menghentikan kasus kekerasan seksual di Indonesia ibarat membersihkan lapangan tenis dengan sikat gigi, rasanya susah sekali dan hampir tidak mungkin. Tapi apabila, kita semua bersama-sama membersihkan lapangan tenis itu dengan sikat gigi kita masing-masing, niscaya lapangan tenis itu akan bersih!'

Komentar

  1. yah... pendek amat tulisannya bro. diperpanjang lagi dong soal pengalaman2 selama jd bagian komnas perempuan :p

    btw menarik faktanya. serem :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahh, ketahuan nih tidak baca blog2 aku. Pengalaman2 yang lain ada di tulisan yang lain dong, hehee ....

      Hapus
  2. ida rahayu murtopowati3 Januari 2015 18.46

    Tlng bantu saya,saya bth bantuan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pembelaan Untuk Dian Sastro

Berkenalan Dengan Nyonya Auw Tjoei Lan, Sang Kartini Tionghoa

#Digital4Humanity: Mengkomunikasikan Isu Kemanusiaan Melalui Media Sosial